
"Mana sini, tunjukkan lehermu!" perintah Elyaz yang dengan santainya sudah duduk di tepi ranjang Alamanda.
Dengan langkah kaki yang ragu, Alamanda pun segera mendekat dan duduk tepat di samping Elyaz. "M-mau apa, Kak?" gagapnya.
Elyaz tidak menjawab. Dia hanya menyibakkan rambut panjang Alamanda, hingga leher jenjang dengan tanda merah itu terlihat sempurna. Kemudian, dia mulai memasangkan plester luka untuk menutupi tanda kepemilikan tersebut.
"Nah, sudah selesai," ucap Elyaz.
Alamanda meraba lehernya, lalu bergegas ke depan cermin dan mulai memeriksa bagian yang diberi plester luka tersebut. "Sudah tidak terlihat," gumamnya sambil tersenyum.
Masih dari tepi ranjang, Elyaz menatap Alamanda dengan mata temaram. Seperti ada sesuatu yang lebih mendesak dan ingin dituntaskan. Jiwa kelelakiannya kembali meronta-ronta, walau sekuat tenaga ditahannya.
"Kakak, kenapa Kakak mengunci pintu?" tanya Alamanda sambil melangkah perlahan.
"Suttt! Aku hanya berjaga-jaga. Kalau ibu memeriksaku, lalu tahu pintuku dikunci, dia akan mengira aku tidur di dalam. Begitu juga kalau dia memeriksamu," terang Elyaz.
"Hmmm! Sekarang 'kan sudah selesai, jadi sana Kakak pindah ke kamar Kakak. Aku tidak bisa tidur nanti, kalau Kakak ada di sini," pinta Alamanda.
__ADS_1
"Kamu mengusirku?"
"T-tidak, bukan begitu, Kak," kilah Alamanda.
"Lalu?" Elyaz menarik tangan Alamanda sedikit keras, hingga tubuh Alamanda roboh di atas tubuh Elyaz.
"Kakak, kita tidak boleh begini!" pekik Alamanda yang terpikir ketidakpantasan dalam melakukan kegiatan itu.
Seketika Elyaz berhenti, dan tanpa bicara sepatah kata pun dia langsung pergi ke luar. Meninggalkan Alamanda dalam kebingungan. Sekali lagi, Elyaz bersikap aneh. Dan itu membuat Alamanda kembali bertanya-tanya.
BRUG!
Ternyata, kegelisahan yang ditunjukkan oleh Alamanda baru saja, membuat Elyaz tersinggung. Sungguh, dia adalah pecinta yang posesif dan sangat sensitif. Dia tidak bisa terima karena dibegitukan. Padahal, Alamanda ada benarnya juga. Wajar saja jika ada kecemasan yang bersemayam di hati Alamanda. Sebab, Elyaz dan dirinya memang bukan pasangan sah.
"Aku tidak suka melihat kecemasan di matanya. Aku tidak suka mendengar kata-kata yang menunjukkan ketakutan dari mulutnya. Kenapa dia tidak mengerti juga?" oceh Elyaz dengan gerakan mondar mandir tidak beraturan.
Hingga malam semakin larut, Elyaz masih bergelut dengan kekesalannya. Lain halnya dengan Alamanda, yang justru tertidur dalam isak tangisnya. Dia merasa dipermainkan oleh Elyaz.
__ADS_1
****
Keesokan pagi di hari minggu. Ya, tentu saja hari di mana semua orang libur, baik sekolah ataupun bekerja. Kania memanggil Elyaz dan Alamanda untuk sarapan, tapi tidak satu pun di antara keduanya membukakan pintu. Kania pun memaklumi saja. Dia pikir, tidak ada salahnya jika kedua nakanya itu bangun terlambat, khusus di hari libur saja.
"Loh, mana mereka, Bu? Kenapa tidak ada yang terlihat?" tanya Emir yang sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
"Sepertiny mereka masih tidur, Yah. Sudah, biarkan saja sekali seminggu mereka menikmati waktu liburnya," jawab Kania.
"Baiklah, ayo kita makan duluan saja," ajak Emir. Keduanya pun sarapan tanpa Elyaz dan Alamanda.
Di dalam kamarnya, Alamanda ternyata sudah bangun. Dia hanya tidak mau bicara dan bertemu siapa pun. Sikap Elyaz yang mudah berubah membuatnya menangis setiap kali dia ingat, hingga kedua matanya sembab.
"Apa salahku? Kenapa setiap kali Kak El bersikap aneh begitu, dadaku selalu terasa ngilu? Perasaan ini sangat tidak nyaman. Apa Kak El menginginkan aku terpuruk seperti ini?" gumam Alamanda dalam tangisnya.
Bersambung ....
Jangan lupa baca karya teman othor, Kak Rini Sya. Dijamin seru dan keren. ❤🖤👇
__ADS_1