
Seisi ruangan hening seketika. Hanya napas tersengal yang diiringi rintih kesakitan dari Alamanda yang terdengar perlahan. Namun, setelah beberapa saat segalanya telah berubah.
Elyaz tersenyum melihat Alamanda yang mulai terbiasa. Tampak dia membuat gerakan yang menyebabkan suara-suara racauan semakin gencar keluar dari mulut Alamanda. Mereka telah melanggar semua batasan.
****
Matahari mulai meninggi, condong ke barat dan semakin terik. Kania dan Bi Nari telah pulang dari membeli kebutuhan rumah. Sementara itu, dua sejoli yang baru saja melakukan ritual pembebasan hasrat, kini telah berada di ruang kamar masing-masing.
"Manda! El! Makan dulu, Nak." Kania menyeru keduanya dari bawah tangga.
"Akhh, ini rasanya ngilu," ringis Alamanda menahan nyeri di bagian inti tubuhnya.
Dia hendak melangkah, namun atensinya teralihkan pada seprai yang terdapat darah kegadisannya."Oh, tidak! Bagaimana jika Ibu tahu? Bisa mampus aku," gumamnya.
Dengan segera, Gadis itu pun bersiap mengambil seprai baru untuk mengganti seprai yang terdapat darah sakralnya tersebut. Rasa ngilu di inti tubuhnya yang masih mendera, sesaat harus dia lupakan. Sugguh, dia teramat takut akan ketahuan oleh ibu dan ayah angkatnya.
"Bi Nari!" Kania yang tidak mendapat respon dari keduanya pun memanggil sang asisten rumah tangga.
"Iya, Bu." Dengan cekatan Bi Nari langsung menghadap pada Kania.
"Tolong panggilkan anak-anak di atas, Bi. Sejak tadi saya panggil, tapi tidak ada yang menyahut."
"Baik, Bu." Bi Nari menaiki anak tangga untuk menunaikan perintah Kania.
Tok! Tok! Tok!
Bi Nari mengetuk pintu kamar Alamanda sembari menyeru namanya, "Non Manda ...."
__ADS_1
"Duh, gawat. Bagaimana ini?" Alamanda panik bukan kepalang, karena dia belum selesai memasang seprainya.
Di sisi lain, Elyaz justru keluar lebih dulu sebelum dipanggil oleh Bi Nari. "Ada apa, Bi?" uapnya dengan tangan yang masih memegangi handle pintu.
"Ini, Den, Bibi disuruh manggil Non Manda sama Den Elyaz sama Ibu, tapi Non Manda belum buka pintunya juga."
Elyaz mengerutkan dahinya seraya berpikir. "Ya sudah, Bi Nari turun saja dulu. Biar saya yang panggilkan Manda."
"Baik, Den." Wanita paruh baya itu setuju pada Elyaz tanpa rasa curiga.
"Manda!" seru Elyaz dengan suara yang agak berat.
"Kak El ...." Alamanda berjalan ke pintu sambil meringis.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Elyaz usai Alamanda membuka pintunya.
Elyaz langsung masuk dan menutup pintunya. "Apa itu sangat sakit?" lanjutnya.
Gadis itu mengangguk, "Iya, Kak," jawabnya.
Elyaz merasa tidak tega. Dia pun memeluk Alamanda dengan penuh perasaan. Namun, tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada seprai yang berantakan.
"Kenapa itu, Sayang?"
"Oh, itu, Kak ...." Alamanda menunduk dan merasa ragu.
"Apa? Katakan saja padaku!"
__ADS_1
"Aku ingin mengganti seprainya, karena di seprai yang sebelumnya terdapat darah." Suara itu sangat pelan.
"Baiklah, biar aku yang menggantinya." Elyaz sangat paham, lalu dia pun langsung meneruskan pekerjaan Alamanda untuk menggantikan seprainya tanpa menunda.
Beberapa menit kemudian, seprai sudah terpasang dengan rapi. Alamanda tersenyum lemah, lalu mendekat ke arah Elyaz. Dia menjadi sangat canggung dan kaku kala itu. Entah mengapa, rasanya seperti sangat malu.
"Ada yang ingin kamu katakan, Manda? Mengapa kamu jadi pendiam?" ujar Elyaz penasaran.
"Bagaimana aku mengatakannya?" gumam Alamanda.
"Sayang, tenanglah. Katakan saja, apa yang kamu rasakan, hum?" Elyaz membujuk Sang Pujaan sembari menggenggam kedua tangan Alamanda.
"Rasanya masih sakit saat dibawa berjalan, bagaimana kalau Ibu atau Ayah curiga?"
Elyaz menunduk dalam-dalam. Sungguh, dalam batinnya dia sangat ingin diketahui orang tuanya, agar mereka dinikahkan saja dan tidak perlu dipisahkan. Berpisah dari Alamanda sama halnya dengan menjalani siksaan bagi Elyaz.
"Kakak, kenapa diam saja?" protes Alamanda.
"Tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir." Dia menyibak rambut Alamanda yang menjuntai menghalangi wajah cantiknya.
Namun, tanpa mereka duga, Kania yang sudah menunggu sedari tadi di bawah rupanya tidak sabar dan penasaran pada apa yang sedang dilakukan kedua anak muda itu, samai belum turun juga. Dan lagi-lagi dia dibuat terkejut saat membuka kamar Alamanda dan mendapati Elyaz yang sedang memeluk Gadis tersebut dengan mesra di kamarnya. Napas Kania mendadak berat, sedikit agak sesak.
"Kalian ini benar-benar!" katanya sembari gemeratak geram. Tampak kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat.
"Elyaz! Manda!" Kali ini Kania berteriak dengan suara nyaring melengking.
Dua sejoli itu langsung terperanjat kaget dan saling melepaskan pelukannya satu sama lain. "Ibu!" kata keduanya secara bersamaan.
__ADS_1
Bersambung ....