
Sekian hari berlalu, Elyaz belum juga mendapatkan pekerjaan. Sementara, bekal yang dia punya sudah semakin menipis. Malam ini dia datang ke kontrakan Alamanda untuk mengantar makanan. Sembari meredakan sesaknya dada dari rasa rindu yang membelenggu.
"Kakak," sapa Alamanda manakala dia membuka pintu.
Elyaz tersenyum dan melangkah masuk. "Sudah mandi?" lontar Elyaz.
"Sudah, Kak."
Elyaz memberikan makanan yang dia beli untuk mereka nikmati berdua. Alamanda pun menerimanya dengan segera. Gadis itu sangat antusias membuka bungkus makanannya.
"Kamu sudah lapar, ya?" Elyaz membaca gelagat Alamanda.
"Iya, Kak. Aku sudah sangat lapar. Ayo kita makan, Kak!" tukasnya sembari memberikan makanan yang menjadi jatah Elyaz.
"Maafkan aku, Manda. Aku sudah menyiksa perutmu dengan rasa lapar, karena belum bisa menyediakan stok makanan di ruangan kecil yang jadi tempat tinggalmu ini." Elyaz meneguk kasar salivanya seraya meratap dalam batin.
"Kakak, ayo dimakan. Memangnya Kakak tidak lapar?" ujar Alamana dengan mulut yang penuh oleh makanan.
"Ahh, iya ... ayo makan." Elyaz mulai menyuapkan makanan ke mulutnya, meski matanya tak lepas dari memperhatikan Alamanda.
__ADS_1
Detik berikutnya, mereka pun telah selesai melakukan santap malam yang seadanya itu. Kini keduanya asyik berbincang membahas hal apa saja. Aktifitas itu lumayan bisa memberikan sedikit lega pada Elyaz.
"Manda, apa aku telah mempersulit hidupmu, Sayang?"
Senyum tipis tersungging di bibir ranum Alamanda. "Aku sudah terlatih menghadapi kesengsaraan sejak aku kecil, Kak. Kalau hanya hal semacam ini saja tidak berarti apa-apa bagiku. Aku hanya takut orang tua kita kecewa."
Mata Elyaz memejam, mengerjap tidak beraturan ketika mendengar jawaban Alamanda. "Aku mengerti apa yang kamu cemaskan, Manda. Maaf kalau aku sudah egois, tetapi untuk memendam perasaan yang terlanjur tumbuh dengan subur ini, aku tidak akan pernah mampu lagi."
"Tak apa, Kak. Manda yakin Kakak adalah orang yang hebat. Bukankah aku tidak perlu meragukan Kakak? Aku akan percayakan saja semuanya padamu, Kak."
Sontak saja air mata haru mengalir dengan derasnya dari kedua mata Elyaz. "Terma kasih, Sayangku."
"Aku ingin bersamamu selamanya, Manda." Apa saja diungkapkan Elyaz pada Alamanda sambil terus saling berdekapan.
Alamanda mendongak ke atas dengan tatapan sendu. Elyaz menyambutnya dengan kecupan lembut di kening, mata, hingga berakhir dengan paguttan mesra di bibirnya. Keduanya mulai saling berbalasan. Menciptakan cumbu yang lebih jauh dan dalam.
Tak terasa, pakaian bagian atas mereka kini tertanggal dan teronggok di lantai. Alamanda mulai pasrah dan hanya bisa melenguuh merasakan kenikmatan saat digeluti sapuan lidah oleh Elyaz, di beberapa bagian sensitifnya. Termasuk meneguk madu dari pucuk gunung keabadian milik Alamanda.
"Kamu sangat manis, Sayang," bisik Elyaz membuat Alamanda semakin meracau tidak karuan.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba saja kesadaran Alamanda kembali. Dia langsung bangkit dan meminta Elyaz berhenti. "Cukup, Kakak! Aku tidak ingin kita kebablasan," ungkapnya seraya menutupi bagian dada dengan kedua tangannya.
"Hmmm." Hanya itu yang terdengar dari mulut Elyaz.
Keheningan sesaat merajai ruangan. Entah siapa dulu yang memulai. Akan tetapi, pagelaran penuh dekap dan cium itu kini kembali terjadi. Mereka saling berbagi cumbu. Meski lagi-lagi, tidak sampai ke titik yang itu.
"Manda, aku akan menikahimu dengan segera." Elyaz mengatakannya dengan deru napas yang begitu memburu diliputi hasrat yang kian memanas.
Alamanda masih jauh dari kesadarannya. Yang dilakukan Elyaz terhadapnya terlanjur jauh menerbangkan sukma dan angan-angannya. Dia hanya tampak mengedip pelan-pelan sambil sesekali memejam dengan napas terengah-engah.
Sebagai lelaki normal, Elyaz tidak bisa menyangkal bahwa hasrat kelelakiannya kini sudah di ujung dan menuntut untuk dituntaskan. "Sayang, aku tidak tahan lagi," ungkapnya dengan mata yang redup mendamba sentuhan.
"Apa yang harus aku lakukan, Kak?"
"Bolehkah aku melakukannya sekarang saja?"
"Jangan bercanda, Kak. Aku takut untuk melakukan yang lebih jauh ke sana."
Bersambung ....
__ADS_1