Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 19 Lupakan Perasaanmu Padanya


__ADS_3

Tanpa sadar perdebatan mereka semakin gaduh. Suaranya terdengar samar ke ruangan di mana Kania berada. Wanita dewasa itu pun lantas menghampiri sumber suara yang berasal dari kamar Alamanda tersebut.


Sesampainya di depan kamar, Kania menempelkan telinganya di daun pintu. Dia menguping perdebatan di antara anak kandung dan anak asuhnya. Dan betapa kaget rasa hati Kania saat dia mendengar ....


"Aku bosan Kakak curigai, bahkan Kakak selalu saja cemburu pada teman-teman priaku." Alamanda mulai merasa jengah dan mengungkit sikap Elyaz yang sudah-sudah.


"Hey, Manda. Apa kamu mendendam padaku? Saat ini aku tidak sedang membahas perihal yang lain. Aku hanya bertanya, apa kamu menyesal menghabiskan waktu bersamaku?" Elyaz mencoba memberi pemahaman pada pikiran Alamanda yang rumit.


Di luar sana, tiba-tiba saja tubuh Kania menjadi lemas seluruhnya. Semua percakapan yang dia rekam lewat pendengaran dan memorinya itu membuat dia begitu terkejut dan nyaris tidak percaya.


"Ibu!" Terdengar suara Emir yang baru pulang dari bekerja terperangah melihat Kania lunglai di luar kamar Alamanda.


Di dalam kamar itu, Alamanda dan Elyaz terdiam seribu bahasa, kala mendengar suara yang tidak asing yaitu suara Emir. Wajah keduanya memerah. Mereka tidak dapat mngelak lagi.


"Bu, ada apa ini? Kenapa kamu di sini?"


"Anak-anak, Yah." Hanya itu yang ke luar dari mulut Kania.


Raut wajah Emir langsung berubah. Firasatnya langsung mengarh ke sana. Ada api yang menyala pada sorot matanya. Kedua tangannya dikepalkan kuat-kuat.


BRAKKK!


Pintu kamar Alamanda Emir dobrak. Tanpa ketukkan terlebih dahulu. Dan dia berhasil membut dua sejoli itu gemetar melihat rahang tegas itu menunjukkan ketidaksenangannya.


"Ayah ...," lirih keduanya.

__ADS_1


Tangan Emir tak bisa diam lagi. Dia memberi hadiah di wajah Elyaz dan Alamanda berupa sebuah tamparran. "Tidak tahu diutung kalian!" hardiknya dengan gigi gemeratak.


Untuk kedua kalianya Emir akan melayangkan tangannya pada wajah Alamanda. Namun, Elyaz mencegah dan menghalanginya. Hingga yang terkena amukkan tangan Emir adalah dirinya lagi.


"Cukup, Yah. Manda tidak salah, ini semua salahnya El," akuinya penuh kepasrahan.


"Apa kurang kami mendidikmu, El? Apa kurang Ayah dan Ibu memberikan kasih sayang padamu, huh?" bentak Emir dengan giginya yang masih saja bergemeratak.


"Ayah, sudah ...." Kania coba membujuk Emir dengan memeluknya agar amarah Lelaki itu reda.


Tampak Elyaz dan Alamanda hanya menunduk dalam-dalam. Mungkin mereka merasa bersalah. Tapi, untuk sebuah penyesalan karena saling mencintai, itu tidak ada. Hati mereka seolah sepakat untuk saling menjaga.


Kemarahan Emir semakin memuncak manakala melihat tautan tangan Elyaz dan Alamanda justru semakin erat. Seakan saling memberi kekuatan. Dua sejoli itu terutama Elyaz, sudah merasa kepalang tanggung dan tidak mau lagi menutupi semuanya.


Tentu saja Emir semakin geram menyaksikan semua itu. Syukurlah, ada Kania yang sekuat tenaga menenangkannya. Kania juga meminta pada Emir agar dia meninggalkan kamar itu. Biar dirinya saja selanjutnya yang bicara pada dua anak manusia yang tengah dilanda asmara buta tersebut.


Hening sesaat merajai ruangan itu. Kemudian, Kania mulai membuka percakapan. "Nak, apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian?" Suara itu begitu lembut.


Alamanda menatap Elyaz sambil bercucuran air mata. Nanarnya memberi isyarat bahwa dirinya sedang sangat bingung dan ketakutan. Elyaz menggelengkan kepalanya, menyampaikan maksud agar Alamanda tidak perlu khawatir.


"Bu, El minta maaf. Kalau sesuatu terjadi di anatara kami, itu semua murni kesalahan El. Tapi, Bu .... El sangat mencintai Manda. Bukan sebagai kakak lagi, melainkan sebagai seorang kekasih."


Kania memejamkan mata seakan meresapi segala perasaan yang kacau di dalam hati juga pikirannya. "Sayang, coba dipikirkan lagi. Bukankah kalian adik dan kakak? Kalian berdua sama-sama anak Ibu."


"El sudah memikirkannya matang-matang, Bu. Berulangkali El juga bertanya pada hati El sendiri. Dan jawabannya tetap sama, El memang cinta pada Manda." Lelaki muda itu tampak sangat dewasa dan bertanggungjawab penuh atas semua sikap dan kata-katanya.

__ADS_1


"Kakian masih terlalu muda, Nak. Belum mengerti dan paham bagaimana sebuah hubungan berjalan."


"El bukan anak kecil lagi, Bu. Tolong berhenti menganggap El masih kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa."


"Bu, Manda minta maaf." Gadis itu memberanikan diri mngutarakan sebuh kalimat singkat yang disampaikan dengan sangat hati-hati.


"Manda tidak bersalah, Bu. El yang membuat dia melakukan semua ini." Tampak Elyaz memasang badan sebagai bentuk pembelaan pada Alamanda.


Ada rasa perih yang menyeruak di dalam dada Kania. Melihat cara Elyaz begitu melindungi Alamanda, dia tahu anak laki-lakinya itu memang jujur mengenai perasaan cintanya. Belum lagi tautan jemari Elyaz yang tak pernah lepas menggenggam tangan Alamanda. Itu menegaskan perasaan tak ingin kehilangan.


"Jadi, apa yang akan kalian lakukan sebagai konsekuensi dari perbuatan kalian ini? Bersediakah salah seorang dari kalian pergi dan memisahkan diri dari rumah ini?" Nada bicara Kania mulai serius dan tatapan matanya kian mengintimidasi.


"El hanya akan tinggal dan pergi jika bersama Manda, Bu. Tolong jangan pisahkan El dengan Manda."


Sontak saja jawaban itu memicu rasa geram yang lebih lagi pada Kania. "Sadar, Elyaz, sadar! Dia adikmu. Apa kamu masih belum paham? Lupakan perasaanmu padanya!"


"Tidak, Bu! Lebih baik El mati daripada harus dipisahkan atau dipaksa berhenti mencintai Manda. Dia sudah menjadi separuh nyawa buat El," katanya bersikukuh.


Sementara itu, tangisan Alamanda semakin menjadi. Tubuhnya gemetar tak terkendalikan. Sungguh dia tidak mengharapkan kegaduhan di antara anak dan ibu itu terjadi.


"Biar Manda saja yang pergi dari sini, Bu," lontarnya dengan suara parau karena tangisan.


Kania menatap tajam pada Gadis itu. Sedangkan Elyaz, tentu saja dia tidak rela andai Alamanda harus pergi dari rumah. Itu tidak akan pernah dibiarkannya terjadi.


"Kami akan keluar dari rumah ini, Bu!" tandas Elyaz sembari memegangi tangan Alamanda dengan posesif.

__ADS_1


Situasi kala itu kian menegang dan panas. Kania tidak habis pikir dan mulai tidak karuan. "Anak bodooh!" hardiknya.


Bersambung ....


__ADS_2