Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 22 Jangan Pergi Lagi


__ADS_3

Elyaz pun bergegas menyibak kerumunan orang itu untuk melihat dan memastikan. Begitu mata Elyaz sudah bisa melihat dengan jelas pada gadis yang pingsan tersebut, seketika dirinya berurai air mata. "Manda ...," ucapnya lirih.


Langsung saja dia mengangkat tubuh yang terbujur tak berdaya itu. Tampak orang-orang di sana keheranan, sembari riuh menggunjing. Sebelumnya, mereka seperti tidak berniat menolong Alamanda sama sekali, kecuali hanya mencari-cari sebuah identitas saja. Mungkin mereka takut dituduh telah mengapa-apakan Alamanda kalau belum tahu siapa gadis itu.


"El, dia Alamandamu?" Helmi bertanya.


"Tolong panggilkan taksi, Hel!" titah Elyaz tanpa menjawab pertanyaan Helmi.


Detik kemudian, mereka sudah berada di rumah kost Helmi. Elyaz dan Alamanda pergi dengan taksi, sementara Helmi dengan sepeda motornya yang dia kemudikan beriringan dengan taksi yang ditumpangi sahabatnya tersebut.


"Hel, apa kampu punya baju wanita?" tanya Elyaz.


"Kamu pikir aku laki-laki apaan? Mana mungkin aku menyimpan baju wanita. Dasar konyol!" ketus Helmi.


"Kalau begitu baju apa sajalah. Untuk dipakaikan pada Manda sementara. Dia mengenakan baju basah. Sepertinya, Manda menghabiskan malamnya di bawah guyuran hujan," imbuh Elyaz. Tampak wajah pasrah tak melawan ketika Helmi ketus padanya.


"Duh, aku jadi merasa bersalah padamu. Baiklah, pakai saja baju kaosku dulu." Helmi pun segera mengambilkan sepotong kaos miliknya untuk dipinjamkan kepada Alamanda.


"Terima kasih, Hel. Tapi, bisakah kau menyingkir dulu? Aku akan menggantikan baju Alamanda."


"Ah, iya, tentu saja. Aku akan minggir." Helmi menjawab dengan sedikit gugup sembari memaksakan tawa kecil. Dia pun pergi melenggang ke luar kamar kost.

__ADS_1


Kini kembali ke dalam. Terlihat Elyaz mulai membuka baju Alamanda yang basah, lalu menggantikannya degan kaos yang dia pinjam dari Helmi. "Kenapa kamu melakukan ini, Sayang? Apa kamu sedang mengujiku dengan pemberontakanmu?" Bulir bening tampak menggenang di sudut mata Elyaz.


Siapa yang tidak nyeri, melihat orang yang teramat dicintainya dalam keadaan seperti itu? Tergeletak di bahu jalan dalam keadaan lemah dan pingsan. Belum lagi rona wajahnya yang begitu pucat pias. Saat ini hanya kabut duka yang tebal saja, yang Elyaz rasakan. Kabut duka yang membungkus kesedihannya melihat Alamandanya sedemikian tak berdaya.


Setelah tubuhnya mendapat rasa hangat, Alamanda pun mulai siuman. Perlahan matanya mengerjap, terbuka, dan tampak samar-samar wajah Elyaz yang setia ada di sampinginya. "Kakak ...," lirihnya.


Elyaz tidak bisa menjawab. Dia hanya menggenggam erat jemari tangan Alamanda sembari menciuminya. Sedangkan, lelehan air mata terus saja mengalir deras dari mata sendu Pemuda itu.


"Kenapa Kak El menangis?" tanya Alamanda dengan suara lemah.


"Kamu masih bertanya mengapa, Sayang? Tidakkah kamu berpikir bagaimana tersiksanya aku menerima kepergianmu? Aku setengah mati kehilanganmu, Manda." Elyaz kembali menangis tersedu-sedu.


Alamanda menoleh ke lain arah. Menghindar dari melihat wajah Elyaz yang begitu mendung ditambah hujan air mata yang deras. "Maafkan Manda, Kak," batinnya tersiksa.


Alamanda kembali menatap Elyaz, dengan lekat dan penuh perasaan. "Kakak sayang sekali padaku?"


"Tentu saja, Manda. Kenapa kamu masih bertanya?"


Alamanda berusaha bangun dari rebahnya. Lantas dia menghambur memeluk Elyaz. "Maafkan aku, Kak," ucapnya yang terdengar sesak.


Rangkulan yang sangat kuat Elyaz lingkarkan pada tubuh Alamanda. "Jangan tinggalkan aku lagi, Manda. Duniaku seperti berakhir setiap kali menyadari kamu tidak ada bersamaku."

__ADS_1


Tumpah sudah segala ungkapan. Tentang cinta, tentang rindu, tentang bersama, dan berpisah. Juga tentang kehilangan yang tidak pernah menjadi keinginan. Lalu, mereka lepaskan semua rasa yang menggumpal dengan sebaris cumbu dan kehangatan.


"Ahh, mereka manis sekali," komentar Helmi yang mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.


"Aku mencintaimu, Manda. Tidak perduli jika seluruh dunia menentangku, aku akan tetap mencintaimu."


"Bagaimana jika cintaku berkurang dan hilang padamu, Kak?"


"Aku akan membuatnya bertambah besar dan selalu ada. Bahkan, sekali pun waktu meniadakan raga kita. Cinta kita akan tetap ada."


"Berlebihan!"


"Tidak, Manda. Bukankah memang seharusnya seperti itu sebuah rasa digambarkan?!"


Alamanda tersenyum malu-malu. Hingga warna pipinya berubah merah muda dan ranum. "Aku juga mencintaimu, Kak," katanya.


Kemudian, mata mereka bertautan saling memenjarakan dalam tatapan yang sarat perasaan. Dan kalian tahu? Mereka memulai lagi sebuah permainan yang teramat mengasyikkan. Meski tetap saja belum bisa sampai pada titik yang paling dalam.


"Tunggu sampai aku sah menjadi istrimu, Kak," ujar Alamanda sembari memejamkan mata.


"Aku akan sabar menunggu hari itu." Elyaz menghujani leher Alamanda yang jenjang dengan kecup-kecup yang memanjakan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2