Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 7 Aman


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Elyaz lagi-lagi berperang dengan sejuta kemelut yang berkecamuk di dalam pikirannya. Mulutnya terus memaki keadaan, juga dirinya sendiri. Ahh, dia selalu saja merasa patah hati setiap kali Alamanda memberi penolakan atau menegaskan ikatan adik dan kakak di antara mereka.


Detik kemudian ... kemarahannya mereda. Dia jadi teringat akan Alamanda. "Aku meninggalkannya dalam keadaan marah. Pasti dia sedang sedih sekarang," gumamnya.


Selekas kemudian, Elyaz pun pergi lagi ke kamar Alamanda untuk menemuinya. Dan saat dia sampai di sana, di dalam kamar itu. Elyaz melihat Alamanda sedang menangis hingga tersedu-sedu.


"Manda ...," lirih Elyaz seraya menghampiri Alamanda.


Alamanda agak bergeser, dan menolak saat Elyaz hendak mengelus pucuk kepalanya. Bukan tanpa alasan, semua itu Alamanda lakukan karena dirinya merasa dipermainkan. Sambil menunduk dalam-dalam, Alamanda menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Manda," seru Elyaz lagi. Kali ini dia menerobos saja dan tidak memperdulikan tepisan tangan Alamanda pada sentuhannya.


Tangisan Alamanda semakin terisak. Ingin rasanya dia teriakkan kesesakan yang memenuhi dadanya, tetapi ada kekhawatiran Kania dan Emir akan mendengar suaranya. Akhirnya, walah sakit hingga nyaris sekarat ... Alamanda tetap menahan suara tangisannya itu.


"Maaf, Manda. Kakak tidak bermaksud menyakitumu."


"Tapi itu sudah terjadi. Kakak membuat hatiku terluka. Mengapa Kak El selalu saja membuatku sedih dan bingung?" racau Alamanda.


"Tatap mataku, Manda!" perintah Elyaz. Alamanda pun menatapnya, meski pandangannya terhalang genangan air mata.


"Lihat dan rasakanlah api yang menyala di dalam sorot mataku. Api itu mudah tersulut setiap kali mendengar penolakkan atau hal apa saja yang membuatku merasa kau ingin menjauh dariku."

__ADS_1


"Akan tetapi, api itu juga akan senantiasa menghangatkanmu, mengajakmu berdiang di nyalanya yang lembut bagai api unggun. Asal kamu mau memelihara perasaan cintaku padamu, Sayang," lanjut Elyaz.


"Kalau Ayah dan Ib-"


"Suttt! Cukup, Manda. Kita hanya saudara angkat. Entah bagaimana pun caranya, aku akan meminangmu suatu saat." Elyaz mempertegas isi hati dan perasaannya.


Malam itu, mereka tidur dalam satu kamar. Ya, walau tidak melakukan apa-apa. Elyaz cukup puas dengan memandangi wajah Alamanda ketika terlelap.


****


Saat paling mendebarkan tiba. Bagaimana tidak? Pagi itu mereka bangun terlambat. Elyaz segera bergegas. Membuka pintu perlahan sambil memindai keadaan sekitar.


"Sepi," gumamnya. Dengan segera Elyaz pindah ke dalam kamarnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Elyaz saat sudah membukakan pintu.


"Tadi Ibu pesan, katanya Ibu dan Bapak akan menginap di luar kota untuk tiga hari ke depan. Tadi tidak sempat membangunkan Mas El dan Non Manda," terangnya.


Elyaz menjawabnya dengan sangat antusias. "Oke, Bi. Tidak apa-apa. Saya sudah tahu kok, kalau Ayah dan Ibu mau pergi," alasan Elyaz dengan seringai senang di bibirnya.


"Ya sudah, Mas. Bibi kembali ke dapur dulu."

__ADS_1


"Siap, Bi." Lagi-lagi jawaban Elyaz terdengar sangat ringan dan antusias.


"Manda!" teriaknya dari sebalik pintu kamar.


Perasaan Alamanda sudah tidak karuan. Dia sangat takut dan saat itu, dia begitu kepikiran hal-hal yang akan membawanya ke dalam masalah besar. Dengan kaki gemetar dia pun membuka pintu kamar yang dia kunci beberapa menit yang lalu.


"Kakaaak!" teriaknya kaget saat tahu-tahu Elyaz langsung menyergap tubuhnya begitu pintu dibuka.


"Kita aman, Sayang," kata Elyaz sembari mengangkat tubuh Alamanda dan mengapungkannya ke udara, layaknya seorang putri kecil yang sedang ditimang oleh ayah atau kakaknya.


"Kakak, turunkan aku! Aku terlamabat sekolah hari ini. Bagaimana ini, Kak?" ujar Alamanda cemas.


"Jangan khawatir. Izin tidak masuk sekolah saja hari ini. Lagi pula, Ibu dan Ayah sedang tidak ada. Mereka pergi ke luar kota untuk beberapa hari ke depan."


Alamanda menyimpulkan senyum, meski kegundahan masih tampak jelas di wajahnya. "Memangnya Kakak tidak ke kampus?" tanyanya.


"Tidak! Hari ini aku ingin bersamamu." Lantas, dia mencium pipi Alamanda, yang berlanjut dengan saling berbalas cumbu dan kehangatan.


Bersambung ....


Teman-teman, jangan lupa mampir juga, ya. Di karya kece milik sohib othor, Kak Arandiah. Dijamin seru dan bikin candu. 👇❤🖤

__ADS_1



__ADS_2