
Ajakan untuk makan dari Kania, kini berubah menjadi ajang persidangan. Kedua anak muda itu disidang habis-habisan oleh Kania. Tepatnya di ruang keluarga, di situlah mereka menerima serentet pertanyaan yang diberikan Kania pada keduanya.
"Manda! Andai Ibu tahu akan seperti ini jadinya, Nak, sungguh Ibu menyesal telah membawamu ke rumah ini." Kania bicara dengan nada pelan, namun penuh penekanan.
"Maafkan Manda, Bu." Alamanda merasa telah jauh kedurhakaannya pada orang yang sudah berbaik hati kepadanya itu.
"Bu, tolong jangan salahkan Manda. Ini semua salah El, Bu."
"Cukup, Elyaz! Kalian berdua sama saja. Sama-sama sudah mengkhianati kepercayaan Ayah dan Ibu. Kalian sudah mematahkan harapan kami."
Elyaz dan Alamanda secara bersamaan beranjak dari duduknya, lalu bersimpuh memohon ampun di kaki Kania. Terdengar tangis dan sedu sedan dari keduanya. "Maafkan kami, Bu."
Kania yang sedang di ambang kecewa pun turut menangis. Dia ingin marah pada anak-anaknya, namun rasa cinta dan sayangnya yang begitu besar kepada mereka, ternyata membuat dirinya tidak mampu marah lebih jauh lagi. Dalam tangisnya yang terasa sesak di dada, dia merangkul kedua anak itu ke dalam pelukannya.
Rasa lapar seketika hilang. Semuanya telah terisi oleh keadaan yang lagi-lagi memenuhi pikiran. Dan saat itu, akhirnya Kania beristirahat untuk menenangkan diri di kamarnya. Sementara, Elyaz dan Alamanda ada di balkon rumah.
"Kakak, bagaimana kalau aku mati saja?" kata Alamanda sembari menatap jauh ke bawah gedung rumah dengan tatapan kosong.
"Apa yang kamu katakan, Manda?! Jangan pernah berpikir untuk pergi, entah menghilang dari pandanganku atau mati ... jangan pernah lakukan itu. Aku tidak akan pernah rela."
__ADS_1
"Tapi, Kak ..., kita sudah banyak menyusahkan ayah dan ibu."
"Lalu, apa kalau kita mati menurutmu penderitaan mereka akan berakhir?" Elyaz bicara dengan sedikit membentak Alamanda.
"Setidaknya aku tidak perlu melihat penderitaan di mata mereka, Ka-"
"Jangan berpikir pendek, Manda! Jika sampai kau melakukan hal semacam itu, artinya kamu bukan hanya membunuh dirimu sendiri, tapi juga membunuhku dan orang tua kita. Apa kau mngerti?"
Alamanda semakin menangis dan terisak hingga sesak. "Aku tidak mau terus begini, Kak." Suaranya hampir habis tertelan tangis.
"Manda ...," lirih Elyaz.
Tidak ada kata yang mampu Alamanda ucapkan lagi kala itu. Dia hanya mengangguk perlahan, sembari sesekali menyeka air mata yang membanjiri pipinya.
Di ruang tengah rumah, ada suara gaduh yang terdengar samar. Alamanda dan Elyaz pun berinisiatif untuk melihatnya. Mereka terkejut melihat Emir yang geram.
"Tidak bisakah kalian bersabar untuk menahan nafsu kalian sebentar saja, Nak?" Sungguh, suara Emir sangat berat ditindih kemarahan.
Butiran keringat tampak menetes dari pelipis wajah Alamanda. Tangannya dingin karena ketakutan. Bibirnya bergetar, terkatup seperti enggan, antara ingin bicara atau diam.
__ADS_1
"Ayah, El siap menerima hukuman dan konsekuensi apapun, tapi tidak untuk berpisah dari Manda. El tidak bisa lagi jauh dari Manda, Yah. Tolong mengertilah!" Pemuda itu memohon dengan sangat kepada Emir.
"Kamu tahu apa yang kamu ucapkan itu, Nak? Apa kamu bicara di atas pengetahuan, dalam keadaan sadar?"
"El sangat tahu, sadar, dan yakin, Yah."
"Yang akan kamu jalani ini bukan sembarangan, El. Pernikahan tidaklah selalu berjalan seindah yang kamu bayangkan, Nak."
Bahkan, dalam kemarahannya, Emir tetap bertutur lembut. Dia hanya terus mengepalkan kedua tangannya keras-keras, untuk mengalihkan emosinya.
Dari arah belakang Emir, Kania menatap anak-anaknya dengan tatapan sedih. Dia baru saja keluar dari kamarnya. Sungguh, dirinya tidak kuasa lagi mencegah Elyaz untuk berhenti sejenak dari perasaan cintanya terhadap Alamanda. Itu karena semuanya tentu sudah terlanjur jauh. Tidak ada pilihan lagi selain menyatukan mereka dalam ikatan yang resmi, pernikahan.
"Mungkin, setelah kalian menikah nanti ... keluarga kita akan dicap sebagai keluarga yang aneh," lirih Kania diiringi bulir bening yang menetes membasahi pipinya.
Keadaan kembali campur aduk. Ruangan terasa mencekam dan menegangkan. Semua itu seakan tidak pernah ada habisnya. Setiap peristiwa seperti memaksa Kania dan Emir untuk menyegerakan pernikahan putra dan putrinya sendiri. Bisakah kalian membayangkannya? Tentu itu sangat melukai hati mereka berdua.
"Maaf, jika cinta El pada Manda adalah kesalahan, Yah, Bu." Pemilik dada bidang itu bicara dengan begitu lembut sembari menunduk dalam-dalam.
Bersambung ....
__ADS_1