
Elyaz menutup mata Alamanda dengan kedua tangannya secara sigap, agar Gadisnya tidak melihat adegan memalukan yang dilakukan di dalam bioskop yang termasuk pada kategori tempat umum itu. Walaupun Elyaz sendiri suka menyosor Alamanda, namun dia masih tahu batasan. Dia tidak akan tega melakukan semua itu, jika konsekuensinya adalah rasa malu yang akan didapatkan dalam jangka waktu yang panjang.
"Kita ke luar sekarang, Sayang!" ajak Elyaz sembari terus menutup mata Alamanda disambi membimbing langkah kakinya.
Setelah ke luar dari sana, barulah Alamanda bisa membuka matanya dengan leluasa, tanpa tangam Elyaz yang menutupi. "Kakak, kenapa mataku ditutupi lama sekali?" desisnya.
"Memangnya kamu mau matamu dicemari pemandangan seperti tadi?" lontar Elyaz.
"Memangnya seperti apa pemandangannya? Bagaimana aku bisa tahu kalau Kak El saja tidak memberiku kesempatan untuk melihatnya." Alamanda memalingkan wajahnya dengan ketus setelah bicara.
"Jadi kamu penasaran dan ingin melihatnya, hum? Bagaimana kalau kita saja yang melakukan adegan itu di dalam sana. Biar semua mata tertuju pada badan telan-jang kita!" Elyaz bicara dengan nada sarkas. Terdengar giginya gemeratak seolah ingin menghabisi Alamanda.
"Hehehe! Kakak ini ... begitu saja marah," sambung Alamanda tanpa rasa bersalah.
"Sudah cepat jalan!" tandas Elyaz seraya menggandeng tangan Alamanda.
Sesampainya di dalam mobil, ketika keduanya sudah duduk. Keadaan hening memenuhi ruangan mobil tersebut. Hanya sesekali saja mereka saling mencuri pandang.
"Kenapa Kak El tampak sangat tegang?" batin Alamanda menilisik.
"Aarrrgh! Sial sekali harus disuguhi pemandangan seperti itu," cicit Elyaz di dalam hati. Dia masih teringat kejadian dalam gedung bioskop tadi.
"Kakak, ada apa, sih?" Alamanda memberanikan diri bertanya.
"Manda, berjanjilah untuk tidak mau disentuh oleh lelaki selain aku. Aku tidak ingin kamu dijamah siapa pun. Kamu hanya milikku, Sayang." Tiba-tiba saja Lelaki itu bicara seakan sangat ketakutan.
__ADS_1
"Iya, Kak El. Tentu saja. Lagi pula, memangnya aku perempuan seperti apa sampai mau disentuh siapa saja, hum?" Dia bersedekap sebal.
"Gadis pintar," puji Elyaz sembari mengelus lembut pucuk kepala Alamanda.
"Sekarang kita mau ke mana, Kak? Ini masih pukul 11.00."
"Masih ada dua jam sebelum waktu pulang sekolahmu tiba. Bagaimana kalau kita pergi ke Hutan Kota?"
"Boleh saja. Ya sudah, ayo kita ke sana, Kak."
Mereka pun pergi ke tempat tujuan yang mereka inginkan. Sampai dengan tiba di tempat itu. Seperti biasa, Elyaz tak pernah lupa memberi perhatian-perhatian kecil terhadap Alamanda. Bahkan, lelaki itu sempat menyisir rapi rambut Alamanda yang tampak sedikit kusut dan berantakan, sebelum akhirnya mereka turun dari mobil dan berjalan ke dalam Hutan Kota, sebutan untuk sebuah taman yang dikelola pemerintah setempat.
"Kakak, aku ingin duduk di sana," tunjuk Alamanda pada sebuah bangku.
Elyaz hanya mengembangkan senyum sambil berjalan mengikuti langkah kaki Alamanda. "Hanya meminta duduk di bangku taman saja, kamu pikir aku punya alasan untuk menolak, Manda? Bahkan aku sanggup memberikan nyawaku jika dibutuhkan," batin Elyaz.
"Kalau kamu tinggal di sini, lalu mau mandi di mana?" canda Elyaz.
"Di sana. Kakak lihat sungai itu? Bukankah itu sangat jernih dan indah? Pasti sangat segar kalau aku berenang di airnya yang mengalir tenang." Gadis itu menunjuk pada sebuah sungai yang memang ada di dalam Hutan Kota tersebut.
"Dasar tukang berkhayal!" hardik Elyaz.
"Hihihii, memangnya Kakak tidak punya keinginan untuk tinggal di alam bebas?"
"Sudah diberi rumah, malah memilih tinggal di alam bebas, begitu?" Elyaz menghela napasnya keheranan.
__ADS_1
"Aku juga suka alam terbuka dan hijau, dengan sungai juga tanaman bunga dan pepohonan rindang seperti ini, tapi tidak untuk tinggal di sini juga. Hanya untuk berkunjung saja sesekali, atau lebih sering," imbuhnya lagi.
"Benarkah? Meski bersamaku Kakak tetap tidak mau?" ledek Alamanda.
"Diamlah, Manda! Atau, aku akan memakanmu di sini." Elyaz berbisik di telinga Alamanda.
Bulu kuduk Alamanda terasa meremang dibuatnya. "Kakak! Tadi Kakak melarangku melihat yang terjadi di gedung bioskop, sekarang malah mengancam akan melakukan hal serupa dengan itu. Dasar nakal!"
Elyaz tertawa geli. Tidak dipungkiri, andai saja dia sudah sah menjadi suami Alamanda ... pasti dalam waktu yang sama Gadis itu sudah habis dilahapnya. Apalagi, naluri kelelakian Elyaz acapkali meronta ingin dituntaskan.
Selepas perbincangan penuh cengkrama itu, Elyaz menatap lekat dan tajam pada Alamanda. Sorot matanya mengisyaratkan keinginan yang besar. Lalu, tanpa sadar dia mendaratkan kecupan lembut di kening Alamanda.
"Kakak, ingatlah kita sedang di tempat umum dan terbuka!" Alamanda bergeser memgambil jarak dari Elyaz.
"Iya, maaf aku lupa."
Alamanda menyimpulkan senyum tipis. "Ayo kita kembali ke mobil saja," ajaknya.
"Memangnya mau apa?" kata Elyaz berpura-pura.
"Sudah, ayo ...."
Segera saja keduanya bergegas ke dalam mobil. Sesampainya di sana, entah angin apa yang meniup hingga dengan berani Alamanda memulai pagguttannya lebih dulu. Dengan ganas dan panas dia membasahi dua katupan benda kenyal Elyaz yang ranum.
Elyaz tampak sedikit kaget, selebihnya dia senang bukan kepalang. "Pelan-pelan, Sayangku," ujarnya melepaskan sesaat bibirnya dari Alamanda.
__ADS_1
Kemudian, kisah dua sejoli yang bagai merpati sedang mengikat janji itu berlanjut sampai beberapa lama. Mereka tidak ingat waktu pulang, tidak ingat kekhawatiran akan diketahui kedua orang tua mereka. Juga tidak ingat pada batasan yang ada. Keduanya telah masuk terlalu dalam ke pada perasaan yang kian menggelora.
Bersambung ....