Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 11 Pantai


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Kania dan Emir di luar kota. Rencananya, nanti malam mereka akan bertolak dari sana dan pulang menuju kediaman mereka. Sebagai orang tua, keduanya juga sudah mulai rindu pada anak-anaknya yakni Elyaz dan Alamanda.


Di sisi lain, Elyaz memanfaatkan keadaan dan kesempatan terakhir sebelum orang tuanya pulang, dengan mengajak Alamanda pergi ke pantai. Meski awalanya Gadis kesayangannya itu sempat menolak. Namun, akhirnya Alamanda setuju juga berkat kelihaiannya memberi bujukan.


Pantai selalu saja jadi tempat romantis yang menyuguhkan berbagai panorama dan nuansa indahnya bagi siapa saja. Kali ini, mungkin hal yang sama dirasakan oleh Elyaz dan Dewi Cintanya, Alamanda. Mereka tampak begitu menikmati waktu kebersamaan itu.


"Kakak, bagaimana kalau hubungan kita diketahui oleh ayah dan ibu?"


"Aku akan dengan senang hati mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Aku ingin menikahimu, Manda. Menjadikan kamu istriku, agar hilang rasa gusar di hatiku yang selalu takut kehilanganmu."


"Aku 'kan masih kecil, Kak. Kakak yang mengatakannya sendiri padaku waktu itu," imbuh Alamanda.


"Aku mengatakan begitu agar kamu tidak pacaran dengan lelaki lain selain aku. Entah itu kakak kelasmu, adik kelas, atau teman sekelasmu dan siapa pun. Aku tidak rela."


"Tidakkah itu berlebihan, Kak?"


"Apanya yang berlebihan? Tidak ada yang berlebihan dalam upaya mempertahankan cinta yang kita pelihara, Manda."


"Ternyata, selain egois ... Kakak juga posesif, ya."


"Anggap saja begitu. Aku tidak mau lengah dalam mencintai seseorang. Apa kamu tidak pernah dengar peribahasa lama? 'Mencegah itu lebih baik daripada mengobati' dan aku sedang melakukan itu pada hubungan kita, Manda."


"Aku tidak ingin kehikangan dulu, baru menyadari dan berusaha untuk menggapaimu," imbuhnya.

__ADS_1


"Walau sebelumnya Kakak tidak tahu kalau aku memiliki perasaan yang sama?"


"Ya! Bahkan, bila kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku sekali pun, aku akan tetap melakukannya dan membuatmu jatuh cinta sejatuh-jatuhnya padaku."


"Ish, Kakak mengerikan." Alamanda berdesis seraya mencebikkan bibirnya.


"Biarkan saja mengerikan. Biar kamu tidak bisa macam-macam. Kamu hanya milikku, Manda, hanya milikku." Elyaz mendorong tengkuk Alamanda hingga wajah Gadis itu beradu dengan wajahnya.


Alamanda segera sadar dan mulai mengambil jarak dari Elyaz.   Dia tidak mau bermesraan di tempat terbuka atau umum yang bisa saja dilihat oleh banyak orang. Apa kata dunia nanti? Begitu kira-kira yang Alamanda pikirkan.


Elyaz mendekati Alamanda kembali. Dia menyusul setiap langkah Alamanda. Di wajahnya tersirat ketidakrelaan untuk berpisah jarak barang sejengkal saja.


"Apa kamu takut? Atau, mungkin kamu risih?" bisik Elyaz di telinga Alamanda.


"Kalau tidak, kenapa kamu berusaha menjauh dan membuat jarak denganku?"


"A-aku hanya ingin lebih dekat ke bibir pantai saja. Mangkanya aku berjalan ke sini," kilah Alamanda.


"Kalau begitu, ayo kita ke sana. Bersamaku bukan hanya lebih dekat ke bibir pantai, tapi juga lebih dekat ke pesisir hatimu yang ditumbuhi banyak cinta olehku."


"Duh, Kakak ini. Kerjanya menggombal saja. Sok puitis, tahu tidak?"


"Hahaha. Aku mulai melihat kelopak mawar ranum di wajahmu."

__ADS_1


"Mana?" tanya Alamanda yang dengan spontan langsung menyentuh pipinya sendiri.


"Apa kamu mencarinya? Kelopak mawar itu sudah menyatu dengan pipimu. Lihat saja kalau tidak percaya! Pipimu bahkan lebih merona sekarang. Kamu malu, ya?" ledek Elyaz.


"Kakak ... jangan jadi menyebalkan!" rengek Alamanda manja. Dia memukuli dada bidang Elyaz seperti biasanya.


Elyaz berlarian menghindari Alamanda sambil tertawa. Sementara itu, Alamanda juga terus mengejar sampai akhirnya dia bisa menangkapnya. Bukan karena Alamanda lari lebih cepat dari Elyaz, melainkan karena Elyaz sengaja berhenti agar Alamanda bisa menggapainya.


"Aku menangkap Kakak!" sorak Alamanda dengan girang.


Elyaz tersenyum mengalah. "Semudah itu membuatmu merasa bahagia, Manda. Aku hanya perlu mengalah sedikit agar kamu merasa menang. Dan aku akan melihat kelopak mawar itu ranum di bibirmu yang rekah senyum." Pemuda itu membatin.


Dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, mereka begitu asyik menjalani hari di pantai kala itu. Sampai akhirnya merasa lelah, lalu mereka pun singgah di sebuah rumah makan. Rasa cinta ternyata tidak serta-merta membuat perut menjadi kenyang.


"Mau makan apa, Sayang?"


"Tentu saja hidangan seafood, Kak. Memangnya apa lagi?" tandas Alamanda.


"Baiklah, pesan saja sesuai maumu."


Mereka kini menikmati hidangan yang sudah dipesan. Sambil terus menyelipkan cengrama penuh manja di setiap kesempatan. Ah, kali ini dunia serasa hanya milik mereka berdua.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2