Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 31 Akhir Bahagia


__ADS_3

Setahun sudah berlalu sejak hari pernikahan rahasia itu. Kini Alamanda telah lulus sekolah, begitu pun Elyaz yang telah menyelesaikan pendidikan S1-nya. Kebahagiaan mereka semakin kentara, apalagi saat ini mereka tidak perlu berpura-pura lagi.


Malam ini adalah pesta pernikahan mereka. Seperti yang dijanjikan Emir dan Kania, bahwa pesta akan digelar setelah Alamanda lulus sekolah. Dan sekarang adalah waktu ditepatinya janji itu.


"Selamat, ya, El. Akhirnya kamu dan Manda bisa bersatu." Helmi memberi ucapan selamat pada sahabatnya tersebut.


Helmi memang orang pertama yang Elyaz kabari. Mengingat, dia pernah turut serta dalam berjuang membantu dirinya dan Alamanda. Elyaz tidak akan lupa hal itu. Pada pengorbanan sahabtnya.


"Terima kasih, Hel. Atas semua yang pernah kamu lakukan untukku dan juga Manda. Aku tidak pernah melupakan hal itu," balas Elyaz kepada Helmi.


Mereka pun saling memberi peluk layaknya dua sahabat yang menyayangi satu sama lain. Sementara itu, Alamanda hanya menyimpulkan senyuman seraya menguping pembicaraan keduanya. Lalu, ada yang basah di matanya. Dia terharu pada keadaan itu.


Bukan hanya Helmi, Elina selaku sahabat sekaligus teman sebangku Alamanda pun turut hadir di sana. Dia berjalan tergesa menghampiri Alamanda dan mereka pun saling memeluk dalam haru biru. Tak terbayngkan oleh Elina, bahwa sahabatnya, Alamanda akan menikah di usia sedini ini. Namun, dia tetap berbahagia atas pernikahan Alamanda dan Elyaz.


"Entah sekarang atau nanti, pernikahan akan terjadi juga, bukan? Jadi, jangan pernah bersedih dan merasa kehilangan. Aku janji, kita akan tetap bisa main bersama seperti saat kita duduk bersebelahan di kelas." Alamanda menghibur Elina yang masih menangis meluapkan rasa haru yang bercampur sedih dan tidak menyangka.

__ADS_1


"Awas saja kalau bohong!" tandas Elina sembari menyeka air matanya.


"Iih, sejak kapan aku berbohong?!" sangkal Alamanda tak terima. Mereka pun tergelak dalam tawa bahagia.


Elyaz berdeham karena Alamanda terus sibuk berbincang dengan Elina, dan mengabaikan dirinya. "Apa kamu sudah melupakan suamimu, Sayang?" bisik Elyaz di telinga Alamanda.


Alamanda menoleh dengan tatapan penuh arti. Lantas, dia membalas bisikan Elyaz, "Aku bersamamu setiap malam, Kakak, sedangkan temanku hanya sesekali. Tolong jangan cemburu," canda Alamanda.


"Awas saja kalau sampai mengabaikanku di tempat tidur!" ancam Elyaz pura-pura merajuk.


Kemudian, Helmi mendekat lagi ke arah mereka. Menghampiri dan mengajak Elina berkenalan. Kalau dilihat-lihat, sepertinya keduanya memiliki ketertarikan satu sama lain.


****


Malam pun tiba, sepasang pengantin memasuki kamar yang sudah disulap menjadi peraduan paling indah. Dengan hamparan kelopak mawar merah yang ditebar, mulai dari lantai di depan pintu menuju ke atas tempat tidur. Di atas tempat tidurnya pun masih ada taburan kelopak mawar yang dibentuk serupa hati, dan lilin aroma terapi yang ditaruh sedemikian tertata.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin malam ini berlangsung seperti malam pertam kita." Elyaz berbisik sangat pelan sambil menanggalkan gaun yang melekat di tubuh Alamanda.


Alamanda hanya tersenyum seraya memejamkan mata. Dia pasrah menikmati dan meresapi setiap sentuhan Elyaz pada dirinya. Sesekali napasnya seperti tersendat dan berhenti, saat Elyaz secara tiba-tiba menyerangnya dengan buas.


Malam itu, seisi kamar gaduh oleh suara yang tidak asing. Ya, suara rintih, lenguh, dan desau yang menagih dan terus saling bersahutan dari Elyaz dan Alamanda. Sekali lagi, mereka tidak perduli pada bagaimana dunia memandang mereka. Yang mereka inginkan hanyalah berdua, bersama mereguk manisnya cinta. Menuntaskan hasrat yang tidak perlu diredam lagi. Sebab, kini keduanya telah halal tiada larangan.


"Kakak, aku masih menginginkannya," rengek Alamanda usai tiga kali mencapai pelepasan.


"Sayang, istirahat dulu sebentar. Aku merasa sedikit lelah.


"Ahh, tidak mau. Pokoknya aku masih ingin. Titik."


Akhirnya, Elyaz mengalah dan kali ini Alamanda memimpin. Dia yang mengendalikan permainan sepenuhnya. Sampai-sampai Elyaz kewalahan menghadapi Istrinya itu. Alamanda tidak membiarkan Elyaz tidur. Mereka melakukannya sampai pagi.


Ya, kini keduanya menjalani hidup layaknya pasangan pada umumnya. Bahagia, meski tentu tidak pernah terlepas dari rintangan. Namun, dengan terus bersama dan beusaha saling mengerti dan menerima, keduanya pun mampu menghadapi dan melalui semuanya.

__ADS_1


SEKIAN


__ADS_2