Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 16 Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Sayang, maukah kamu menjadi milikku selamanya?" bisik Elyaz dengan suara lembut memanja.


Mata mereka saling menatap lekat, berpadu, saling memenjarakan. "Kakak ...." Hanya kata lirih itu yang terucap dari bibir Alamanda.


"Jawab saja, Manda. Kamu bersedia 'kan hidup denganku selamanya?"


Alamanda tidak punya pilihan lain selain mengiyakan Elyaz. Dia sangat terpana pada semua yang Elyaz lakukan padanya kala itu. Mereka lalu saling menggamit bibir dengan intens, sesaat sebelum akhirnya Elyaz kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Beberapa menit kemudian, Elyaz kembali lagi ke kamar Alamanda. "Lihat ini!" katanya sembari menunjukkan kotak cincin pada Alamanda.


Flash back on


Apa kalian ingat saat Elyaz terlamabat menjemput Alamanda? Ya, saat itu dia pergi ke toko perhiasan terlebih dahulu untuk memeilih dan membeli cincin. Lalu, rasa cemburu menguasai diri Elyaz, karena dia melihat Alamanda mengenakan sweater Dimas. Pemberian cincin pun batal di hari itu


Flash back off


Alamanda tertegun, menganga, seperti nyaris tidak sadarkan diri. Sementara itu, Elyaz menatap Sang Kekasih dengan mata puas. Dia menyunggingkan senyum paling sempurna.


"Mulai sekarang cincin ini akan jadi pengikat, yang menandakan kamu adalah punyaku." Elyaz menyematkan cincin itu pada jari manis Alamanda.


CUP!


Satu kecupan manis mendarat di kening Alamanda. Jujur saja, Alamanda masih merasa semua itu seperti sebuah mimpi. Dia terus meneliti cincin yang kini sudah melingkari jemari manisnya tersebut.

__ADS_1


"Kakak, ini serius?" katanya ragu-ragu.


"Apa perlu kucubit pipimu, untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi?" canda Elyaz. Alamanda tersipu malu mendengar itu.


****


"Bu, kami berangkat dulu." pagi itu Elyaz dan Alamanda pamit.


"Hati-hati, ya, Nak."


Tiba-tiba saja atensi Kania teralihkan pada jemari tangan Alamanda yang mengenakan cinin di jari manisnya. "Manda, apa ini?" Kania bertanya sembari meraih tangan Alamanda.


Sontak saja debar jantung Alamanda menjadi tidak beraturan. Namun, tidak begitu dengan Elyaz. Dia justru tampak tersenyum dengan santainya.


"Ahh, iya. Ya sudah, kalian berangkat sana."


Alamanda menghela napas lega. Sesegera mungkin dia dan Elyaz bergegas menuju mobil, sebelum Kania berubah pikiran dan semakin curiga. Beberapa menit bersiap mobil pun dilajukan.


"Kakak, aku hampir berhenti bernapas tadi." Alamanda mengadu.


"Jadi, rupanya ada yang ketakutan?" olok Elyaz sembari tertawa usil.


"Ihh, Kakak. Aku benar-benar deg-degan. Kenapa Kakak malah tertawa santai?"

__ADS_1


Lagi-lagi Elyaz menambah keras suara tawanya. "Sudah, tidak usah dipikirkan!"


Tidak terasa, sepanjang perjalanan mengobrol, membuat mereka melewatkan sekoah Alamanda. Dan jaraknya sudah sangat jauh. Andai mereka putar arah pun, Alamanda akan sangat terlambat masuk kelas.


Elyaz memutuskan untuk mengajak Alamanda membolos saja. Gadis itu tidak bisa menolak, karena dia paham bahwa Elyaz tidak akan menerima penolakannya. Kali ini mereka pergi menonton film di bioskop.


Detik berikutnya mereka sampai di gedung bioskop yang dituju. Dengan langkah gusar dan tatapan selalu waspada, Alamanda menautkan erat pegangan tangannya pada Elyaz. Tentu saja pandangannya pun selalu mengedar seolah takut diketahui seseorang.


"Kakak, kita akan tamat kalau sampai ayah dan ibu tahu." Dia bicara tanpa menatap Elyaz, hanya terus mengedarkan pandang.


"Ketakutan macam apa lagi yang kamu tunjukkan padaku, Manda? Tidak inginkah sekali saja kamu merasa aman saat bersamaku?"


"Tapi Kak-"


"Diam dan jangan banyak bicara!" Elyaz menyelah kalimat Alamanda sembari menaruh jari telunjuknya di bibir Alamanda.


Mereka menuju loket untuk membeli dua tiket film romantis dan memilih bangku yang akan mereka duduki nantinya. Tidak lupa juga membli popcorn dan juga soft drink untuk menemani waktu menonton keduanya.


****


Ada kejadian mengejutkan seusai mereka menonton pertunjukan film layar lebar tersebut. Bagaimana tidak? Sepasang kekasih melakukan hal tak terduga di dalam theater pemutaran film itu. Ya, mereka melakukannya semenjak lampu bioskop dimatikan, hingga lampu itu kembali terang. Mereka masih saja dalam permainan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2