Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 15 Detak


__ADS_3

Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh Kania. Ibu mereka itu menyunggingkan senyum hangat sembari melontarkan sapa pada keduanya. Lantas, dia mengajak kedua anaknya untuk makan siang.


Masing-masing dari mereka menarik kursi untuk diduduki. Segera saja ketiganya makan hidangan yang sudah tersaji. Hari ini menu mereka ayam rica-rica, perkedel kentang, dan juga tumis hijau baby kailan.


"Tumben pulang terlambat. Apa Manda ada pelajaran tambahan dari sekolah?" cetus Kania di sela waktu makan mereka.


Dua sejoli itu saling menatap. Seakan menyiratkan kegundahan yang teramat rumit, tentang bagaimana harus menjawab pertanyaan Kania pada mereka. Akhirnya, Elyaz berinisitif menjawab lebih dulu.


"I-iya, Bu."


"Oh, begitu. Ya sudah, cepat habiskan makanannya," tambah Kania tanpa rasa curiga.


****


Elyaz berjalan ke sana ke mari. Di dalam kamarnya yang sepi. Berteman cahaya lampu kamar yang temaram, juga embusan dingin dari AC yang menelusuk ke dalam tulang.


Panjang helaan napas terdengar dari Elyaz, "Mengapa begitu sulit keadaan ini bagi kita, Manda?" gumamnya pelan.


Di sisi lain, Alamanda tengah memeluk boneka besar pemberian Elyaz waktu itu. Dia mengajak boneka itu bicara dan bercerita layaknya mengobrol dengan manusia. Sesekali tampak dia membenamkan kepala juga, sambil menangis di bagian dada boneka tersebut.


"Kenapa aku harus dihadapkan pada proses dewasa semacam ini? Sikap aneh Kak El lagi-lagi mengacaukan pikiranku. Padahal, seharusnya aku belajar dan mengerjakan PR sekarang," keluh Gadis bermata coklat itu.

__ADS_1


Basah matanya tak jua mereda. Dia masih sedih mengenai sikap Elyaz yang acapkali berubah. Terkadang terasa seperti menyudutkan, walau akhirnya kasih sayang jugalah yang dia tunjukkan.


Di tengah keliaran pikirannya yang terus saja mengacak-acak isi kepalanya, Elyaz beranjak bangkit dari duduk yang gelisah. "Aku harus melakukan sesuatu," ujarnya penuh tekad.


Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Alamanda. Langsung diketuknya daun pintu kamar Gadis itu. Terus mengetuk hingga beberapa kali karena dia tidak juga mendapatkan jawaban dari dalam sana.


"Manda! Buka pintunya!" teriak Elyaz dari luar. Suaranya nyaring dan penuh keburu-buruan.


Di dalam sana, Alamanda segera mengambil beberapa lembar tisu dan menyeka air matanya. "Sebenatar, Kak. Manda dari kamar madi," alasannya.


Detik kemudian pintu kamar pun dibuka. "Kakak ...," lirih Alamanda.


Alamanda hanya diam ternganga. Elyaz yang tidak sabar langsung mendorong Gadis itu ke dalam dan mengunci pintu kamarnya. Semakin tersentak rasa hati Alamanda mendapati perlakuan Elyaz yang semakin menjadi-jadi.


"Kakak, nanti Ibu dan Ayah tahu. Kita akan dimarahi, bahkan mungkin diusir dari rumah ini!" peringati Alamanda sembari terengah-engah.


"Aku tidak perduli, Manda. Aku menginginkanmu. Tidak perduli jika kita harus terusir atau terbuang sekali pun dari rumah ini." Napas Elyaz semakin memburu.


"Tapi, Kak ...."


"Manda, aku mohon jangan menolak atau mendebatku kali ini. Aku tidak butuh penolakan. Yang aku butuhkan adalah kesediaanmu untuk membersamaiku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu, Manda sayang."

__ADS_1


Logikanya telah mati. Terkubur oleh gelora cinta yang membara. Sungguh, Elyaz yang semula terbilang pendiam, kini beringas dan buas. Dia menggenggam keinginannya untuk bersama Alamada dengan begitu erat.


"Kakak, kendalikan dirimu!" ujar Alamanda dengan sekujur tubuh yang gemetar.


Sekejap saja suara penolakkan itu lenyap tersapu ciuman liar Elyaz yang menyerang dengan bertubi-tubi. "Aku mencintaimu, Manda."


"Kakak, bisakah Kakak mencintaiku dengan sederhana? Mengapa Kakak memperlakukanku seperti budak nafsu?" ucapnya.


"Aku sudah gila karena mencintaimu, Manda. Apa kamu tahu? Aku telah memendam cinta ini sejak pertama kamu datang ke rumah ini. Lalu, apa kamu pikir aku harus melepaskanmu setelah aku tahu kamu memiliki perasaan yang sama denganku?"


"Tapi kita bisa menjalani dengan normal, Ka-"


"Tahu apa kamu tentang hubungan yang normal, Sayang?" sela Elyaz.


"Kemarilah, ke dalam pelukanku. Rasakan detak jantungku ini, Manda. Resapi setiap degupnya. Kamu akan merasakan betapa sakitnya aku menahan debar itu selama ini." Dia merekatkan tubuh Alamanda padanya.


Alamanda menurut seperti tersihir oleh kata-kata Elyaz. "Apa ini? Berdegup, tapi seperti irama kenderang yang berdentam dan nyaris meremukkan?" batin Alamanda.


Ya, Alamanda dapat merasakan debar jantung yang begitu kuat dan berdebur layaknya gulungan ombak. Apa yang dikatakan Elyaz padanya seakan merasuki alam bawah sadar Gadis itu, hingga dia dapat merasakan persis seperti yang disampaikan Elyaz padanya. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara napas lembut yang saling bersahutan satu sama lain.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2