Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 13 Sweater Siapa?


__ADS_3

Jam pulang sekolah pun tiba. Seluruh siswa dan siswi di sekolah Alamanda riuh berhamburan ke luar. Mereka bersorak senang seolah merayakan kebebasan dari penatnya otak setelah belajar.


"Manda, aku duluan, ya." Elina berpamitan. Alamanda hanya mengangguk sembari tersenyum.


Selekas itu, Alamanda berjalan perlahan ke arah gerbang sekolah. Dia memindai sekitar mencari keberadaan mobil Elyaz. Namun, ternyata mobil itu belum juga terlihat. Entah ke mana Elyaz yang biasanya sudah datang menjemput, bahkan sebelum jam pulang.


"Duh, Kak El ke mana, sih? Kenapa dia belum menjemputku? Apa aku pulang sendiri saja, ya?" pikir Alamanda menjawab tanyanya sendiri.


Gadis itu pun berjalan di tepian sembari menunggu sebuah angkutan umum. Akan tetapi, entah mengapa tidak ada satu pun angkutan umum yang melintas kala itu. Entah karena banyaknya pengguna jasa aplikasi ojek online, atau memang sedang sepi saja. Sementara, saat itu dirinya tidak membawa ponsel.


Tidak lama kemudian, Dimas datang menghampirinya. "Manda, kenapa kamu jalan kaki? Ayo kuantar pulang!" ajak Dimas, pria yang menyukainya itu.


Alamanda agak tersentak kaget dengan kedatangan Dimas. Selekas itu dia tersenyum dan sudah ingin naik ke atas sepeda motor Dimas. Namun, pikiran lain membuatnya mengurungkan niat.


"Bagaimana kalau Kak El tahu? Pasti dia akan sangat marah melihatku dibonceng oleh Dimas,"  batinnya.


"Manda?" Dimas menyeru dengan penuh tanya.


"Emm, aku sedang menunggu dijemput kakakku, Dim. Kamu duluan saja," ujar Alamanda.


Dimas terdiam seperti hilang sudah harapannya untuk bisa sekedar berboncengan dengan Alamanda. "Ya sudah, kalau begitu berhati-hatilah. Oh, ya. Pakai sweaterku dulu, mataharinya sangat terik," seloroh Dimas seraya memberikan sweater yang dia kenakan kepada Alamanda.

__ADS_1


Meski ragu, Alamanda menerimanya. Menerima kebaikan hati Dimas padanya. "Terima kasih, Dim," ucapnya.


Dimas hanya tersenyum, lantas pergi melajukan sepeda motornya. Entah mengapa, perasaannya sedikit sakit kala itu. Sebab, untuk kesekian kalinya Alamanda menolak ajakan Dimas kepadanya.


Alamanda mengenakan sweater itu dan terus berjalan menyusuri jalanan. Cukup lama. Mungkin sekitar setengah jam dia berjalan. Sampai akhirnya ....


"Manda!" seru Elyaz seraya menepikan mobil dan membuka kaca jendelanya.


Alamanda menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Kakak ...," lirihnya.


Dia berjalan perlahan, mendekat ke arah pintu mobil. "Boleh aku masuk?" tanyanya saat mendapati hanya kaca jendela mobil saja yang terbuka, sementara pintunya masih terkunci.


Dengan sedikit terperangah, Elyaz lalu membuka kuncinya dan pintu mobil pun bisa dibuka. Cepatlah masuk! Tandasnya.


Alamanda menoleh memperhatikan raut wajah Elyaz. "Ada apa lagi dengan Kak El? Mengapa wajahnya seperti sedang cemas?" bisik hati Alamanda.


"Manda ...," lirih Elyaz tanpa menoleh.


"Iya, Kak."


"Sweater siapa yang kamu pakai?"

__ADS_1


DEG!


Seketika Alamanda merasa bagai dicekam kemarahan. Pertanyaan datar itu menunjukkan kecemburuan yang teramat besar. Dia mulai berpikir, "Jadi, sejak tadi Kak El diam saja, karena aku memakai sweater ini?


"Kenapa diam? Apa kamu takut aku akan memarahimu?" imbuh Elyaz.


"Maaf, Kak. Mataharinya sangat terik di luar. Jadi, temanku meminjamkan sweater ini padaku." Sungguh, Alamanda menjawab pertanyaan Elyaz dengan perasaan hati yang ngeri.


Suara napas yang dibuang dengan kasar terdengar dari Elyaz. "Teman laki-lakimu? Teman yang sempat kamu ceritakan padaku itu? Yang menyukaimu dan ingin kamu menjadi kekasihnya itu, benar?" terka Elyaz yang memberondong Alamnda dengan banyak pertanyaan.


Alamanda menunduk dengan mata berkedip tidak berarturan. "Kakak marah padaku?"


"Tidak! Untuk apa aku marah? Bukankah kamu sangat senang menerima perhatian darinya?"


"Bukan begitu, Ka-"


"Jangan berkilah, Manda. Aku tak suka!"


Alamanda hanya bisa diam menerima prasangka Elyaz. "Apa lagi salahku? Aku lelah dicemburui seperti ini," gumam Alamanda.


"Kamu masih ingin memakainya, bahkan setelah aku bertanya? Mungkin aku yang terlalu mengatur dan banyak memaksakan kehendakku untuk disetujui olehmu." Elyaz menunjukkan rasa tidak senangnya sekali lagi.

__ADS_1


Alamanda menghela napas panjang, terdengar sedikit seperti sedang menahan perih. Lalu, dia melepaskan saja sweater Dimas yang sedang dikenakannya itu. Dia benar-benar ingin menangis dengan kencang untuk meluapkan rasa jengahnya menerima prasangka buruk Elyaz.


Bersambung ....


__ADS_2