
Malam harinya Kania dan Emir pulang. Untung saja, Elyaz dan juga Alamanda sudah lebih dulu datang. Mereka sudah ada di kamarnya masing-masing sekarang.
"Ayah, istirahatlah duluan di kamar. Aku akan memeriksa anak-anak sebentar," titah Kania pada Emir.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu." Emir dengan senang hati menurut pada Kania.
Wanita yang masih tampak awet muda itu pun memeriksa Elyaz dan Alamanda secara bergantian ke kamar mereka. Ketika dirinya melihat bahwa kedua anaknya itu sudah rebah dan tidur, maka dia hanya tersenyum dan pergi dari sana. Menyusul Emir yang sudah lebih dulu masuk ke kamar utama, yaitu kamar mereka.
"Bagaimana, Bu? Apa mereka sudah tidur?"
"Iya, Yah. Mau dibangunkan, tapi aku tidak tega. Biarlah besok saja kita sapa mereka," ujar Kania.
"Ya sudah, bersihkan diri dan gantilah pakaianmu." Emir memberi usul.
Kania tersenyum seraya mengangguk pelan. Dia pun segera mencuci wajah dan bagian yang dirasa perlu dibersihkan. Selanjutnya dia berganti pakaian, lalu menyusul Emir untuk tidur.
Di sisi lain, Elyaz yang tadi pura-pura sudah tidur, kini bangun dan menyalakan lagi lampu kamarnya yang sempat dimatikan. Dia merasa tergelitik sendiri dengan kepura-puraannya. Pemuda itu lalu tertawa kecil, menertawakan siasat yang dia buat sendiri.
'Malam ini aku kembali terjaga. Memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa segera bersama. Terlalu sakit terus sembunyi di balik keinginan ini, Manda.'
Kecemasan demi kecemasan perihal hubungan yang bisa disebut terlarang itu pun terus bermunculan. Di sebalik rasa lega yang belakangan sudah didapatnya, ternyata Elyaz masih menyimpan beragam ketakutan yang berjelaga. Sampai-sampai, dadanya terasa nyaris remuk oleh perasaannya sendiri.
****
Keesokan harinya, Elyaz mengantarkan Alamanda ke sekolah seperti biasa. Lantas, dia berkumpul bersama teman-teman kuliahnya selekas kemudian. Di tengah kebersamaan itu Elyaz lebih banyak diam. Tidak banyak biacara seperti biasanya.
__ADS_1
"El, ada apa denganmu? Kenapa terus murung dan wajahmu ditekuk seperti itu?" cetus seorang teman bernama Helmi.
"Entahlah, Hel. Aku sedang dilanda dilema saat ini," jawab Elyaz dengan raut wajah yang putus asa.
"Apa kamu sedang jatuh cinta?" bisik Helmi menerka dengan nada meledek.
"Ingin tahu saja. Itu bukan urusanmu." Elyaz menyahuti dengan ketus.
"Ya sudah. Kamu ini selalu saja sama. Bersikap seolah tidak butuh teman untuk bercerita," desis Helmi pada Elyaz.
"Ya, ya, ya! Aku akan bercerita. Kalau begitu, ayo ikut aku!" ajak Elyaz yang langsung bangkit dari duduknya.
"Sekarang?" Helmi seakan tak siap.
"Tahun depan! Tentu saja sekarang, Sialan! Lagi pula, siapa yang menawarkan diri menjadi sukarelawan untuk mendengarkan ceritaku, hum?"
"Ahh, banyak alasan! Nanti kuganti lima kali lipat!" tandas Elyaz seraya menarik paksa tangan Helmi untuk ikut bersamanya.
Mereka pun pamit pada Zain dan Hadi, dua teman mereka yang lain. Selepas itu keduanya bergegas masuk ke mobil Elyaz, lantas pergi dari sana. Helmi merasa terjebak oleh rasa ingin tahunya sendiri, terhadap apa yang sedang Elyaz alami.
Detik kemudian, mereka sampai di sebuah cafe. Tanpa basa-basi lagi, Elyaz pun langsung turun dan tentu saja Helmi turut serta. Mereka memilih sebuah meja dan mulai bercerita, usai memesan dua cangkir kopi dan beberapa menu makanan.
"Seperti janjiku, kamu makanlah sepuasmu."
"Kamu sangat pengertian, Teman," ucap Helmi.
__ADS_1
"Diamlah! Jangan berulah seperti penjilat!" tegas Elyaz.
"Kamu ini ... apa-apa salah di matamu," keluh Helmi sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Elyaz tidak begitu perduli dan tetap dengan dirinya.
"Dengar, aku hanya menceritakan ini padamu. Apa kamu bisa dipercaya?" kata Elyaz.
Helmi mengangguk setuju dengan mulut yang penuh dia pun menjawab, "Percayakan saja padaku. Rahasiamu aman dalam genggamanku," ucapnya.
"Aku jatuh cinta pada adik angkatku sendiri," ungkap Elyaz.
Sontak saja Helmi tersedak dan seketika berhenti menyuapkan makanannya. "Apa yang kudengar ini sebuah kejujuran?"
"Itulah yang membuat pikiranku kacau," jelas Elyaz.
Helmi menghela napas dalam-dalam dan mulai bertanya lagi, "Apa dia ... adik angkatmu itu juga membalas cintamu?" sambungnya.
"Ya! Bahkan, kami sempat beradu cumbu."
"Ya, Tuhan! Apa kamu tidak takut dia hamil di usia yang sangat muda?"
"Tidak sampai ke sana juga, Bodoh. Hanya sebatas berciuman saja."
"Oh, kukira kalian melakukannya," gumam Helmi.
Elyaz meraup wajahnya kasar. Setidaknya dia lega usai bercerita. Walaupun, Helmi sama sekali tidak memberi solusi. Elyaz juga masih menutupi sebagian kebenarannya. Karena kemarin, hampir saja dia merenggut kegadisan Alamanda, kalau saja gadis ayu itu tidak menjerit sekuat tenaga merasakan kesakitan, bahkan sebelum benda pusaka milik Elyaz sempat dibenamkan.
__ADS_1
Bersambung ....