Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 21 Masih Mencari


__ADS_3

Di sebuah jalan yang sepi, Alamanda melangkah tergesa, setengah berlari, dengan sisa tenaga yang ada. Walau napasnya terdengar memburu dan tersengal, mungkin dia lelah karena sudah berjalan cukup jauh, tetapi dia tetap saja mengayunkan langkah kakinya.


"Ibu, kemana Manda harus pergi?" gumamnya sembari menangis.


"Manda lelah, Bu." Gadis itu terus bicara layaknya mengajak bicara ibu kandungnya sewaktu bertatapan muka.


Tanpa diduga, di jalanan yang sepi itu ada dua orang laki-laki. Keduanya berwajah bengis dengan rahang tegas dan perawakan tinggi besar. Kulitnya coklat gelap. Mereka terus memandangi Alamanda dari ujung kaki ke ujung kepala, dan begitu seterusnya.


Lalu mereka berdua bertatapan, seperti sedang saling memberi isyarat untuk melakukan sesuatu. Dengan langkah berbarengan dua lelaki itu pun menghalangi jalan Alamanda. "Mau ke mana, Cantik?" kata salah seorang dari mereka.


Alamanda terhenyak, dia terkesiap dan tidak ingin menjawab, atau meladeni pertanyaan itu sedikit pun. Dia pun mencoba mencari celah untuk menerobos dan terus berjalan. Namun, tangan kekar keduanya menahan tubuh Alamanda.


"Lepaskan! Apa yang kalian lakukan? Permisi, saya hanya ingin lewat!" tandasnya.


"Hahaha! Tidak semudah itu melewati kami, Gadis kecil. Berikan sesuatu dulu kalau ingin melintasi jalan ini." Seorang lelaki yang berkepala plontos bagai lato-lato menyeringai licik terhadap Alamanda.


"Tidak mau! Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan. Tolong minggir! Beri saya jalan." Suara Alamanda semakin parau dan gemetaran karena takut.

__ADS_1


Dengan tatapan tajam dan senyuman sinis Pria satunya menjawab, "Kalau begitu layani kami sampai puas. Kamu pasti punya itu 'kan?" ujarnya sembari menunjuk bagian bawah Alamada dengan matanya.


Alamanda semakin merasa terancam. Dia mulai panik tidak karuan. "Minggiiir!" teriaknya seraya menginjak kaki, lalu menenndang bagian sensitif mereka bergantian secara brutal. Entah dari mana datangnya kekuatan itu.


Tampak dua orang laki-laki asing terebut meringis kesakitan sembari memegangi milik masing-masing yang terpapar tendangann Alamanda. Terdengar juga suara mengaduh dari mulut keduanya. Dan kesempatan itu digunakan Alamanda untuk pergi dengan lari sekencang yang dia bisa.


"Wahai, Pemilik jagat raya. Aku tahu aku adalah pendosa, tapi kumohon selamatkan aku dari kebiadabann orang-orang itu." Alamanda berdoa sembari terus berlari jauh, dan semakin jauh meninggalkan dua lelaki itu.


Tibalah dia di sebuah taman. Di sana cukup ramai pengunjung dan sepertinya aman. Alamanda pun duduk di sebuah bangku panjang untuk sejenak rehat dari lelahnya berlari, menghindari orang-orang dengan niat jahat itu. Sementara, kedua orang tadi juga sudah tidak terlihat lagi. Alamanda menghela napas lega.


Hujan deras turun mengguyur permukaan alam. Semua orang pergi berhamburan, mencari tempat untuk berteduh. Tetapi, tidak dengan Alamanda. Dia memilih tetap di sana. Sekalian meluapkan tangis yang paling kencang di bawah guyuran dan suara deras hujan.


Di sisi lain, ketika itu waktu sudah beranjak sore. Elyaz tenggelam dalam lamunan yang panjang. Dia melupakan makan, minum dan semunya. Satu-satunya yang masih tersisa hanyalah ingatannya tentang Alamanda.


"El, makan dulu. Nanti kita cari lagi Alamandamu itu." Helmi datang membujuk, sembari menyodorkan seporsi makanan pada Elyaz.


Namun, Elyaz menepis pelan makanan itu. "Untukmu saja. Aku tidak lapar."

__ADS_1


"Tapi, El, kamu butuh tenaga untuk mencari Alamanda."


"Aku masih bisa mencarinya, walau dalam keadaan berpuasa berbulan-bulan sekali pun, Hel. Tidak ada yang bisa mengehentikan pencarianku pada Alamanda, entah itu rasa lapar atau tenaga yang berkurang."


Helmi melihat nanar yang brjulaga pada sorot mata Elyaz. Lelaki itu pun tidak dapat berbuat banyak. "Ya sudah. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa, El."


"Terima kasih, Kawan. Aku menghargai perhatianmu."


Waktu semakin beranjak. Kini terang tersapu gelap pekat. Sementara, pertmuan Elyaz dan Alamanda belum juga jelang.


****


Esok paginya, Elyaz kembali mencari keberadaan Alamanda. Menyusuri jalanan kota, juga gang-gang sempit yang mungkin dilaluinya. Di tengah pencariannya itu, ada kerumunan orang yang cukup ramai. Dan saat dia bertanya pada salah seorang dari mereka. Ternyata kerumunan itu terjadi, karena ada sosok seorang gadis yang tengah pingsan.


"Hel, siapa gadis itu?" tanya Elyaz. Pikirannya mulai kacau.


"Bagaimana kalau itu Alamanda?" imbuhnya sembari mematikan mesin sepeda motor Helmi yang dia kemudikan.

__ADS_1


"Mana kutahu itu siapa. Ya sudah, kita cek saja ke sana." Helmi memberi usul dan Elyaz menyetujuinya.


Bersambung ....


__ADS_2