
Mereka kini telah tiba di rumah. Tampak kedua sejoli itu tertunduk diam tak berani menatap pada Kania dan Emir. Sementara itu, air mata terus menggenang di pelupuk mata Kania.
Di keheningan yang menyita ruangan, Emir memulai pembicaraan dengan menghela napas dalam-dalam sebelumnya. "Jadi, apa yang kalian inginkan, Nak?"
Tidak terasa suara halus yang penuh kasih sayang itu membuat Elyaz menitikkan air mata. Dia bangkit dari duduknya dan menghambur berlutut sembari memeluk kedua kaki Emir. Isakkan demi isakkan pecah kala itu.
Alamanda pun tak bisa lagi membendung tangisannya. Dia tampak tersedu hingga nyaris tak bisa bernapas, karena kesedihannya begitu sesak di dada. Namun, dia hanya bisa menatap nanar.
"Maafkan El, Yah. Maaf karena telah mengecewakan Ayah dan Ibu, tapi El mencintai Manda, Yah." Elyaz masih terus bersimpuh sembari mengutarakan isi hatinya.
Tetes air mata Emir jatuh membasahi Elyaz. Dia merunduk dalam-dalam seraya meraih tangan Elyaz dan menuntunnya untuk berdiri. "Bangun, Nak, ayo kita bicara."
Kini mereka berempat pindah ke ruang keluarga. Duduk lebih nyaman dan tenang di sana. Dan percakapan pun kembali dimulai.
"Apa yang kamu mau, Nak?" lontar Emir lagi.
"El ingin menikahi Manda, Yah." Tanpa ragu Elyaz mengatakannya.
Alamanda hanya bisa diam, memejam, dengan luruhan air mata yang tiada henti berderai. Itu teramat menegangkan. Alamanda dilanda sedih dan ketakutan.
__ADS_1
Kania menggenggam jemari tangan Alamanda. Memeberi kekuatan sekaligus penghiburan. Membuat Alamanda mengerjap dan semakin mengharu biru. "Ibu ...," lirihnya dalam isak yang sesak.
Emir melanjutkan pembicaraan, "Tapi, Nak, dia adikmu."
"Bukankah kami tidak sedarah, Yah? Bagaimana mungkin ada larangan untuk saling mencintai di antara kami?" sangkal Elyaz.
Emir menatap sayu pada Elyaz dan Alamanda secara bergantian. Tampak kebingungan mendalam tersirat di raut wajah dan sorot mata Lelaki itu. "Kalau begitu, tunggu sampai Manda lulus sekolah dulu, El."
Kini semua orang mengalihkan atensinya pada Emir. "Jadi, hubungan kami direstui, Yah?" Tampak mata Elyaz berbinar bahagia.
"Ayah tidak bisa mencegah perasaan kalian."
"El, turunkan Ayah!" pinta Emir.
Setelah itu hal lain yang tak terduga kembali terjadi. Manakala Emir memutuskan, "Kami merestui kalian, dengan syarat ... salah satu dari kalian harus tinggal terpisah untuk sementara waktu. "El, Ayah ingin kamu pindah ke luar kota. Dan kembalilah saat Manda sudah lulus sekolah."
"Ayah, tapi itu satu tahun lagi, Yah. El mana bisa berlama-lama jauh dari Manda," sangkal Elyaz.
"Keputusan Ayah sudah mutlak, El. Kalau kamu masih membangkang, silakan pergi dan jangan harap kami akan memberikan restu pasa kalian."
__ADS_1
Elyaz mulai lemas karena tak punya pulihan lain, selain patuh. Sekujur tubuhnya terasa bagai tak bertulang. "Bagaimana mungkin ini terjadi?" Lagi-lagi dia bertanya dalam gumamnya.
"Kakak, apa yang kamu khawatirkan? Bukankah ini bagus buat kita? Kakak bisa selesaikan kuliah, dan aku menyelesaikan sekolah. Keputusan Ayah sangat baik, Kak." Alamanda mencoba menghibur Elyaz.
"Tapi, Manda, bagaimana mungkin aku bisa menahan beratnya rindu yang akan kulalui di setiap hariku? Kalau sedetik saja, aku tidak bisa jauh dari kamu?"
"Duh, kenapa anak kita jadi begini, Yah?" bisik Kania pada Emir.
"Namanya juga anak muda. Bukankah, kita dulu juga begitu." Emir membalas dengan berbisik juga. Mereka pun tertawa geli.
"El, ini keputusan yang adil. Daripada kalian tidak dapat restu sama sekali. Iya 'kan Manda?" tutur Kania sembari mengusap lembut bahu Elyaz.
Alamanda tersenyum dan mengangguk setuju, "Iya, Bu."
"Tapi, Bu ...."
"Sudah, sekarang kalian bersihkan badan dulu. Setelah itu makan. Ini sudah hampir larut malam." Kania memberi titah pada keduanya.
Bersambung ....
__ADS_1