Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 8 Boneka


__ADS_3

Keesokan harinya, Alamanda kembali ke sekolah. Diantarkan oleh Elyaz. Tepat di depan gerbang sekolah, Elyaz menghentikan mobilnya. Dia juga terus memperhatikan Alamanda sampai Gadis itu berjalan di koridor sekolah dan disambut oleh Elina, temannya. Barulah Elyaz bertolak dari sana.


'Aku ingin menggenggamu lebih erat dari nadi, Manda. Membiarkanmu meringkuk nyaman dalam setiap dekapan tanganku. Aku tidak ingin kehilangan atau berlama-lama berjauhan denganmu.'


Sepanjang perjalanan itu, Elyaz tidak berhenti mengingat Alamanda. Sesekali dia tersenyum membayangkan kebersamaan semalam. Atau, meresapi nikmatnya sisa kecup yang masih lekat terasa.


Dalam perjalanan itu juga, Elyaz melihat sebuah toko boneka. Dia menyempatkan diri mampir di sana dan membeli satu buah boneka untuk dia berikan pada Alamanda nantinya. Ukurannya lumayan besar. Dia menaruhnya di jok depan, dengan posisi didudukkan. Elyaz tertawa geli sendiri saat melihat boneka itu duduk layaknya manusia.


Hari ini Elyaz tidak ada kelas dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia akan menaruh boneka itu di kamar Alamanda sebagai kejutan. Hasratnya untuk membuat Alamanda senang semakin menggebu-gebu saja.


Detik kemudian Elyaz pun sampai di rumah. Dia membawa bonekanya dari mobil dan akan menaruhnya di kamar Alamanda. "Aku tidak sabar ingin melihat seperti apa kamu tersenyum saat melihat ini," gumam Elyaz.


Tak lama kemudian, ponsel Elyaz berdering. Dia pun segera mengambil ponsel itu dari saku celananya. Tertera di layar ponsel itu nama kontak dengan tulisan 'Ibu' yang jelas adalah Kania.


[Halo, Bu,] sapa Elyaz begitu dia menerima panggilan telepon itu.


[Elyaz, bagaimana keadaan kamu dan Manda, adikmu? Kalian baik-baik saja 'kan selama Ayah dan Ibu tinggalkan?]


Elyaz tersenyum mendengar pertanyaan itu. [Tenang saja, Bu. Semuanya aman terkendali,] jawabnya.


[Ya sudah, kalau begitu ibu tutup dulu, ya, teleponnya. Jangan lupa ingatkan adikmu makan.]

__ADS_1


[Siap, Bu. Bersenang-senanglah. Jangan cemas perihal kami,] tutup Elyaz. Panggilanpun berakhir.


"Bahkan, keadaan kami sangat-sangat baik tanpa ada kalian, Bu," ucap Elyaz pelan seraya tertawa kecil.


****


"Ada apa, sih, Kak? Kenapa aku harus menutup mata?" ujar Alamanda. Saat itu dia sudah berada di rumah sepulang sekolah dijemput oleh Elyaz.


"Sudah, ikuti saja apa kata Kakak," titah Elyaz sembari menutup mata Alamanda dengan kedua tangannya.


Lalu, Elyaz mulai membuka pintu kamar Alamanda sembari menuntunnya masuk ke dalam. "Sekarang buka matamu," ujarnya.


Alamanda seperti berhenti bernapas sesaat saking terkejutnya. "Kakak ... ini untukku?" tanyanya dengan wajah sumringah dan mulut yang menganga heran.


"Terima kasih, Kak." Alamanda menghambur memeluk Elyaz.


Elyaz tersentak, tapi juga senang bukan kepalang. "Kamu menyukainya?" bisik Elyaz lirih.


"Lebih dari kata suka itu sendiri," sahut Alamanda yang masih membenamkan kepala di dada bidang Elyaz.


'Sempurna sudah kebahagiaanku setiap kali melihatmu tersenyum atas apa yang aku lakukan. Basahlah tanah hatiku dan tak tersisa secuil pun yang usang. Sebab, senyummu lebih indah dari rinai hujan. Sejuk memeluk hatiku, Manda.'

__ADS_1


Hingar kebahagiaan terus terlontar di bisik suara hati Elyaz. Dia memang pecinta sejati. Di mana perasaannya hanya akan damai jika disirami dengan kasih sayang dan kebahagiaan dari kekasih yang dia cintai.


Alamanda mendongak menatap wajah tampan Elyaz. "Ini boneka pertamaku, Kak," cetusnya.


Elyaz mencekungkan kedua alisnya merasa heran. "Yang benar saja?" candanya.


"Sayangnya memang benar, Kak. Seumur hidupku, aku baru punya boneka sebesar ini. Dulu setiap aku minta boneka, Ayah dan Ibuku di kampung akan membuatkanku boneka dari bahan paling sederhana," beber Alamanda.


"Benarkah? Sesederhana apa?" tanya Elyaz.


"Sesederhana kain panjang yang digulung lalu dilipat, dibentuk menyerupai boneka yang memiliki dua tangan dan dua kaki. Walau tanpa wajah dan mata. Apa Kakak bisa membayangkannya?" kata Alamanda.


Elyaz menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, tapi itu adalah cara yang hebat. Aku menghargai dengan seteguh hati, apa yang kedua orang tua atau calon mertuaku lakukan itu," ungkapnya.


"Iih, dasar gombal!" Alamanda memukuli dada Elyaz dengan manja.


"Berhentilah, Sayang. Atau, aku akan menerkammu!" bisik Elyaz dengan sorot mata yang mulai temaram menahan suatu keinginan.


Bersambung ....


Teman-teman, jangan lupa mampir di karya othor kece Irma Kirana, sohib aku. Yang pastinya keren dan seru banget. Langsung saja baca, ya. ❤🖤👇

__ADS_1



__ADS_2