Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 14 Memikirkan Apa?


__ADS_3

Seketika Elyaz menghentikan mobilnya. Di tepi jalan sepi yang entah menuju ke mana. Itu bukan jalan yang biasa dilalui untuk pulang.


Alamanda terhenyak sampai napasnya tersengal. Dia menoleh pada Elyaz sambil menatap nanar. Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya begitu saja.


"Aku cemburu, Manda!" tandas Elyaz dan langsung memagutt bibir Alamanda tanpa aba-aba.


Paguttan itu semakin dalam dan liar seakan menolak untuk dihentikan. Tangan kiri Elyaz menyangga sambil sesekali menekan kepala Alamanda agar dia bisa dengan leluasa melakukan apa yang menjadi maunya itu. Sementara, tangan sebelah kanan sibuk bertualang menjelajahi bagian yang lainnya. Ya, di atas dua bukit keagungan yang indah menawan, tangan Elyaz seakan tak ingin usai menciptakan sentuhan-sentuhan gemas memanjakan.


"Kak-"


Elyaz tidak ingin mendengar apa pun saat itu. Dia kembali menyumpal mulut Alamanda dengan sapuan lembutnya. Gadis itu hanya bisa pasrah. Matanya temaram menyiratkan hasrat yang kian membara.


Kancing baju seragam Alamanda telah terbuka hampir seluruhnya  Sesuatu di sebalik kain penyangga itu sudah bisa terpapar dengan leluasa. Ya, Elyaz kembali aktif bermain di sana.


Entah berapa lama adegan menegangkan sekaligus menantang naluri itu berlangsung. Hingga Elyaz kini membuat gadis itu jauh meninggalkan kesadaran. Lalu sesuatu yang asing, basah dan lengket terdapt di jemari yang dia gunakan untuk menyusuri lembah surgawi itu.


Alamanda tidak mengerti rasa apa yang sedang dialaminya. Itu aneh, tapi seperti membuatnya terbang seringan kapas. Dia terus mengawang, melambung, menembus lapisan awan. Tidak lama kemudian, sekujur tubuh Gadis itu mengejang, meliuk dan terus bergerak tidak karuan. Ya, dia telah mencapai puncak pendakiannya.


"Aakkhh!" pekik Elyaz parau. Dia merasakan miliknya semakin tidak terkendali.

__ADS_1


Sementara itu, Alamanda terkapar lemas tidak berdaya. Dia menatap sayu pada Elyaz. Sungguh, ini adalah pertama kalinya dia merasakan getaran sedahsyat itu.


"Sayang ...," lirih Elyaz sembari menahan sesuatu yang belum tuntas.


Alamanda hanya berkedip perlahan. Merasakan sisa-sisa keliaran yang Elyaz lakukan. Entah harus marah atau senang. Yang jelas, pemilik gigi kelinci itu tak dapat mengelak, bahwa semua yang tadi itu begitu asyik untuk dinikmati.


"Manda ...," ulang Elyaz menyeru gadisnya itu.


"Kamu marah pada Kakak?" imbuhnya.


Alamanda menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi tadi itu apa, Kak? Rasanya aneh sekali."  Dia mencoba menjabarkan perasaannya.


"Emm, aku malu menjawabnya."


"Baiklah, biar kutebak. Itu rasanya tidak buruk 'kan?"


"Ihh, Kakak ... jangan seperti itu. Aku sungguh malu." Alamanda menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Ahh, dia membuatku semakin ingin," batin Elyaz yang berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasrat yang sudah di ujung.

__ADS_1


Kalian tahu rasanya seperti apa? Itu sangat menyakitkan. Kepala Elyaz terasa pusing sekarang. Dia butuh menuntaskan sesuatu itu, tapi entah bagaimana? Dia tidak menemukan caranya.


"Kakak, kenapa diam seperti itu?" Alamanda mengintip ekspresi wajah Elyaz dari celah jemari tangan yang menutupi wajahnya.


Elyaz menarik napasnya dengan sangat perlahan, "Apa kamu mau membantuku?" tanyanya menyiratkan sorot mata yang memohon.


Namun, tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu derasnya, dibarengi suara petir yang menggelegar. Elyaz tersadar dan ternyata yang terjadi baru saja hanyalah khalayan belaka. Dia berkhayal sejak menghentikan laju mobilnya.


"Kakak kenapa, sih? Jangan membuatku takut. Sudah hampir 30 menit kita berhenti di jalan ini dan Kakak hanya diam dengan tatapan kosong."


Elyaz menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, Manda," ucapnya.


"Apa Kakak masih cemburu karena aku memakai sweater Dimas? Aku sudah melepasnya semenjak tadi. Kakak malah diam seperti patung. Memikirkan apa, sih?" oceh Alamanda.


"Diamlah, Cerewet! Ayo kita pulang sekarang."


Alamanda mendumal sebal, "Dasar aneh," makinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2