
Mata Elyaz menatap sayu, namun begitu jeli seolah menelanjangii Alamanda. "Siapa yang mengajarimu begitu?" cetusnya dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
"Tentu saja Kakak." Alamanda menjawab sembari menundukkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama pada laki-laki lain?"
"Apa maksud Kakak? Kenapa Kakak selalu saja memberiku pertanyaan yang menyebalkan seperti itu? Kakak tidak percaya padaku?" protes Alamanda seraya mendumal.
"Jangan ngambek begitu, ahh. Nanti cantiknya hilang." Sebuah belaian lembut diberikan Elyaz pada pipi Alamanda, sebagai bujukan.
"Habisnya Kakak menyebalkan!" tandas Alamanda.
"Ya sudah, Kakak minta maaf. Jangan marah lagi, ya." Elyaz membuat kepala Alamanda bersandar di bahunya.
Beberapa saat mereka ada dalam posisi itu, sebelum akhirnya Elyaz mengajak Alamanda untuk pulang. Saat itu hari sudah sore. Melewati batas terlambat pulang dari sekolah Alamanda.
Sementara itu di rumah, Kania duduk dalam gelisah dan harap-harap cemas. Pasalnya, Elyaz tidak mengangkat panggilan teleponnya. Sedangkan menghubungi Alamanda juga tidak tersambung.
"Bi Nari, apa mereka juga selalu begini saat saya dan suami saya pergi?" selidik Kania.
__ADS_1
"Tidak juga, Bu. Den Elyaz bahkan selalu izin sama Bibi kalau mau pergi ke luar mengajak Non Manda," jawab Bi Nari seadanya.
"Apa? Pergi ke luar?" gumamnya sembari berpikir.
Bi Nari mengangguk pelan dan mulai takut salah. "Semoga saja Den Elyaz dan Non Manda segera pulang. Kasihan Bu Kania kalau sedang kepikiran seperti ini," batin Bi Nari.
Kania mulai jauh berpikir. Mengingat kata-kata Emir tempo hari, saat mereka berada di hotel di luar kota. "Apa kecurigaan suamiku benar-benar terjadi? Bagaimana kalau Elyaz jatuh cinta pada Manda?" Pikiran Kania muali berkecamuk.
Detik kemudian setelah beberapa saat berselang. Elyaz dan Alamanda pun datang. Mereka tampak biasa dan tidak ada yang mencurigakan. Keduanya seperti seorang aktor yang sedang berakting dengan mahir untuk mengelabuhi Kania.
Kania sedikit terperangah dan tersadar dari lamunannya. Lantas dia berdiri bergegas menghampiri Elyaz dan Alamanda yang sedari tadi sudah menyapanya dengan salam. Namun, lamunannya yang sedang menerawang membuat Kania tidak menjawab sapaan mereka.
Kania langsung luluh. Tampak sudut bibirnya dia tarik hingga senyumnya melengkung dengan indah. "El, Manda ... lain kali berkabar dulu kalau pulang terlambat. Kalian membuat Ibu cemas," katanya usai menerima bakmie yang diberikan Elyaz.
"Iya, Bu. Manda tidak bawa ponsel." Alamanda menyahuti sembari menyalami tangan Kania. Lantas dia di bergegas pergi ke kamarnya.
"Ahh, iya, Bu. Ponsel El juga sejak tadi di taruh di tas dalam mode hening, jadi El tidak tahu kalau ada telepon masuk."
Kania hanya menggelengkan kepalanya sembari berdecak. "Ya sudah. Sana ganti pakaian dulu, aromanya sudah bau asam," canda Kania.
__ADS_1
"Siap, Bu!" tandas Elyaz seraya pergi berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dengan napas yang tersengal, Elyaz masuk ke dalam kamar Alamanda. "Hey, kenapa menangis?" tanyanya dengan terkejut.
"Kita sudah banyak berbohong pada ibu, Kak."
"Manda ...," lirihnya.
"Apa kamu sedang menyesal karena menghabiskan waktu bersamaku?" Elyaz melangkah pelan ke arah Alamanda.
"Kakak, bisakah kali ini saja Kakak mendengarkan dan mengertikan perasaanku? Kenapa semua keluhku Kakak sangkutpautkan dengan perasaan Kakak?" Kali ini nada bicara Alamanda sedikit meninggi.
"Karena aku merasakan dirimu di dalam diriku, dan aku mau kamu pun begitu, Manda!"
"Cukup, Kak. Entah sampai kapan aku tidak bisa bebas mencurahkan isi hatiku." Gadis itu meraup kasar wajahnya.
"Siapa yang bilang begitu? Aku hanya mau kamu jujur dan terbuka padaku. Tidak ada yang melarangmu untuk menuangkan perasaanmu, Manda."
Perdebatan itu kian memanjang. Alamanda merasa tidak didengar, sementara Elyaz juga tetap dengan egonya. Mereka terus berseteru di dalam ruangan kamar yang mulai terasa panas itu.
__ADS_1
Bersambung ....