Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 9 Gombal


__ADS_3

Alamanda tak kunjung mengindahkan kata-kata Elyaz untuk berhenti memukuli dadanya dengan manja. Hingga sesuatu yang lembut mendarat dan mengamuk liar menyusuri bibir dan leher jenjang Alamanda. Ya, Elyaz memberikan pelajaran pada Cintanya itu.


"Ihh, Kakak. Sana ke luar!" usir Alamanda usai segenap paguttan liar Elyaz yang memerkusi bibir ranumnya terlepas.


"Baiklah, kamu gantilah seragammu itu. Nanti kita bersiap untuk makan." Elyaz lantas meninggalkan kamar Alamanda.


Di kamarnya, Pria itu terus tersenyum mengingat kejadian baru saja. Itu teramat manis untuk dikenang dalam ingatannya. Rasa madu yang dia cecap dari bibir Alamanda benar-benar membuatnya candu.


Usai berganti baju dan membersihkan wajahnya, Alamanda ke luar. Dia mengetuk pintu kamar Elyaz dan mengajaknya turun untuk makan. Mereka pun berjalan menuruni tiap anak tangga dan segera duduk di kursi menghadap ke meja makan yang sudah di atasnya sudah terhidang menu-menu yang disiapkan oleh Sang Asisten rumah tangga.


Di sela waktu makannya, seperti biasa Elyaz tetap memberi perhatian pada Alamanda. Dia tak jemu-jemu memandangi wajah ayu itu. Sementara Alamanda sendiri tetap biasa saja. Dia menerima perhatian yang tanpa sadar membuat Elyaz merasa semakin diterima.


"Kamu sudah selesai?" tanya Elyaz.


"Sudah, Kak." Alamanda menyunggingkan senyum yang membuat kecantikannya kian terpancar.


Andai tidak dilarang, ingin sekali Elyaz melahap Alamanda saat iu juga. Pesona Gadis itu telah meluluhlantakkan akal sehatnya. Namun, kembali dia tersadar dan meredam pikiran liarnya itu.


Kini mereka bersantai di sofa ruangan, sambil menunggu sore berlalu. Diselingi dengan membaca buku kesukaannya, Alamanda tampak sangat menikmati waktu bersantainya itu. Sedangkan Elyaz tetap dengan atensinya. Dia memperhatikan wajah Alamanda dengan seksama sambil sesekali mengambil foto Gadis itu dengan kamera ponselnya secara diam-diam.


"Kakak, aku bosan dan ingin menghirup udara segar."


Tanpa pikir panjang, Elyaz langsung menggendong Alamanda dan membawanya menuju balkon rumah. Suara gelak tawa Alamanda terdengar renyah. Dia minta diurunkan dari gendongan Elyaz, meski tidak diindahkan oleh Sang Kakak yang sekaligus Pria yang mencintainya itu.


"Ihh, Kak El. Kakak menyebalkan!" umpat Alamanda saat sudah diturunkan dari gendongan Elyaz.

__ADS_1


"Bilang saja senang kugendong, iya 'kan? Sudah mengaku saja. Aku melihat senyum kemenangan yang tertinggal di sudut bibirmu," goda Elyaz.


"Berhentilah menjadi menyebalkan. Kakak selalu saja merusak suasana hatiku!" tandas Alamanda. Terlihat bibirnya mengerucut karena sebal.


"Kamu membuatku gemas saat sedang kesal seperti itu." Elyaz bicara dengan jarak wajahnya yang sangat dekat pada wajah Alamanda.


"Menyingkirlah, Kakak!" Alamanda mencoba menjauhkan wajah Elyaz dengan menoyor pelan dahinya.


"Tidak mau! Aku bahkan tidak mampu berjauhan denganmu, walau hanya sedetik, Manda."


"Berlebihan!" hardik Alamanda.


"Tidak! Aku sudah bilang. Tidak ada yang berlebihan untuk perasaan cinta yang aku punya," sangkal Elyaz.


"Kamu sudah mandi?" tanya Elyaz.


"Hehehe ... belum, Kak." Alamanda menjawab sembari cengengesan.


"Dasar jorok! Sana mandi dulu," titah Elyaz.


"Seperti Kak El tidak jorok saja! Kakak juga belum mandi 'kan? Aku mencium aroma bau asam dari badan Kakak," ejek Alamanda yang tidak terima dikatai Elyaz.


"Tidak mau kalah!" timpal Elyaz.


"Biarkan saja."

__ADS_1


Mereka terus berdebat sambil berdiri di depan pintu kamar masing-masing, sebelum akhirnya masuk dan mandi. Tentu saja mandi di bilik mandi mereka masing-masing.


Setelah merasa segar, Elyaz mengetuk kembali kamar Alamanda. Hal itu seperti sudah menjadi kegiatan rutin yang wajib dia lakukan. Tanpa ragu dia pun masuk usai Alamanda membukakan pintu.


Sepenggal senyum melebar di tarikan sudut bibir Elyaz. "Kamu sangat segar dan cantik sekarang," komentarnya seraya menatap lekat wajah Alamanda.


"Aku tidak menerima pujian gombal Kakak!" sahut Gadis itu ketus. Walau ketusnya hanya dibuat-buat saja.


"Benarkah?"


"Kalau begitu aku harus berusaha lebih keras lagi." Elyaz langsung menyergap tubuh sintal Alamanda dan membopongnya ke atas tempat tidur.


"Kakak, apa yang Kakak lakukan? Lepaskan aku!" Pemilik mata coklat itu meronta dan berusaha melepaskan diri dari kebuasan Elyaz yang tanpa aba-aba.


Tanpa menghiraukan ucapan dan gerakan penolakan dari Alamanda, Elyaz terus menghujani Gadis itu dengan segenap cumbuan melenakan. Di waktu persekian menit, Elyaz sudah mampu menaklukkan Kesayangannya itu. Tampak Alamanda mulai menikmati dan turut memberi balasan pada setiap ciuman yang diberikan Elyaz. Ya, walau masih sangat kaku.


Entah bagaimana awalanya, tapi kini piyama tidur bagian atas Alamanda telah terbuka seluruhnya. Menyisakan kain penyangga dada berwarna erah muda yang menampakkan sembulan dua bukit kembar yang begitu indah dari sebaliknya. Tangan Elyaz lincah bergerliya menjelajahi setiap inci bukit kembar itu.


Racauan merdu terus keluar dari mulut Alamanda. Terlebih, ketika jemari tengah Elyaz lihai beratraksi di belantara lembah surgawi milik Alamanda yang mulai basah dan sedikit lengket. Mereka terus berselancar di derasnya ombak gairah yang semakin berdeburan.


Bersambung ....


Teman-teman, jangan lupa mampir juga di karya othor kece, sohibku, Kak Weny Hida. Dijamin seru dan bikin penasaran. Langsung saja .... 👇❤


__ADS_1


__ADS_2