Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 30 Leluasa


__ADS_3

Satu minggu dari hari itu. Pernikahan antara Elyaz dan Alamanda terjadi juga. Ayah kandung Alamanda, Pak Satria besama ibunya, Ibu Rina juga dihadirkan. Ya, semua anggota keuarga lengkap walau hanya menginap satu malam saja dan kedua orang tua kandung Alamanda pun kembali ke desa.


Meski sempat kecewa, karena Alamanda harus menikah sebelum lulus sekolah, tetapi akhirnya orang tua Alamanda dapat berlapang dada menerima. Mereka mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih memprihatinkan, andai kedua sejoli itu sampai nekad lebih lama melakukan hal-hal yang melampaui batas.


"Sudahlah, Bu. Ini lebih aman bagi Manda, ketimbang mereka aneh-aneh nantinya." Satria mencoba menenangkan Rina. Dan mereka pun bertolak meninggalkan kediaman keluarga Emir.


"Ingat, El, Manda! Walaupun kalian sudah menikah, tapi Ayah ingin ini tetap menjadi rahasia. Sampai waktunya Alamanda lulus sekolah, barulah kalian boleh memberitahu semua orang tentang pernikahan kalian ini." Emir menyampaikan pesan dan keinginannya dengan seksama.


"Selamat, ya, Nak. Walau apapun yang terjadi, kalian tetap anak Ibu. Anak Ayah dan Ibu yang selalu kami sayangi," ucap Kania dengan suara parau.


Alamanda menghambur memeluk Kania dengan erat. "Maafkan Manda dan Kak El, Bu." Dengan isak tangis yang terdengar sesak dan menyayat hati.


Kania.semakin menangis sembari membalas pelukan Alamanda dengan erat. Lalu, Elyaz turut serta ke dalam dekapan Ibu dan Alamanda yang sudah sah menjadi istrinya. Tidak lama, Emir pun menjadi pelengkap yang terakhir melingkarkan pelukannya. Keharuan memenuhi sesisi ruangan.

__ADS_1


****


Malam hari tiba. Saat paling dinanti oleh sepasang pengantin baru yang masih muda belia. Entah mengapa, Elyaz justru menangis di pangkuan Alamanda.


"Kakak, jangan menangis." Alamanda mencoba menenangkan Elyaz, walau kala itu dirinya pun turut menangis.


"Maaf, karena aku telah merenggut masa depanmu, Sayang," ucap Elyaz dengan bibir bergetar dan air mata bergenangan.


"Sudahlah, Kak. Semuanya telah terjadi," imbuh Alamanda lagi.


"Tentu saja tidak. Asalkan, Kakak tidak mengingkari janji yang sudah Kakak ikrarkan."


Mendengar kata-kata Alamanda, Elyaz merasa lega dan sangat bahagia. Dia menyeka air matanya dengan segera. Lalu, terjadilah malam pengantin yang penuh dengan sejuta desau kenikmatan.

__ADS_1


Mereka melakukannya, kali ini dengan sangat leluasa. Tanpa rasa khawatir sama sekali. "Aku mencintaimu lebih dari kata cinta itu sendiri, Manda."


Alamanda hanya menjawab dengan senyum yang tersungging begitu manis di bibirnya. "Aku harap, tidak hanya untuk saat ini, Kak."


"Tentu saja, Sayang. Sampai hembusan napas terakhirku, aku akan tetap mencintaimu." Elyaz kembali melesakkan miliknya ke lorong surgawi Alamanda.


Hilang sudah, semua percakapan itu tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanyalah deru napas yang memburu saling bersahutan. Suhu kamar yang dingin tidak lagi berarti, karena semuanya telah memanas terbakar oleh gairah mereka yang berkobar-kobar.


Sesaat hening, denting jam terdengar berdentang menyusuri detik-detik pada tiap angka. Mereka sudah melakukannya sebanyak tiga kali pertempuran. Hingga akhirnya, keduanya lemas terkulai dan tidur dalam posisi saling berpelukan.


****


Di sekolah Alamanda, sahabatnya yang tidak lain adalah Elina sedang duduk termenung. Dia menatapi bangku Alamanda yang tampak kosong. "Kamu kemana, sih, Manda? Kenapa tidak pernah mengabari aku?" Tak terasa air mata Elina luruh membasahi pipinya.

__ADS_1


Sejak kejadian di mana Elyaz membawa pergi Alamanda ke luar rumah, Alamanda memang tidak pernah mengabari sekolah, ataupun Elina. Hingga teman sebangku Alamanda itu menjadi sedih dan terpikirkan akan dirinya.


Bersambung ....


__ADS_2