Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 20 Alamanda Pergi


__ADS_3

Saat itu Elyaz benar-benar membawa Alamanda pergi dari rumah orang tuanya. Dia sudah tidak mau lagi mendengarkan nasehat, atau peringatan apapun yang diberikan padanya. Walau Alamanda tampak keberatan dengan keputusan yang diambil Elyaz, dia tidak perduli dan bersikukuh mengajak Gadis itu pergi meninggalkan rumah.


****


Kini mereka berada di sebuah penginapan. Alamanda dengan wajah cemas, sementara Elyaz terus berjalan ke sana ke mari layaknya orang yang sedang dilanda kegelisahan. Sesekali dia menatapi Alamanda kesayangannya itu.


Lelaki itu mulai berlutut di hadapan Alamanda dan berkata, "Jangan cemas, Sayang. Aku akan selalu menjagamu," ucapnya.


"Tapi, Kak, bagaimana dengan ayah dan ibu? Mereka masih sangat marah pada kita? Aku tidak ingin Kakak dicap sebagai anak pembangkang yang melawan pada orang tua."


Elyaz membaca kekhawatiran yang begitu besar di sorot mata Alamanda. "Sekali saja, tolong percayalah padaku, dan yakin saja bahwa semuaya bisa kita hadapi bersama."


"Sekarang tunggulah di sini. Kakak akan membeli makanan untuk kita," titah Elyaz sembari bergegas.


Detik kemudian, saat Alamanda sudah sendirian. Dia mulai memikirkan cara yang bisa diusahakan untuk membujuk Elyaz supaya pulang dan membiarkan dirinya saja yang pergi. Dia tidak mau masa depan lelaki itu berantakan karena dirinya.


"Aku harus lari dari sini," gumamnya sembari bergetar.


Alamanda segera berjalan ke luar dari kamar penginapan dengan langkah waspada dan sedikit mengendap-endap. Dia terus mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun, tidak diduga Elyaz sudah datang dan sedang berjalan menuju ke dalam penginapan.


Alamanda yang terkejut membelalakkan matanya bulat-bulat dengan napas tertahan. Lantas, dia bersembunyi di balik dinding tembok yang terdapat beberapa tanaman hias, yang mengarah ke lobi penginapan. Jantungnya berdebar seirama rasa takut akan ketahuan oleh Elyaz.

__ADS_1


Di sisi lain, Elyaz terus berjalan meuju kamar yang mereka pesan. "Manada!" teriaknya menyeru dengan nyaring.


"Kemana dia?" imbuhnya sembari menyisir ruang kamar dan juga bilik mandi. Tetapi, tidak dia temukan sosok wanita kesayangannya itu.


BRUGH!


Dijatuhkannya begitu saja, makanan yang telah dia beli untuk dimakan berdua dengan Alamanda. "Manda, ke mana kamu pergi sebenarnya?"


Pikiran Pemuda itu mulai berkelana. Kemelut berkecamuk di ruang hati dan pikirannya. Dia meraup wajah dan meremmat rambutnya frustasi. "Arrrgh!" Kembali dia bertriak sambil merutuki diri dan keadaannya.


Tanpa memperdulikan apa-apa lagi, Elyaz pun langsung berlari tergesa ke luar untuk mencari Alamanda. Dia berusaha bertanya pada setiap orang yang ditemuinya, "Apa Anda melihat gadis dalam foto ini?" ucapnya pada siapa saja, sembari menunjukkan foto Alamanda yang ada di galeri ponselnya.


Dari semua orang yang sempat dia tanya, tidak ada satu orang pun yang mengetahui, atau sekedar melihat Alamanda. Elyaz hanya mendapatkan kata 'tidak dan gelengan kepala' sebagai jawaban yang dia terima dari mereka.


"El!" teriak sesorang dari sebrang jalan. Suara itu sangat nyaring hingga masih dapat terdengar meski bersaing dengan bising kendaraan yang lalu lalang.


Elyaz menoleh mencari siapa yang memanggil namanya. Dan semakin lama, tampak sebuah sepeda motor memutar arah balik dan seseorang itu pun mendekat kepadanya. "Helmi ...," lirihnya.


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa berjalan kaki?" cecar Helmi yang terlihat heran.


"Ceritanya panjang." Elyaz menjawab dengan singkat sambil menunduk menyembunyikan kesedihan.

__ADS_1


"Ya sudah, cepat naik!" perintah Helmi sembari memberi isyarat dengan gerakan kepalanya agar Elyaz naik ke sepeda motornya.


Selekas kemudian, keduanya pun tiba di sebuah warung kopi sederhana. Elyaz mulai menceritakan apa yang tengah menimpanya, juga tentang menghilangnya Alamanda dari rumah penginapan yang baru mereka pesan. Pria yang biasanya bicara dengan nada suka-suka itu, kini tampak lesu saat brcerita kepada Helmi. Seakan menyiratkan betapa berat beban dan juga kesedihan yang dia emban.


"Gilaa, sih, menerutku! Kamu nekad sekali sampai pergi dari rumah orang tuamu demi adik angkat yang merangkap kekasihmu itu," komentar Helmi.


"Hey, Sialaan! Aku sedang tidak butuh hardikan sekarang. Daripada bicara tentang tindakanku yang kamu anggap salah, lebih baik bantu aku menemukan Manda."


"Ya ampun. Kamu tampak begitu mencintainya," sambung Helmi menimpali.


"Bahkan aku bisa gila, andai tidak bisa menemukannya lagi!" tandas Elyaz.


"Huuuft! Orang jatuh cinta memang selalu menjadi bodooh dan merepotkan." Helmi menghela napasnya dalam-dalam.


"Kamu mau membantuku, atau tidak, Bedebaah!"


"Iya, iya. Kenapa kamu jadi galak sekali?"


"Ahh, kamu kelamaan. Sini biar aku yang bawa sepeda motornya." Elyaz menyahut kunci sepeda motor dari tangan Helmi dan mulai menyalakan mesinnya.


Helmi pun naik dan menjadi orang yang dibonceng oleh Elyaz. Bagai kesetan, Elyaz lalu mengemudikan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dan ya, dia berhasil membuat temannya, Helmi, berteriak ketakutan.

__ADS_1


"Pelan sedikit, Elyaz!" cercanya penuh rasa takut akan terjatuh atau menabrak.


Bersambung ....


__ADS_2