
Happy reading...
🍄🍄🍄
Shilla menatap mata Danu, mencari keyakinan untuk menceritakan semuanya, Shilla tidak ada niat untuk menyembunyikannya dari Danu tapi ia belum menemukan saat yang tepat untuk mengatakannya. Apakah benar inj saat yang tepat? Shilla berusaha meyakinkan dirinya.
"Shilla, apakah kamu tidak ingin mengatakan semuanya padaku?" Tanya Danu yang melihat Shilla masih setia dalam kebungkamannya.
"Danu...".. Shilla berusaha dengan berani menatap Danu saat berbicara "Aku memang masih memiliki mama dan papa, mereka masih satu daerah dengan kita dan Raka itu rekan bisnis papaku,,"
"Kalau hanya sekedar rekan bisnis kenapa dia ingin mendapatkanmu?"
"Karena dia juga calon tunangan yang dipilihkan mama dan papaku."
"Apa?! Kenapa kamu tidak pernah bercerita selama ini?" Danu cukup terkejut mendengar Raka adalah calon tunangan Shilla.
"Karena memang dari awal aku tidak niat menikah dan aku telah menolaknya waktu itu, aku berpikir aku masih ingin sendiri. Aku tidak mau diatur mama dan papa, membeli rumah sendiri setelah menjual rumah peninggalan suamiku dahulu yang menurutku terlalu besar untuk kami berdua.
Aku kira dia udah menyerah dan mencari yang lain karena aku sudah menolaknya, aku tidak tahu dia masih bertahan dan menungguku menerima pertunangan itu."
Jelas Shilla yang tidak mau Danu sedikitpun salah paham tentang dirinya.
"Lalu, apakah orang tuamu tahu tentang hubungan kita?"
"Kalau dari kabarku tidak, karena aku tidak pernah menghubungi mereka kembali disaat mereka terus memaksa aku untuk tunangan dengan Raka, tapi kalau dari sifat mereka yang selalu mau tahu keberadaanku, mungkin mereka tahu aku sedang dekat denganmu. Mereka mungkin masih memantau atau mengira kita hanya berteman."
"Kapan kamu akan memberitahukan hubungan kita?" Danu tidak mau Shilla sampai direbut Raka, ia harus bergerak lebih cepat.
"Itu.. mungkin besok karena aku yakin Raka pasti sudah menghubungi papa dan mama, tapi..." Shilla agak ragu meneruskan kata-katanya..
"Tapi apa?"
"Tapi papa dan mama sangat keras sekali dalam memilih pasangan untukku, dahulu suamiku berjuang untuk mendapatkan restu aja butuh waktu yang sangat lama hingga mereka merestuinya. Apalagi sekarang disaat mereka sudah menentukan calon untukku, aku takut mereka akan lebih keras lagi dan kita...."
__ADS_1
"Tidak akan ada kata perpisahan, aku sudah memilihmu untuk menjadi bagian hidupku dan aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan berjuang." Tegas Danu
Perkataan Danu membuat Shilla terpaku, tidak ada tersirat keraguan ataupun ketakutan dimata Danu menghadapi orang tua Shilla.
"Kau yakin?"
"Maukan berjuang bersama?" Danu menggenggam tangan Shilla dengan erat menyalurkan keyakinannya untuk bisa bersama dengan Shilla.
Seketika Shilla mengangguk kuat dan tersenyum lebar ke Danu, tanpa ragu ia memeluk tubuh Danu, tempat ia mencari kenyamanan, kehangatan dan kedamaian hatinya.
Danu membalas pelukan Shilla tidak kalah erat. Inilah tempat ia bisa menyandarkan diri disaat letih dan mendapatkan energi semangat disaat jenuh melanda.
"Terima kasih mau berjuang bersama dan tetap bertahan untuk selalu disisiku." Danu mencium ubun-ubun Shilla dengan penuh cinta.
"Iya mas.." Jawab Shilla
"Kamu bilang apa tadi sayang?" Danu melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Shilla, ia ingin dengan jelas mendengar lagi dari bibir Shilla ucapan yang baru saja keluar tadi.
"Iya mas Danu.." Shilla mengulang kata-katanya lagi dengan dawaian indah yang terdengar oleh Danu.
Merekapun mengakhiri ciuman itu dengan satu kecupan lagi dibibir Shilla dan mereka hanyut dalam hangatnya pelukan kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Om Yogi.."
"Iya bos kecil.."
"Tolong belikan varo icecream di minimarket sana." Pinta Varo
"Hana juga mau Vallo, Hana mau lassa stobelli." Hana memeinta Varo juga membelikan untuknya.
"Satu coklat satu strowberry om"
__ADS_1
"Baiklah om belikan dahulu, kalian duduk tenang disini ya."
"Makasih om" Varo memeluk Yogi dengan kuat.
Yogipun berjalan ingin keluar dari kantor tersebut, tapi setiap kakinya melangkah ia mendengar tertawa cekikikan wanita-wanita disana.
"Ada apa dengan mereka? Siapa yang sedang mereka tertawakan?" Batin Yogi.
"Pak Yogi.." Receptionist wanita menahan langkah Yogi yang ingin keluar dari pintu yang sudah tepat didepannya.
"Ada apa?"
"Itu di punggung bapak ada yang menempel." Ucapnya dengan senyum-senyum gak jelas yang membuat Yogi kesal melihatnya.
Dengan sigap Yogi mencari sesuatu yang menempel dibelakangnya dan ia menemukannya.
"Kertas? Dan apa ini?!" Teriak Yogi dengan kuat saat membacanya..
"Hai cantik,,,, nikahin abang yang ganteng ini dong..." Begitulah tulisan yang Yogi baca..
"Sepertinya bapak dikerjain bos kecil deh." Kekeh receptionist itu.
"Pergi kau..!!" Teriak Yogi menahan geram yang sudah sampai diubun-ubun. Wanita itupun lari balik ketempatnha takut kena amukan asisten bosnya.
Yogi meremas kertas itu dengan sekuatnya seakan Varo yang sedang ia remas-remas dan membuangnya dengan kasar ke tong sampah didekat pintu.
"Dasar kau iblis kecil.." Umpat Yogi yang tetap keluar untuk membeli titipan bos kecilnya.." Anak sama bapak, sama -sama selalu bikin darah tinggi." Kesal Yogi..
"Vallk,,kamu nakal - nakal tadi ya?" Hana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Varo yang selalu jahil.
"Aku hanya ingin bermain." Ucap Varo sambil tertawa keras membayangkan wajah kesal Yogi saat mengetahuinya..
#Vallo..kami nackalll#
__ADS_1
#bantu like,comment and vote dears#