
Happy reading
🍄🍄🍄
"Varo!!." Panggil Putri dengan langkah kaki kecilnya ia berlari menghampiri Varo yang jauh dari tempat ia berada.
"Ada apa kamu mencariku?" Tanya Varo dengan wajah yang ia buat sedinginnya.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini.." Putri menunjukkan sebuah saputangan yang ada bertulis nama Varo disana.
Varo sangat terkejut sapu tangannya bisa terjatuh, apakah Putri sudah mengetahui ulahnya? Tapi dilihat dari wajah Putri, ia tidak tahu perbuatan jahil Varo padanya.
"Dimana kamu menemukannya? Kamu tidak mencurinya kan?"
"Tadi disana, jatuh didekat rumput yang sedang berbisik, kalau aku mencurinya ngapain juga aku kembalikan. Mamaku bisa membeli banyak sapu tangan seperti ini." Sombong Putri.
"Ya sudah, kembalikan sapu tanganku." Varo ingin mengambil sapu tangannya dari tangan Putri.
"Eits, tunggu dulu. Kamu tidak mau tahu apa yang sedang dibisikkan rumput tadi denganku?"
"Aku tidak peduli." Jawab Varo dengan cuek dan mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah kalau tidak mau tahu, ini aku kembalikan." Putri langsung menaruh sapu tangan itu ke atas telapak tangan Varo yang sedang dihadapan Putri.
Putri langsung pergi dengan langkah cepat meninggalkan Varo.
"Apa ini kok lengket - lengket?" Varo merasakan ada sesuatu yang lengket menempel di tangannya.
__ADS_1
"Varo!! Aku lupa bilang tadi pinjam sapu tanganmu untuk mengelap ingusku!! Ha..ha..ha.." Teriak Putri sambil tertawa ke arah Varo dari tempat ia berdiri. Jaga jarak dahulu agar Varo tidak mudah membalas perbuatannya.
"Putri!!! Awas kau ya jorok sekali!! Menjijikkan!." Jerit varo sambil membanting sapu tangan yang sudah ternoda itu.
Dengan langkah kasar Varo menuju toilet sekolah dengan membawa perasaan dongkolnya sudah mendapat balasan dari Putri
"Susah sekali membuat ia mengaku kalah, awas kau Putri."
Varo terus saja mencuci tangannya dengan sabun mengingat ingus yang menempel di tangannya tadi ia merasa ingus itu terus saja menempel ditangannya.
Kenapa dengan Varo ya? sama taik ayam berani sama ingus jijik gak ketolongan?
Disekolah Varo masih dengan kedongkolannya berbeda dengan dengan Danu yang terus monda mandir tanpa takut lelah,.memikirkan cara apa yang haru ia lakukan pertama kali untuk menaklukan calon mertuanya.
"Yogi.."
"Hei, kalau orang ngomong itu dilihat."
"Iya pak, ada apa?" Yogi lebih memilih menyerah dan menghadap Danu.
"Hei, kerjakan juga semua tugas itu sambil mendengarkanku." Perintah Danu lagi.
"Pak Danu yang pintar karena kelicikannya,bagaimana saya bisa mengerjakan tugas ini jika saya harus melihat bapak, berkas ini juga butuh perhatian untuk dibaca dengan mata saya." Nasib Yogi berkas aja yang bisa dia perhatikan, kapan ia bisa memperhatikan seorang wanita, sedangkan semua kerjaan dilimpahkan kepadanya.
"Kalu gitu kamu dengarkan saya dahulu, Kamu harus bantu saya mencari tantangan untuk menaklukan hati calon mertua saya."
"Pak itukan bukan tugas kantor?"
__ADS_1
"Kamu itu asisten saya jadi harus bisa segalanya."
"Kemana otak licik bapak?"
"Kamu merendahkan kemampuan saya?!" Hardik Danu menunjukkan wajah ketidaksukaannya.
"Bukan begitu pak, baiklah saya akan bantu berpikir."
"Jangan hanya diam saja, berpikir sambil kerjakan semua berkas itu. Otak kamukan ada dua, kanan dan kiri gunakan satu untuk berpikir dan satu lagi untuk mengerjakan pekerjaanmu." Tunjuk Danu
"Hah.." Yogi hanya bisa menghela napas dengan berat, dia kira mudah apa berpikir sekali dua secara bersamaan.
"Yogi, ingat pasal satu bos selalu benar." Yogi bermenolog dalam hatinya.
Yogi walau dengan muka masam, ia melakukan apa yang diperintah Danu.
"Ah,, saya tahu pak.." Girang Yogi yang dengan cepat mendapatkan ide yang bagus.
"Apa itu?"
Yogi mendekatin Danu dan membisikkan sesuatu, Siapa yang mau mendengar mereka berbicara? Kenapa harus berbisik? Padahal hanya mereka berdua yang ada disana.
"Tantangan babak pertama dimulai." Ucap Danu dengan senyum liciknya...
#Apa ya tantangannya?#
#Bantu like,comment and vote dears#
__ADS_1