
Happy reading
🍄🍄🍄
"Hm..., Papa tahu saja kalau saya bukan saingannya karena saya Danu Wijaya memang tidak pernah tersaingi." Ucap Danu lantang yang membuat Heru sempat terkejut tapi ia langsung menetralisir keterkejutannya.
" Percaya diri sekali kamu dan sejak kapan aku menjadi papa kamu ? Ingat istriku pernah melahirkanmu saja tidak.."
"Kita harus percaya diri, karena kepercayaan diri dibutuhkan untuk menghadapin lawan yang suka merendahkan." Ucapan Danu membuat Heru tersendir dan darahnya makin memborbardir mendidih.
"Anda memang sudah menjadi papa saya disaat hati seseorang yang saya cinta sudah menitipkan cintanya kepada saya." Lanjut Danu.
"Orang sepertimu kebanggaannya hanyalah sebuah omongan yang lain nol."
Shilla tidak menyangka papanya berani menghina orang sedemikian rupa , ia sangat malu dengan Danu saat ini.
"Papa benar lagi kali ini, karena dengan omongan ini bisa membuat yang saya cintai percaya bahwa saya tidak akan menyerah mempertahankannya, dengan omongan ini bisa membuat senyum dan tawa terlihat di wajah cantiknya, dengan omongan ini juga bisa menghapus gelisah yang berkecamuk dihatinya, dengan omongan ini juga saya bisa bicara kepada anda."
Ucap Danu tanpa melepas pandangannya dari Heru. Heru tertegun dengan keberanian Danu kepadanya dan tidak sedikitpun terlihat ia pesimis saat Heru menjatuhkan dan meremehkan.
"Saya tidak ingin membanggakan yang lain, harta? Itu hanya sebuah titipan yang sewaktu - waktu bisa diambil kembali pemiliknya, Jabatan? Ia juga tidak bisa membuat orang dicintai bertahan karena kesombongan dan ketamakan dapat menghancurkannya, Uang? Apa yang bisa dibanggakan dengan uang jika ia tidak bisa membeli kebahagiaan dan tidak bisa membeli cinta yang tahu dimana tempatnya berpulang." Danu semakin menekan Heru yang terdiam seribu bahasa.
"Saya hanya bisa menjanjikan sesuatu..." Danu menjeda bicaranya tangannya dengan berani menggenggam tangan Shilla hingga Shilla menatap Danu dengan wajah senduhnya dan Danu tersenyun cinta untuk Shilla dan balik menatap Heru kembali..
__ADS_1
dan itu hanya bisa diucapkan dengan sebuah omongan, Shilla saat kau mempercayakan cintamu padaku maka kebahagiaan bukan hanya akan ada dihatimu tapi akan menjadi prirotitas bagiku,,Dadaku akan selalu menjadi sandaran dan tempat berlindungmu karena diri ini yang lebih baik untuk selalu disisimu dari pada harta atau apapun itu yang hanya terlihat silau dari kejauhan tapi saat digenggam is tidak bisa memberikan sedikitpun arti bahagia. Karena bahagia bukan terletak di sebuah materi tapi terletak dihati. Dan aku tidak akan membiarkan hatimu terluka ataupun tergores sedikitpun karena sebuah tekanan ataupun ambisi."
Ucap Danu dengan memandang Shilla kembali setelah sekilas memandanng Heru dengan wajah penuh keyakinan Danu.
Shilla sangat terharu mendengar kata - kata Danu,, itu yang dia inginkan, dia ingin hidup bahagia, untuk apa harta berlimpah jika tidak kebahagiaan didalamnya seperti Shilla yang selalu sendiri saat masih kecil sedangkan orang tuanya sibuk bekerja tiada henti..
Wajah Danu yang serius tiba tiba berubah menjadi senyum menyebalkan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah...
"Shilla kau tahu tidak?" Shilla hanya menggeleng
"Terkadang aku bingung melihat orang tua yang dengan mati-matian mengumpulkan harta yang banyak tapi anak dibiarkan dirumah begitu saja tanpa ada mereka, saat anak - anak mereka meminta perhatian, mereka berkata mama dan papa bekerja untuk kamu sayang....
Apakah itu benar untuk anaknya yang ternyata sebenarnya anaknya itu tidak bahagia, anaknya merasa sendiri kekurangan kasih sayang dan perhatian. Apakah itu namanya kebahagiaan? Atau sebenarnya kata - kata itu hanya sebuah dongeng kamuflase penghantar tidur yang kenyataan sebenarnya mereka sibuk mencari harta karena gengsi mereka yang tinggi dan tidak mau di pandang rendah dengan rekan kerjanya."
"Kau mau menghinaku?!"
"Saya tidak mau menghina papa, kenapa papa marah? Apa papa merasa papa seperti itu?" Ucap Danu dengan tenangnya.
"Kau.." Heru semakin geram dengan Danu sampai keubun - ubunnya.
"Kalau papa tidak merasa papa pasti mau menerima tantangannku."
"Kenapa harus aku yang menerima tantangan? Harusnya aku yang menantang kamu!." Teriak Heru tidak terima.
__ADS_1
"Kalau papa tidak terima berarti papa memang benar seperti apa yang aku pikirkan dan aku akan membawa Shilla kawin lari, kalau papa memang sayang Shilla dan ingin mempertahankan Shilla harusnya papa terima. Tidak perlu emosi pa, kalau saya menang saya akan menikahi Shilla dengan restu papa tapi kalau papa yang menang saya akan merelakan Shilla mengikutin kata papa tapi sayangnya itu tidak akan terjadi dan saya tidak akan membiarkan papa menang hingga membawa Shilla dari sisi saya."
Heru sekarang merasakan harga dirinya dicabik- cabik Danu dan ia tidak terima itu.. Kenapa sekarang ia yang tertekan?
"Baik, aku akan menerima tantanganmu." Ucap Heru tegas..
"Ayo Shilla kita pulang, biar papa dan mama besok datang dan tinggal dirumahmu untuk melakukan tantangannya.." Danu dengan begitu saja menarik tangan Shilla, mengibarkan bendera perjuangan cintanya...
Varo yang duduk diam dari tadi sebelum beranjak pergi mengikutin keduanya melangkah mendekati Heru
"Aki jangan galak - galak aki, Aki pernah lihat cermin gak? Coba hitung uban aki ada berapa? Semakin banyak uban aki semakin dekat malaikat pencabut nyawa disamping aki..Emang aki mau mati dengan melihat mama sedih tanpa kebahagiaan?"
Ucapan Varo menyentuh hati Heru tapi..
"Uda aki - aki yang suka terbatuk - batuk kayak aki kenlpot aja masih suka adu debat, kesedak asap knalpot bisa mati terbatuk-batuk ntar ki, harusnya aki tuh dirumah duduk diam menikmatin hidup yang tinggal menghitung rambut hitam aki yang gak seberapa."
"Kau iblis kecil..!!" Geram Heru dengan Varo yang nyamain dirinya dengan aki knalpot.
"I know that, bye aki see you again." Ucap Varo sambil mengerlingkan matanya dan tersenyum jahil.
#Varo...kok aki dilawan tar tambah gak direstui papi danunya loh#
#Bantu like,comment and vote dears#
__ADS_1