
Disisi lain, Camelia terlihat mengemudikan mobilnya. Kali ini tanpa ditemani oleh sopir pribadinya, ia melajukan mobilnya menuju sebuah rumah yang letaknya jauh dari keramaian kota. Rumah itu tidaklah besar. Hanya berukuran sekitar 20 meter persegi saja. Ya, begitulah kiranya. Rumah itu nampak kecil hanya cukup untuk ditinggali seorang saja.
Dari dalam mobilnya, ia segera menurunkan langkahnya dan memasuki rumah tersebut. Entah siapa yang ia temui, Steve merasa keheranan. Ternyata diam-diam dia mengikuti Camelia dari belakang. Steve memang seperti penasaran pasca hilangnya buku kuno itu dari Camelia. Sepenting apakah buku itu sampai-sampai membuat Camelia marah besar kepadanya. Cukup lama Camelia berada dalam rumah itu, sampai Steve pun merasa bosan.
__ADS_1
Hingga Senjapun tiba, rasa lelah dan kantuk menyelimuti tubuh Steve yang sedari tadi menunggu kemunculan Camelia. Bersamaan dengan menahan rasa kantuknya, keluarlah seorang wanita dari rumah itu dan wanita itu pun memasuki mobil Camelia yang terparkir didepan rumah kecil itu.
Tak berapa lama kemudian, Mobil pun melaju dengan kencang, Steve pun segera mengikuti mobil itu. Ia sedikit memberi jarak agar apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh wanita itu. Namun sejenak ia berpikir, dimana sebenarnya Camelia berada? Dia yakin betul bahwa mobil yang ditumpangi wanita itu adalah mobil Camelia. Namun, setelah Camelia turun dari mobil dan memasuki rumah tersebut, yang kembali justru wanita berparas tua atau bisa disebut nenek-nenek. Tapi bagaimana mungkin seorang nenek renta seperti itu bisa mengemudi mobil dengan kencangnya?
__ADS_1
Sekian lama mengemudi sampailah Camelia didepan pintu rumahnya. Ia pun segera melajukan mobilnya ke garasi rumahnya. Steve yang mengintai dibelakangnya pun hanya memperhatikan dari jauh. Namun betapa kagetnya saat ia melihat balkon rumah Camelia dan mendapati bahwa Camelia sedang berdiri disana. Dengan rumah sebesar itu, tidak mungkin Camelia bisa berpindah tempat dari garasi kemudian menuju balkon secepat itu. Ia pun kaget bukan kepalang, terlihat bibirnya sampai ternganga melihat kejadian aneh didepan matanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
"Dasar!!!Mimpi apa gue semalem??"gerutu Steve kesal.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, ia langsung memarkirkan mobilnya dan segera menuju kamarnya. Ia segera merebahkan badannya di atas kasur miliknya seraya tak henti-hentinya memikirkan kejadian aneh yang baru saja dialaminya. Merasa bahwa tak ada ujung pangkalnya, ia pun segera memutuskan untuk tidur. Tapi naas memang, hanya sekedar memejamkan mata pun ia tak bisa melakukannya. Steve benar-benar terlihat seperti orang linglung hingga ia meraih ponselnya dan berniat untuk menelpon Kean. Namun, hal itu ia urungkan karena ia tahu pasti Kean tidak akan menjawab panggilan teleponnya karena ia sadar hubungan pertemanan dengannya kian renggang sejak pertikaian itu terjadi. Akhirnya malam itu pun Steve lalui dengan kegelisahan. Ia merasa malam itu dirinya berada diantara mimpi dan kenyataan.