
Ara masih tak ingin berbicara dengan kakaknya. Sementara Amanda masih mencoba untuk merayu adiknya yang sedang merajuk. Ia memang kesal dengan Ara tetapi ia tidak marah dengannya. Segala cara ia upayakan demi adiknya mau untuk berbicara kembali dengannya. Dari membujuk Ara untuk sarapan bersama hingga mengantarkannya ke sekolah seperti biasa. Namun nyatanya hal itu sia-sia. Rupanya, Ara tetah acuh dan tidak mempedulikannya. Amanda yang merasa heran dengan sikap adiknya itu, berniat mencari tahu tentang apa yang terjadi hingga membuat hubungan mereka tidak akur.
Disisi lain, ponsel Rendy berbunyi. Ia pun segera meraihnya dan terlihat nama Amanda tertera di layar ponsel.
"Hallo ..." sapa Rendy dalam panggilan telepon.
"Hallo Ren. Bisa gak kita ketemuan hari ini? ada sesuatu yang perlu kita bicarakan." tutur Amanda.
"Oke. Kita ketemuan ditempat biasa."balasnya.
__ADS_1
Rendy pun segera bersiap-siap untuk menjemput Amanda, namun ternyata ketika ia membuka ponselnya kembali ada pesan masuk dari Amanda. Dalam pesannya itu ia mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju tempat yang dimaksud. Alhasil Rendy pun segera bertolak dari rumahnya menuju tempat dimana mereka membuat janji.
*****
Di sekolah,
"Ra, besok jadwal kita observasi lagi kan?" tanya Raline.
Raline merasa tak enak hati dengan Ara. Semenjak kejadian itu, Ara benar-benar masih sulit untuk diajak bicara. Dia lebih ketus dari biasanya tak jarang pula ia akan menjawab asal-asalan ketika ada yang bertanya dengannya. Disaat Raline ingin beranjak dari hadapan Ara, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran Steve. Melihat Steve yang muncul dihadapannya, Ara tak kuasa menahan emosinya. Kemarahannya meluap. Ia mengumpat Steve dengan kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu datang kesini? Gak cukup apa yang kamu perbuat sama kita? sekarang kamu mau menghasut Amanda juga???" ucap Ara dengan nada meninggi.
Raline berusaha menenangkan emosi Ara tetapi rasanya apa yang ia lakukan sia-sia. Sementara Kean dan Shanee pun juga belum terlihat di sekolah.
"Ra, tolong dengar penjelasan gua." ucap Steve.
"Gua gak butuh penjelasan dari seorang pengkhianat kaya kamu!" bentak Ara. Ia pun segera berlalu dari hadapan Steve. Raline pun mengikutinya. Namun langkahnya dihentikan oleh Steve. Ia seakan-akan ingin bicara sesuatu mengenai dirinya. Dengan ragu-ragu dan takut, akhirnya ia pun setuju untuk mendengarkan cerita dari Steve.
"Ral, mungkin cuma kamu yang bisa gua ajak sharing karena cuma kamu satu-satunya anggota tim dari mereka yang gua anggap netral." ucap Steve mengawali.
__ADS_1
Raline pun mengangguk dengan rasa was-was. Ia sungguh takut jika ia ketahuan oleh ketiga temannya sedang berbicara dengan orang yang dianggap mereka pengkhianat. Namun, Raline yang cukup pintar dia tahu bahwa ada sisi positif jika ia mau mendengar cerita dari Steve. Mungkin siapa tahu ada suatu informasi yang penting yang tidak ia ketahui bersama rekan dalam timnya.
Akhirnya Steve mulai bercerita. Sementara Raline berusaha mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Steve dengan seksama. Tak cukup sampai disitu, Raline anak yang cukup cerdik rupanya. Tanpa diketahui oleh Steve, ia menyalakan ponselnya untuk merekam percakapan yang terjadi diantara mereka berdua. Sehingga ia memiliki bukti jika terjadi suatu kesalahpahaman diantara rekan timnya.