Perjalanan Sebuah Misi

Perjalanan Sebuah Misi
Kekecewaan Andara


__ADS_3

Kean, Shanee, Ara dan juga Raline masih terlihat mencari-cari keberadaan Steve. Mereka belum juga menemukan batang hidungnya. Padahal hampir seluruh isi pasar sudah mereka lalui. Mereka juga sudah terlihat sangat kelelahan. Nampak wajah Shanee yang mulai bimbang dengan hasil jepretannya itu. Ia mulai tak yakin dan merasa bahwa apa yang dikatakan Kean adalah hal yang salah. Ia berpikir mungkin itu bukan Steve hanya seseorang yang mirip saja dengannya. Wajahnya pun menjadi cemberut dan kesal. Hal ini memancing gelak tawa dari ketiga temannya. Mereka pun mulai menggoda Shanee dengan candaannya.


"Sudahlah mungkin dia bukan Steve. Gak usah cemberut gitu. Lihat mukamu sudah seperti dakocan saja." ucap Kean meledek Shanee.


Mendengar perkataan Kean, Raline dan Ara pun jadi ikut membully Shanee. Karena memang nampaknya hanya Shanee saja yang terlihat sangat kecewa dibandingkan dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Mukamu itu seperti orang yang lagi putus cinta saja. Hahahahahahaha." ucap Raline sembari tertawa.


"Jangan-jangan dia memang sedang patah hati dengan Steve. Hahahaahaha." ucap Ara tak mau kalah dengan Raline.


Sementara Shanee hanya bisa diam mendapatkan perlakuan tidak enak dari ketiga temannya. Ia tahu persis seperti apa tipe teman-temannya itu. Kalaupun ia mencoba untuk membela diri, mereka pasti akan lebih gencar melakukan serangan bullyan padanya dengan kata-kata yang lebih parah lagi.

__ADS_1


Akan tetapi ketiga temannya seperti tidak menolak dengan ajakan Shanee. Mereka lantas mengikuti langkah Shanee keluar menuju area parkir dan saat itulah mereka dipertemukan dengan Amanda. Namun anehnya, Amanda tidak sendiri. Ia ditemani dengan sosok yang tidak asing lagi di mata mereka. "Ya, itu dia Steve." ucap Kean lirih. Namun justru pemandangan itu membuat Ara, adik dari Amanda merasa geram. Ia tak suka melihat kakaknya pergi dengan orang yang telah mengkhianati rekan satu timnya waktu dahulu. Ara tak menyangka, kakaknya tega berbuat hal serupa dengan apa yang telah diperbuat Steve pada teman-temannya. Selama ini dia selalu percaya pada kakaknya dan bercerita tentang misi yang sedang ia lakukan dalam tim mereka. Tapi justru sekarang, didepan matanya ia harus melihat sang kakak pergi bersama dengan orang yang ia benci. Melihat itu semua, Ara tak ingin tinggal diam. Ia lantas berusaha untuk menghampiri kakaknya namun hal itu dicegah oleh Raline.


"Jangan Ra. Tahan emosi kamu. Kita lihat saja dahulu apa yang akan mereka lakukan." ucap Raline meredam emosi Ara.


Ara pun lantas menghela nafas panjang dan segera masuk ke dalam mobil disusul dengan Shanee dan Raline. Tampaknya Kean belum puas melepas hal menarik yang terjadi di depan matanya. Ia berusaha mengendap dan melangkah mengikuti kemana arah Steve dan Amanda pergi. Belum sempat lebih jauh kaki melangkah, Raline memanggilnya dari dalam mobil. Ia memberikan kode supaya Kean secepatnya masuk dan berhenti mengikuti mereka. Biarlah Ara yang meminta penjelasan dari kakaknya tentang apa yang dilakukannya hari ini.

__ADS_1


Shanee yang melihat Ara benar-benar dirundung emosi yang besar, akhirnya meminta Kean untuk segera memacu mobilnya. Ia tak mau jika terlalu lama berdiam disana, emosi Ara yang sudah mulai sedikit stabil bisa meledak lagi. Kean pun meyetujui permintaan Shanee untuk menyetir. Ia pun segera melajukan mobilnya ke rumah Ara.


__ADS_2