Perjalanan Sebuah Misi

Perjalanan Sebuah Misi
Kemarahan Andara


__ADS_3

Braaaaakkkk!!!!


Begitulah suara pintu yang dibuka kasar oleh Ara. Setelah kepergiannya dari pasar, ia segera pulang ke rumah dan melampiaskan kemarahannya dengan membanting pintu rumah. Kean, Raline dan Shanee yang mengantar Ara kembali ke rumah, masih berada di dalam mobil. Melihat Ara yang tak kunjung reda emosinya, mereka pun segera turun untuk menenangkannya.


"Ra, kamu masih marah?" tanya Raline dari balik pintu rumah. Lantas ia pun bersama teman lainnya masuk ke dalam rumah dengan tanpa berbasa-basi lagi. Nampak sekali wajah kesal yang terpampang nyata di hadapan mereka. Ara ingin sekali memaki habis kakaknya sepulang dari pertemuannya dengan Steve. Ia sudah sangat tidak sabar untuk mendengar penjelasan darinya. Mau berkilah apalagi dia didepannya.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari garasi rumah Ara. Ya, ternyata kak Amanda sudah tiba di rumah. Namun baru saja sampai di bilik pintu, Ara sudah menunggunya sembari meneriaki namanya.


"Amanda!!!!!!" teriak Ara.

__ADS_1


Mendengar Ara berteriak lantang memanggil namanya, ia pun kaget sekaligus heran. Tak pernah adik kecilnya itu berlaku tidak sopan padanya dan memanggil dirinya hanya dengan nama saja. Lantas hal ini pun membuat Amanda segera bertanya.


"Kenapa kau hanya memanggil namaku? Apakah sudah lupa kau akan sopan santunmu?" tanya Amanda.


"Aku tak berharap kau menjadi kakakku lagi. Aku tak ingin memiliki kakak pengkhianat sepertimu!" ucap Ara lantang kepada Amanda.


Amanda yang baru saja pulang dan ingin segera beristirahat nampak kesal dengan apa yang ia dengar dari mulut adiknya itu. Tak habis pikir Amanda dibuatnya. Ara yang ia hadapi bukan seperti Ara yang sebelumnya. Hari ini Ia seperti orang lain baginya. Entah apa masalah yang sedang menimpanya hingga ia berani berucap lantang padanya. Belum sempat ia menjelaskan, Ara sudah nyerocos saja. Ia pun akhirnya hilang kesabaran. Sebagai kakak dia tidak mau di maki habis-habisan oleh adiknya di depan teman-temannya. Karena sebenarnya ia pun belum mengerti apa permasalahannya hingga membuat adiknya sangat marah padanya.


"Bagaimana dengan mulut pengkhianat sepertimu? Apakah masih pantas berpura-pura lembut padaku?" ujar Ara menegaskan.

__ADS_1


"Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau ucapkan! Aku lelah dan aku ingin istirahat. Jika kau ingin bicara kasar, bicaralah pada dinding saja jangan padaku!" balas Amanda lantang.


Amanda pun segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Sedari pulang ia memang belum sempat masuk ke dalam rumah karena baru menyentuh ambang pintu, ia sudah dihentikan oleh teriakan Ara. Tapi disisi lain ia menjadi berpikir. Apa yang dialami oleh Ara sehingga ia berani berkata kasar terhadapnya.


Di ruang tamu, nampak Ara masih dirundung emosi. Ia terlihat masih meluap-luap. Raline, Shanee dan juga Kean berusaha menenangkannya. Tapi ia terus saja mengumpat Amanda, kakaknya tanpa henti.


"Dasar pengkhianat!! Bisa-bisanya ia bersembunyi dariku. Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu! umpat Ara kesal.


"Sudahlah Ra. Tenangkan dirimu. Aku yakin ini pasti ada kesalahpahaman diantara kalian." ucap Raline.

__ADS_1


"Jangan bela dia, kalau kau masih mau berteman denganku!" ucap Ara mengancam.


Raline pun terdiam. Ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah perselisihan yang melibatkan saudara kandung. Namun ia yakin bahwa ini murni kesalahpahaman. Hanya saja, ia lebih baik berhenti bicara karena Ara pun sepertinya tidak akan mendengar perkataannya. Sementara Shanee dan Kean yang sudah hafal dengan karakter Ara lebih memilih bungkam.


__ADS_2