Perjalanan Sebuah Misi

Perjalanan Sebuah Misi
Kecerobohan Berujung Petaka


__ADS_3

Dirumah Camelia (Jenar)...,,


Lagi-lagi terdengar percakapan dari dalam kamar Camelia (Jenar). Kali ini Bi Ratmi yang memergokinya. Sudah lama sebenarnya para pembantu dan pekerja dirumah Camelia (Jenar) curiga dengan keanehan-keanehan yang hampir setiap hari terjadi dirumah itu. Mulai dari sikap Camelia (Jenar) yang dingin namun kadang secepat kilat menjadi hangat, tak jarang pula mereka mendengar orang berbicara seperti bercakap-cakap bahkan kadang seperti membaca mantra.


Maklum mereka semua hanya tau bahwa majikan mereka yang tinggal disana hanya 1 yaitu Nona Jenar alias Camelia. Dirumah para pekerja memanggil Camelia itu dengan nama Jenar. Karena setahu mereka tak ada penghuni yang bernama Camelia. Padahal Jenar dan Camelia adalah 2 orang yang berbeda dan tinggal bersama. Hanya saja, mereka tidak tahu, baik Jenar maupun Camelia selalu keluar bergantian. Kalaupun harus keluar bersama, mereka akan melewati pintu khusus yang hanya mereka dan sopir pribadinya yang tahu.


Setahu Bi Ratmi juga Nona mudanya ini memiliki saudara kembar. Namun sudah lama meninggal dunia. Sementara orang tuanya pergi ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Mereka jarang sekali pulang kerumah. Hanya nona mudanya saja yang tinggal dirumah itu. Jadi wajar kalau rasanya seperti mimpi jika mengingat keanehan-keanehan yang hampir setiap hari ia temui dari sosok nona mudanya itu.

__ADS_1


Sadar dengan keanehan tersebut, Bi Ratmi lantas mengetuk pintu kamar majikan mudanya itu. Tak berapa lama terdengar suara sahutan dari dalam kamar.


"Ada apa bi?"sahutnya tanpa membuka pintu.


"Anu non... maaf, non Jenar bicara sama siapa ya?"tanya Bi Ratmi.


Bi Ratmi pun ketakutan dan segera minta maaf pada majikannya itu kemudian dengan cepat pergi meninggalkannya. Ia benar-benar takut jika nona mudanya itu marah. Jika sedang marah, apapun bisa ia lakukan termasuk mengancam para pekerjanya untuk melakukan hal-hal diluar nalar.

__ADS_1


Seperginya Bi Ratmi dari hadapannya, Camelia segera menutup pintu dan berbicara pada seseorang. "Itulah akibatnya kalau kau terlalu ceroboh dan tak tanya dulu padaku!"bentaknya.


"Aku tidak pernah mengijinkan kau bertemu dengan siapapun kecuali yang benar-benar engkau kenal! Kalau kau tak tahu siapa dia, lebih baik kau diam dan pergi. Sekarang Bi Ratmi sudah curiga dengan apa yang kita rahasiakan darinya. Lalu tadi malam kau membuat Amanda curiga. Kau tau siapa dia? Dia adalah kakak dari orang yang sangat ambisius dan terobsesi dengan identitas kita!!!! Tukasnya dengan penuh kemarahan.


Seseorang itu pun terdiam mendengar amarah demi amarah yang terlontar dari mulut Camelia. Ia memang terkenal sangat sadis dan dingin dengan gaya bicaranya yang khas saat sedang meradang. Tak bisa dipungkiri memang, Camelia mempunyai watak yang sangat keras seperti batu. Watak itu sepertinya ia warisi dari ayahnya. Sedangkan Ibunya mempunyai watak yang lebih lembut dan kalem. Ia jarang bicara namun sosok keibuannya benar-benar terpancar dari wajahnya. Hal ini pun yang ia turunkan kepada anak gadisnya yang satu lagi.


Perlahan terdengar suara isak tangis memecah keheningan dari ruang kamar itu. Ya, suara tangis yang berasal dari seseorang itu yang benar-benar sudah tidak tahan dengan apa yang mereka alami saat ini.

__ADS_1


__ADS_2