
Pada saat ini, banyak orang yang sedang berkumpul di gerbang desa Meiyan. Ekspresi yang ditunjukkan oleh orang-orang yang sedang berkumpul itu beragam, ada yang berekspresi puas dan ada juga yang berekspresi sedih. Alasannya dikarenakan orang yang sedang berkumpul itu akan menyaksikan kepergian seseorang dari desa. Dan orang itu tentunya memiliki sebuah pengaruh tertentu di desa Meiyan, sehingga bisa membuat banyak orang dari desa Meiyan menjadi berekspresi puas dan sedih karena kepergiannya.
Beberapa saat kemudian, seorang pemuda dengan jubah hitam beserta pedang di punggungnya berjalan menuju ke luar desa. Pemuda itu memakai penutup mata di mata kirinya namun ditutupi lagi dengan rambutnya yang panjang juga hitam supaya tidak mencolok. Selain itu, dia juga memiliki bekas sayatan di dekat mulutnya. Dan pemuda itu bernama Rouzen.
Rouzen adalah salah satu warga desa Meiyan, yang sekarang hendak meninggalkan desa. Alasan dia meninggalkan desa dikarenakan dia merasa perlakuan desa tidak adil, khususnya pada saat dia mengalami sebuah insiden yang tidak menyenangkan.
Rouzen dulunya adalah seorang murid di akademi desa Meiyan, bahkan dia juga menjadi murid jenius di akademi itu, karena dia bisa naik tingkatan lebih cepat. Rouzen juga memiliki kemampuan dan kekuatan yang sangat bagus, sehingga dia sempat digadang-gadang akan menjadi Aryan (pendekar) terbaik di desa Meiyan. Namun karena sebuah insiden, Rouzen sekarang menjadi orang yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan (sihir), karena dia mengalami cacat pada Tisernya (sesuatu dalam tubuh yang bisa mengeluarkan kekuatan/sihir). Bahkan sekarang Rouzen memiliki julukan baru yaitu si Jenius gagal.
Pada saat Rouzen masih seorang jenius di desa Meiyan (belum mengalami cacat Tiser), Rouzen mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari para penduduk desa dan juga petinggi desa. Namun pada saat Rouzen mengalami cacat Tiser, Rouzen mendapatkan perlakuan yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, karena pada saat itu Rouzen mendapatkan banyak cacian, makian bahkan ada yang sampai membully Rouzen.
Namun alasan terkuat Rouzen meninggalkan desa, itu karena pada saat dia sudah mengalami cacat Tiser, dia mencoba untuk meminta bimbingan dan juga bantuan dari petinggi desa, namun petinggi desa itu malah bersikap tidak peduli dengan Rouzen. Karena perlakuan yang tidak adil itu, Rouzen pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan desa.
—
Kembali ke area di dekat gerbang desa.
Rouzen berjalan dengan dingin dan tidak peduli dengan orang-orang yang sedang berkumpul, yang padahal orang-orang itu sedang menyaksikan kepergiannya. Hingga akhirnya ada salah satu orang yang berbicara dari perkumpulan orang-orang itu. Dan dia adalah Karty.
Karty adalah orang yang sebelumnya sering dikalahkan oleh Rouzen. Namun karena dia tidak bisa menerima kekalahannya dari Rouzen, dia pun akhirnya menyimpan dendam kepada Rouzen. Karty sering membuat masalah dan bertarung dengan Rouzen sebelumnya, namun dia sering dikalahkan oleh Rouzen. Hingga pada saat kabar tentang cacatnya Tiser Rouzen, Karty pun merasa dirinya sudah menang dan menjadi lebih sering mengganggu Rouzen.
“Hei hei hei… setidaknya ucapkanlah salam perpisahan kepada kami.” ucap Karty sambil menyeringai, karena puas dengan apa yang menimpa Rouzen.
Namun Rouzen tidak merespon perkataan dari Karty, Rouzen dengan santai dan dingin melanjutkan perjalanannya.
Karty menjadi tidak terima, karena perkataannya diabaikan oleh Rouzen.
"Sialan!." ucap Karty dengan ekspresi yang kesal.
Kemudian Rouzen pun akhirnya berhenti berjalan dan menatap ke arah Karty sambil berkata. “Ada apa?.”
“Cih, walaupun dulu aku sudah sering dikalahkan olehmu, tapi saat ini kamu sudah tidak memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kekuatanmu, jadi kendalikan sikapmu itu sialan!.” ucap Karty dengan nada yang tinggi.
Namun Rouzen membalas perkataan Karty dengan tidak peduli.
“OH.” ucap Rouzen sambil bersiap melanjutkan perjalanan.
“Sialan…kamu ini benar-benar ya. Dulu kamu memang seorang jenius, bahkan semua warga desa mengakui itu. Tapi sekarang kamu hanyalah seorang jenius gagal yang sudah tidak bisa mengeluarkan jurus dan kekuatanmu. Jadi...”
“Konyol sekali. Aku katakan sekali lagi, aku sedari awal memang tidak menginginkan julukan itu.” Ucap Rouzen setelah memotong perkataan dari Karty. Dan kemudian Rouzen pun melanjutkan perjalanannya.
Baru 2 langkah berjalan, Rouzen mendapatkan perkataan lagi dari Karty.
“Aku masih tidak habis pikir loh tentang sikapmu itu.” ucap Karty sambil menyeringai.
Karena Karty menyeringai, Rouzen pun menjadi curiga dan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Karty itu.
“Apa maksudmu?.” Rouzen kebingungan.
“Kamu biasanya kan sangat marah jika orang lain berbicara atau berbuat yang tidak-tidak mengenai anggota keluargamu.”
“…” Rouzen hanya mengangkat satu alisnya, tanda dia kebingungan.
"Tapi sekarang, kamu dengan sengaja membuat adikmu menjadi lupa ingatan tentangmu. Sungguh miris." Ucap Karty sambil menyeringai kepada Rouzen.
—
Selain kepergiannya dari desa, Rouzen juga memiliki satu kejadian yang diketahui oleh banyak orang. Dan kejadian itu adalah tentang Rouzen yang membuat adiknya yaitu Heiren menjadi lupa ingatan. Namun lupa ingatan disini bukan semuanya, melainkan Rouzen hanya menghilangkan ingatan Heiren tentang ingatan yang berhubungan dengannya. Sehingga karena kejadian itu, Heiren masih memiliki ingatan yang tetap, hanya saja untuk ingatan mengenai Rouzen, dia menjadi tidak mengenali Rouzen sebagai kakaknya (lupa segalanya tentang Rouzen).
—
Rouzen tersentak saat mendengar perkataan Karty, karena perkataan Karty itu memang benar adanya. Namun kemudian, Rouzen tidak merespon ucapan Karty itu, dan dia segera melanjutkan perjalanannya dengan ekspresi yang tidak senang karena perkataan Karty sebelumnya.
Melihat Rouzen berjalan pergi dengan ekspresi yang kurang senang, Karty pun menjadi mencoba untuk memprovokasi Rouzen.
“Hei hei… kemana sikap kepedulianmu itu? biasanya kan kamu akan marah saat ada orang yang berbicara buruk tentang keluargamu.” ucap Karty sambil menyeringai, berusaha memprovokasi Rouzen.
—
Beberapa orang yang sedang berkumpul menjadi sangat kesal kepada Karty yang berusaha memprovokasi Rouzen, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena salah satu petinggi desa sedang berada di antara perkumpulan saat ini.
—
Karena ucapan provokasi yang ucapkan oleh Karty, Rouzen pun menjadi terpancing. Oleh karena itu, Rouzen pun berhenti berjalan, kemudian dia menatap ke arah Karty.
"Ada apa?." Karty menyeringai kepada Rouzen, karena dia beranggapan bahwa Rouzen sudah terpancing dengan ucapan provokasi yang dibuat olehnya.
Namun Rouzen tidak menjawab pertanyaan Karty itu, tapi dia hanya mengeluarkan nafas dari mulutnya. "Huh..."
Dan setelah mengeluarkan nafas dari mulutnya, Rouzen langsung menghilang dari tempatnya berdiri.
"Dugh..."
Dan ternyata, Rouzen bukan menghilang, tapi dia melakukan gerakan yang sangat cepat. Rouzen dengan cepat bergerak ke arah Karty, sampai-sampai pergerakannya itu tidak bisa dilihat. Kemudian dia menendang kepala Karty, hingga Karty tersungkur ke bawah.
“Arghh.” Karty kesakitan dan tersungkur ke bawah (tanah).
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat terkejut, karena dari informasi yang beredar di desa saat ini, Rouzen seharusnya sudah tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, karena dia pada sedang mengalami kecacatan pada Tisernya
“A-apa yang terjadi?.”
“Bukannya Tiser dia sudah cacat?.”
__ADS_1
“Jika dia sudah tidak bisa mengendalikan Tisernya, bagaimana dia bisa bergerak begitu cepat?.” Orang-orang bingung, karena Rouzen ternyata bisa mengeluarkan kekuatannya.
Karty juga sama seperti orang lain, dia terkejut dan keheranan, karena ternyata Rouzen bisa mengeluarkan kekuatan.
“K-Kamu, bagaimana kamu bisa mengeluarkan kekuatanmu? kamu kan sudah tidak bisa mengendalikan Tisermu.” ucap Karty yang terbaring di tanah.
“Pendek sekali akalmu itu.” Rouzen menyeringai sambil menempatkan satu kakinya di atas tubuh Karty.
“Apa katamu!.” Karty tidak terima dengan ucapan Rouzen.
Namun tidak lama kemudian, datanglah salah satu petinggi dari desa yang mencoba menghentikan Rouzen.
“Hentikan Rouzen, sudah cukup.” Ucap petinggi desa.
“Hah?.” Jawab Rouzen.
“Aku sangat terkejut dan terkesan bahwa kamu masih bisa mengeluarkan kekuatanmu hanya dengan kemampuan Talis (kemampuan alami/tanpa bantuan Tiser). Tapi berkat itu juga, desa Meiyan akan menerimamu kembali sebagai Aryan. Jadi, apakah kamu bersedia?.” Petinggi desa memberikan tawaran kepada Rouzen, karena dia telah melihat bahwa Rouzen masih memiliki kemampuan untuk menjadi seorang Aryan.
Namun Rouzen hanya menertawakan tawaran itu. Rouzen tidak peduli dengan tawaran yang diberikan petinggi desa itu, dikarenakan salah satu penyebab dia hendak pergi meninggalkan desa adalah karena perlakuan desa khususnya dari para petinggi desa yang tidak adil kepadanya.
“Hahahaha… untuk apa juga aku harus kembali.” Rouzen menertawai tawaran petinggi desa.
“Apa maksudmu hah?.” Petinggi desa tidak terima dengan sikap Rouzen.
Kemudian Rouzen pun menjelaskan alasannya.
“Kalian ( petinggi desa ) memperlakukanku dengan layak jika aku memiliki kemampuan yang baik dan bagus. Sedangkan jika kemampuanku sedang atau sudah menjadi buruk, kalian tidak mencoba membimbingku untuk menjadi lebih baik, tapi kalian akan memperlakukanku dengan tidak adil.
Dan asal kalian tahu juga ya, kemampuan Talis yang sudah aku kuasai ini, itu semua adalah berkat bimbingan beberapa orang-orang terdekat dan juga hasil jerih payah kerja kerasku, tidak ada kaitannya dengan kalian. Jadi jangan harap aku akan bisa dimanfaatkan lagi oleh kalian.” Rouzen berbicara dengan nada yang tinggi. Rouzen merasa kesal dengan perlakuan yang diberikan oleh para petinggi desa, karena pada saat dirinya sedang terpuruk, para petinggi desa bersikap acuh kepadanya. Bahkan pada saat dirinya memutuskan untuk meninggalkan desa, para petinggi desa menyetujui permintaan itu tanpa adanya rasa peduli sedikitpun.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan jika sudah meninggalkan desa? apakah kamu akan melupakan impianmu itu?.” Petinggi desa bertanya kembali kepada Rouzen. Dan sekarang dia mencoba membujuk Rouzen dengan menggunakan impian yang ingin dicapai Rouzen saat menjadi Aryan.
“Tentu saja aku tidak akan melupakan impianku. Namun daripada aku harus menggapai impianku di desa yang memiliki sistem busuk ini, lebih baik aku menggapai impianku dari pengembaraanku sambil mencari berbagai macam hal.” Rouzen berbicara dengan santai.
“Sistem busuk?.” Petinggi desa tidak terima. Kemudian dia melanjutkan. “Baiklah, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Dan jangan menyesal dengan keputusanmu itu.” Petinggi desa mempersilahkan Rouzen pergi meninggalkan desa.
Setelah itu, Rouzen pun meninggalkan desa tanpa ucapan selamat tinggal satu katapun. Dan semua orang yang menyaksikan kejadian itu menjadi heran dengan sikap Rouzen. Karena Rouzen dulunya orang yang ramah dan hangat kepada semua orang. Namun sekarang dia menjadi bersikap dingin dan ucapannya tidak seramah dulu.
“Apakah kamu benar-benar Rouzen yang aku kenal?.” Ucap salah satu pria sepantaran Rouzen.
---
3 Tahun yang lalu.
Desa Meiyan.
Desa Meiyan adalah salah satu desa, dari ke 6 desa besar yang berada di daratan Weines. Setiap desa memiliki akademi masing-masing, yang berfungsi untuk melatih setiap warganya yang memilih jalan menjadi Aryan ( Pendekar ). Aryan memiliki kehidupan yang sedikit berbeda dengan orang biasa, jika orang biasa mencari penghasilan dengan cara berniaga, Aryan itu mendapatkan penghasilan dengan cara menyelesaikan misi.
Setiap akademi memiliki tingkatan yang diberikan kepada para calon Aryan nya masing masing, dari mulai tingkatan Jandra, Abira, Bendra, dan Marty. Jandra adalah tingkatan pemula, Abira adalah tingkatan lanjutan, Bendra adalah tingkatan komandan, dan Marty adalah tingkatan penguasa. Tingkatan itu bisa didapatkan melalui beberapa aspek, ada yang berdasarkan usia dan ada juga yang berdasarkan kekuatan. Untuk yang menggunakan aspek berdasarkan usia, biasanya itu hanya berlaku di tingkatan Jandra dan Abira. Sedangkan untuk kekuatan, berlaku untuk tingkatan Bendra dan Marty.
Untuk menjadi seorang Aryan, orang itu wajib lolos dalam tahap pengendalian Tiser ( sesuatu yang berada di dalam tubuh manusia, yang berfungsi untuk mengeluarkan kekuatan ). Dan itu semua diperlukan latihan dan bimbingan dari akademi. Tiser bisa dilatih oleh masing-masing orang, sehingga nantinya bisa membentuk kekuatan, dan juga bisa membentuk sebuah jurus.
___
Di sebuah rumah kecil di desa Meiyan.
"Heiren, kakak pulang, apakah kamu sudah makan?." Panggil seorang anak laki-laki berambut hitam yang berusia 15 tahun sambil membuka pintu rumah.
"Kakak, aku belum makan, aku masih menunggumu agar kita bisa makan bareng." ucap seorang anak laki-laki yang dipanggil Heiren.
Mereka berdua adalah adik kakak yang sudah tidak memiliki orang tua. Neland Rouzen adalah Kakaknya, yang merupakan murid akademi tingkatan Abira dan berusia 15 tahun. Sedangkan Neland Heiren, dia adalah adiknya Rouzen, berusia 5 tahun dan juga murid dari akademi yang masih belum mendapatkan tingkatan.
"Begitu ya? maaf karena kakak, kamu jadi telat makan. Tadi misinya sedikit cukup sulit sih." ucap Rouzen yang merasa sedikit bersalah kepada Heiren.
Namun Heiren memakluminya.
"Tidak apa-apa kak, lagian kakak ini jenius sih, orang lain yang berusia 15 tahun itu biasanya kan tingkatan Jandra, lah sedangkan kakak ini berusia 15 tahun tapi tingkatan Abira, jadi wajar jika sedikit kesulitan." ucap Heiren sambil tersenyum kepada Rouzen.
Mendengar perkataan adiknya, Rouzen pun menjadi merasa tersanjung.
"Hehe kamu ini bisa saja. Tapi aku yakin kok, kamu juga bisa menjadi seperti ku." ucap Rouzen sambil tersenyum kepada Heiren.
"Benarkah?." ucap Heiren yang menjadi lebih bersemangat setelah mendengar bahwa dirinya bisa menjadi seperti Rouzen.
"Tentu saja." ucap Rouzen sambil mengelus kepala Heiren.
Rouzen adalah seorang murid Jenius di desa Meiyan, alasannya karena Rouzen memiliki pemikiran dan kekuatan yang berbeda dari orang yang berusia sama dengannya, sehingga baru berusia 15 tahun saja, Rouzen sudah bisa masuk menjadi murid tingkatan Abira, yang rata-rata usia dari murid tingkatan Abira adalah 20 tahun. Selain itu, dulu Rouzen juga sudah pernah mengalahkan seseorang yang berada di tingkatan Jandra, pada saat dirinya masih belum memiliki tingkatan.
"Jadi, apakah kamu ingin makan dirumah? atau diluar?." Rouzen bertanya kepada Heiren.
"Aku ingin makan diluar. Selain itu, aku juga ingin berjalan-jalan bersama kakak." jawab Heiren sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." Rouzen segera berdiri dan hendak pergi.
Namun Heiren tidak langsung mengikuti Rouzen.
"Kakak, aku ingin digendong." ucap Heiren sambil memasang wajah yang imut.
Rouzen yang melihat itu hanya bisa menghela nafas.
"Hah... kamu ini. Bukannya kamu yang bilang ingin jalan-jalan? terus kenapa ingin digendong?."
__ADS_1
Mendengar perkataan Rouzen, Heiren pun menjadi merasa bersalah, dan wajahnya sedih.
"itu..."
Melihat ekspresi adiknya, Rouzen pun akhirnya menyetujui permintaan adiknya itu.
"Baiklah, ayo cepat naik." Rouzen jongkok dan mempersilahkan Heiren naik ke pundaknya.
Heiren pun sekarang menjadi senang.
"Hore, ayo cepat jalan kak." ucap Heiren sambil naik ke pundak Rouzen.
Rouzen yang melihat tingkah adiknya itu hanya bisa tersenyum. Dan kemudian, mereka pun berjalan ke arah dimana mereka akan makan.
Diperjalanan, mereka pun berjalan sambil ngobrol.
"Hei Heiren, apakah kamu mempunyai impian?." Rouzen bertanya kepada Heiren yang sedang duduk di pundaknya.
"Aku ingin menjadi seperti kakak." Heiren menjawab dengan polos.
Rouzen yang mendengar jawaban dari Heiren hanya bisa menghela nafas.
"Hah... kamu ini. Jika ingin menjadi seperti kakak, kamu tidak perlu memiliki impian, karena nanti juga kamu akan menjadi seperti kakak, atau bahkan lebih baik dari kakak sendirinya."
"Begitukah? Jadi salah ya, jika aku memiliki impian ingin menjadi seperti kakak?."
"Bukan salah sih, tapi masih kurang kalau itu."
"Terus seperti apa contohnya?."
"Misal kamu ingin menjadi Derent ( pemimpin desa ), atau mungkin kamu ingin menjadi orang yang sangat kuat dan dihargai orang lain, atau sebagainya."
"Tapi, bukankah itu terlalu berlebihan ya?."
"Pfft... bicara apa kamu ini. Impian itu tidak memiliki batas, bahkan jika kamu ingin menjadi orang terkuat pun itu tidak apa-apa." Rouzen menahan tawanya saat mendengar ucapan dari Heiren.
"Benarkah?."
"Iya. Jika impianmu hanya ingin seperti kakak, terus apalagi yang akan kamu lakukan jika sudah seperti kakak?."
"Aku akan terus mengikuti apa yang dilakukan kakak."
"Terus bagaimana jika nanti kakak sudah tidak ada? apakah kamu akan tetap mengikuti apa yang kakak lakukan?."
Heiren yang mendengar perkataan Rouzen itu akhirnya sadar,
"Oh iya juga ya, jadi apa impianku ya?." ucap Heiren sambil menatap langit.
"Tidak apa-apa jika kamu masih belum menemukan impianmu, nanti juga kamu pasti akan mendapatkan impianmu itu kok." ucap Rouzen sambil tersenyum.
"Terus, bagaimana dengan kakak? apa impian kakak?."
"Aku memiliki impian untuk membuat semua desa bersatu tanpa adanya peperangan dan permusuhan, sehingga nantinya semua orang terdekatku bisa hidup dengan aman dan damai."
Pada saat ini setiap desa bermusuhan, walaupun tidak semua menunjukan itu. Karena ada beberapa desa yang seperti menjalin hubungan, namun ternyata saling menusuk dari belakang,
"Terus apa lagi jika kakak sudah menggapai impian kakak itu?."
"Aku akan mencari impian lain."
"Eh... apakah boleh mempunyai banyak impian?."
"Tentu saja boleh, karena impian itu sama seperti tujuan, namun jangkauannya lebih luas. Contoh seperti kita saat ini, kita sudah mempunyai tujuan sebelumnya, yaitu untuk makan dan berjalan-jalan. Setelah kita selesai makan dan jalan-jalan, pastinya akan ada lagi tujuan baru kan?."
"Tentu."
"Impian juga seperti itu."
Mendengar perkataan Rouzen, Heiren pun akhirnya mengerti.
"Oh begitu ya. Baiklah aku juga akan berusaha untuk mendapatkan impianku. Namun untuk sekarang aku ingin menjadi seperti kakak dulu, apakah boleh?."
"Pfft.. Tentu saja boleh, namun jangan ikuti yang buruknya ya." Rouzen menahan tawanya lagi saat mendengar ucapan dari Heiren.
"Oke."
Mereka pun melanjutkan perjalanannya, hingga sampai ke sebuah tempat makan.
Disana, mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki yang berusia 15 tahun, sama seperti Rouzen.
"Hei Rouzen, apakah kamu akan makan disini?." Anak laki-laki itu menyapa Rouzen sambil tersenyum.
"Iya, apakah kamu juga sama?." Rouzen menyapa balik anak laki-laki itu.
"Iya, aku juga sama. Jadi apakah boleh jika aku makan bareng kalian?."
"Tentu saja."
"Hore, aku bisa makan bareng dengan si jenius." anak laki-laki itu bersikap sangat senang, namun sebenarnya menggoda Rouzen.
"Eh, apa-apaan itu? seharusnya aku yang senang, karena aku bisa makan bareng dengan si prihatin." ucap Rouzen yang mencoba menggoda anak laki-laki itu.
__ADS_1
Karena perkataan Rouzen, Anak laki-laki itu menjadi langsung merubah sikapnya seketika. Yang tadinya bersikap senang, sekarang menjadi bingung.
"Si Prihatin? apa maksudmu?."