
Beberapa hari kemudian, Rouzen kembali mendapatkan sebuah misi. Misi kali ini adalah mengalahkan bandit di bukit Rakes, bukit yang berada sekitar 1 hari perjalanan dari desa Meiyan. Misi kali ini juga, Rouzen menjalankan misinya bersama dengan 3 murid dari tingkatan Jandra, dan ketiga murid tingkatan Jandra itu adalah Bufan, Yessie dan Lowis yang berada di kelas Gama.
Di Ruangan tempat Rouzen mendapatkan misi.
Di ruangan ini, terdapat 5 orang yang sedang berkumpul. Mereka adalah Redes, Rouzen, Bufan, Yessie dan Lowis. Di sini, Redes menjadi orang yang memberikan informasi misi kepada Rouzen dan yang lainnya. Selain itu, Redes juga pada saat ini menjadi wali kelas dari kelas Abira.
“Misi kalian sekarang adalah membasmi bandit di bukit Rakes. Bandit itu sudah menyebabkan satu orang Nagaya tewas dalam perjalanan, sehingga kami yang menjadi salah satu dari 6 desa besar atau desa yang menghasilkan banyak Aryan harus segera bertindak untuk membasmi mereka, supaya kejadian seperti sebelumnya tidak terulang kembali.” Ucap Redes sambil menyilangkan tangan di dada.
“Apa guru yakin memberikan misi itu kepada kami?.” Rouzen sedikit cemas. Alasannya bukan karena dirinya, tapi rekannya yang masih di tingkatan Jandra.
“Iya aku yakin. Jika dari awal memang Aryan jalan yang kalian pilih, maka jangan menyerah dan menyesal di tengah jalan. Rouzen, kamu sudah pernah melakukan misi seperti ini kan pada saat kamu di kelas Gama tingkatan Jandra?.” Redes berbicara dengan serius.
“Iya.”
“Nah, hal serupa juga akan terjadi kepada murid kelas Gama yang lainnya juga, termasuk rekanmu itu.”
Rouzen pada saat berada di kelas Gama, dia juga pernah berada di posisi Bufan, Yessie dan Lowis. Rouzen pada saat itu mendapatkan misi mengalahkan sebuah kelompok yang jahat, bersama dengan satu murid dari kelas Abira yang menjadi ketua dan pemandunya.
Kemudian Redes melanjutkan.
“Kamu sudah mengerti sekarang kan? Jadi jangan terlalu khawatir, karena akademi tidak akan memberikan misi diluar kemampuan murid.”
“Iya.” Rouzen menjawab.
“Baik. Kalau begitu ambil ini.” Redes sambil melemparkan peta lokasi bandit di bukit Rakes.
Rouzen menangkap peta tersebut dan membuka peta tersebut.
“Itu adalah peta lokasi tempat Bandit itu berada. Namun kalian harus tetap berhati-hati dalam perjalanan, karena tidak tahu apakah bandit itu sedang berada di lokasi seperti yang di peta, atau bandit itu sedang menunggu mangsanya di sekitar lokasi yang ada di peta itu ( bukan di titik yang ditunjukkan dalam peta ).” Ucap Redes.
“Baik.” Rouzen menjawab.
“Bagus. Apa ada pertanyaan?.” Redes menatap ke empat orang satu persatu.
Hingga akhirnya Yessi mengangkat tangan.
“Hmm?.” Redes penasaran dengan pertanyaan Yessie.
“Bagaimana jika pada misi itu terjadi hal yang diluar kemampuan kami? misalnya kemampuan bandit itu berbeda dengan perkiraan akademi.” Yessie bertanya.
“Pertanyaan yang bagus. Jika hal seperti itu terjadi, kalian bisa langsung melarikan diri atau memerintahkan satu orang diantara kalian untuk kembali ke desa dan memberitahuku atau guru pembimbing yang lain.”
“Begitu ya. Tapi jika kita melakukan hal seperti itu, apa bayaran atau tingkat penyelesaian misinya akan dikurangi?.” ucap Yessie.
“Tidak. Bayaran dan tingkat penyelesaian misi kalian akan tetap sama. Namun untuk melakukan hal itu, tentunya alasannya harus jelas dan benar-benar diluar kemampuan kalian. Karena jika kalian mencoba untuk berbohong, kalian bisa-bisa mendapatkan hukuman dari akademi. Selain itu, jika kalian bisa menyelesaikan misi walaupun dengan kemampuan lawan yang salah perkiraan ( lebih kuat ), kalian bisa mendapatkan bayaran dan tingkat penyelesaian misi yang lebih tinggi. Dan itu juga akan diketahui setelah hasil pemeriksaan akademi. Apa sekarang kamu sudah mengerti?.”
“Iya, aku sudah mengerti.”
“Bagus. Dan yang lain? apakah sudah mengerti?.”
“Kami mengerti.”
“Bagus. Sekarang jalankan misinya dan semoga berhasil.” Redes memberi semangat.
Setelah itu, Rouzen dan 3 rekannya pergi meninggalkan ruangan dan segera pergi ke lokasi.
Mereka berempat bergerak ke lokasi dengan cara melompati satu batang pohon ke batang pohon yang lain. Namun itu hanya berlaku jika sedang berada di rute hutan, sedangkan untuk rute seperti savana / padang yang tidak terdapat pohon, mereka bergerak dengan cara berlari.
1 hari telah berlalu, akhirnya mereka berempat sudah sampai di area sekitar lokasi persembunyian Bandit.
“Bagaimana rencananya?.” Bufan bertanya kepada Rouzen.
Rouzen diam sejenak sambil berpikir.
__ADS_1
Dan pada saat dia sudah menemukan ide.
“Kalian tunggu disini sebentar, aku akan masuk lebih dalam kesana dan memeriksanya.”
Ketiga rekan Rouzen terkejut dengan perkataan Rouzen.
“Apa kamu serius?.” Bufan khawatir.
“Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat yang diluar kemampuanku kok. Dan juga pada saat aku selesai memeriksa, aku akan mengirimkan sinyal kepada kalian.” ucap Rouzen.
“Sinyal?.” Lowis bingung.
“Benar. Aku akan mengeluarkan suatu jurus ke arah langit, sehingga kalian nantinya bisa melihat sinyal itu. Jika aku mengeluarkan jurus api, kalian siap bertarung karena pada saat itu kemungkinan penyusupan ku sudah diketahui. Dan jika aku mengeluarkan tebasan kecil, kalian bersiap untuk penyergapan, karena pada saat itu kita akan membasmi para bandit itu dengan diam-diam. Apa kalian mengerti?.” ucap Rouzen.
“Kami mengerti.”
“Bagus.”
Setelah itu Rouzen pun pergi sendiri ke arah persembunyian dari para Bandit. Rouzen berjalan dengan penuh hati-hati, karena dia takut jika para bandit itu akan menyergap dirinya. Hingga sudah berjalan cukup lama, akhirnya Rouzen sampai di tempat dekat persembunyian dari para bandit. Rouzen memperhatikan area sekitar persembunyian bandit itu dengan teliti. Namun dia tidak menemukan sesuatu yang aneh, sehingga dia pun langsung mengeluarkan pisau, dan mengeluarkan jurus menggunakan pisau itu. Oleh karena itu, sebuah sayatan berwarna putih keluar dari pisau Rouzen dan mengarah ke langit.
Sudah hampir 10 menit Rouzen menunggu, rekannya tidak ada yang datang, yang menyebabkan Rouzen khawatir. Dan tidak lama setelah itu, Rouzen menyadari sesuatu.
“Jangan-jangan…” Rouzen tersentak dan menyadari sesuatu.
Rouzen langsung bergerak dengan cepat ke dalam sebuah gubuk yang dimana gubuk itu adalah tempat persembunyian para bandit. Rouzen mendobrak masuk ke dalam gubuk itu, dan benar saja, tidak ada orang didalamnya.
“Sialan.” Rouzen panik dan segera pergi ke tempat rekan nya.
Di tempat 3 rekan Rouzen.
Mereka bertiga dikepung oleh 6 orang bandit dengan penampilan yang menyeramkan.
“Hehehe… akhirnya dia pergi juga.” Bandit dengan luka bakar di wajahnya menyeringai.
“Bocah yang membawa pedang maksudku.”
Bandit itu berbicara tentang Rouzen. Karena pada saat ini, Rouzen membawa pedang di punggungnya.
“Dia? Kamu tahu dia?.” Bufan terkejut, begitu juga dengan Yessie dan Lowis.
“Benar, aku tahu dia. Dia adalah bocah yang paling merepotkan yang pernah aku temui.”
“...” Bufan dan 2 rekannya hanya diam dan fokus.
“Sudahlah, percuma saja aku menjelaskannya. Karena kalian sudah bersiap, maka kami juga akan bersiap juga.”
Bufan, Yessi dan Lowis mendekatkan punggung mereka masing-masing, sehingga posisi mereka menjadi seperti segitiga. Mereka bertiga melindungi bagian belakang dari rekannya masing-masing, sehingga para bandit akan sedikit kesulitan untuk menyerang titik buta mereka.
Para bandit pun mulai menunjukkan aksinya. Para bandit melemparkan beberapa pisau lempar ke arah mereka bertiga, untuk mencari celah. Karena itu, mereka bertiga seperti dihujani dengan pisau. Dan karena itu juga, mereka bertiga berusaha menangkis serangan dari para bandit itu.
“Ombak hembusan.” Lowis mengeluarkan jurusnya.
Berkat jurus yang dikeluarkan oleh Lowis, angin yang berhembus dengan kencang mengarah atas pun menjadi mengelilingi mereka bertiga dan melindungi mereka dari arah depan.
“Angin kekacauan.” Bufan mengeluarkan jurusnya, dan melemparkannya ke atas.
Karena jurus itu, angin beliung berputar di atas mereka bertiga dan melindungi mereka bertiga dari atas. Bahkan karena jurus Bufan itu, pisau lempar yang dilemparkan para bandit menjadi berbalik menyerang para bandit itu sendiri.
Melihat kemampuan dari ketiga bocah itu, bandit yang sebelumnya berbicara atau Bandit dengan luka bakar di wajahnya menjadi kagum.
“Hehehe… kemampuan kalian juga tidak lebih buruk dari dia.” Bandit itu memuji Bufan, Yessie dan Lowis.
Di dalam posisi mereka bertiga, Bufan memerintahkan Yessie untuk mengeluarkan jurusnya ke arah angin kekacauan miliknya yang belum berakhir.
__ADS_1
“Yessie, arahkan jurusmu masuk kedalam angin kekacauanku.”
“Baik.”
Yessie pun mengeluarkan jurusnya dan memasukkannya ke dalam jurus angin kekacauan milik Bufan.
“Ketenangan musim gugur.”
Asap yang harum keluar dari tubuh Yessie, kemudian Yessie mengendalikan asap itu untuk masuk ke dalam jurus milik Bufan. Karena itu, angin kekacauan Bufan menjadi bukan hanya mengeluarkan angin beliung saja, tapi sekarang angin kekacauan milik Bufan menjadi mengeluarkan asap yang harum disertai daun yang berguguran. Bahkan karena jurus kombinasi tersebut, pisau yang terlempar kembali ke arah bandit menjadi mengeluarkan harum juga, yang membuat para bandit sedikit tidak fokus.
“Harum apa ini?.”
Para bandit mulai kehilangan fokus dan menghentikan lemparan pisau mereka sementara.
Merasa para bandit sedang kehilangan fokus, Bufan segera mengeluarkan jurus penyerangannya.
“Sayatan tak terlihat.”
Sebuah sayatan yang terbuat dari angin pun muncul dari tangan Bufan, yang kemudian dilemparkan Bufan ke arah salah satu Bandit, yang membuat bandit itu terkena jurus Bufan di lehernya.
“Akh…” Bandit itu kesakitan, dan akhirnya tewas.
Kemudian giliran Lowis yang melakukan serangan. Lowis melemparkan salah satu pisau ke arah salah satu bandit, kemudian dia mendorong pisau yang dilemparkannya itu dengan salah satu jurusnya.
“Dorongan angin.”
Pada saat pisau itu terbang mengarah kepada salah satu bandit, pisau itu menjadi bergerak jauh lebih cepat karena terkena jurus dorongan angin milik Lowis. Hingga akhirnya pisau itu mengenai kepala bandit itu sampai bandit itu tewas.
Yessie tidak ingin ketinggalan juga, dia mengeluarkan jurusnya kepada salah satu bandit.
“Harum ketenangan.”
Yessie mengeluarkan jurusnya, hingga muncullah asap harum yang mengarah kepada salah satu bandit. Setelah itu, asap harum milik Yessie mengelilingi tubuh dari bandit itu, dan lama-kelamaan asap itu melilit dan membungkus tubuh dari bandit itu. Yessie tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu, melainkan dia terus menahan jurus tersebut. Hingga beberapa saat kemudian atau saat jurusnya berakhir, bandit itu langsung tewas karena kesulitan bernafas.
Melihat kejadian itu, para bandit menjadi sangat kesal.
“Bocah-bocah tengik, keluarlah dari angin sialan yang mengelilingi kalian itu.”
Pada saat ini, jurus pertahanan mereka bertiga masih aktif, karena saat jurusnya akan berakhir, mereka dengan cepat memperbarui jurusnya lagi. Dan pada saat mereka bertiga mengeluarkan serangan, mereka melonggarkan pertahan itu sebentar, hingga mereka bisa mengeluarkan serangan ke arah para bandit.
Para bandit memang sangat kesal dengan mereka bertiga, namun hanya ada satu bandit yang bersikap santai. Dan bandit itu adalah Bandit dengan luka bakar di wajahnya atau bandit yang berbicara pertama kali. Bahkan bandit itu menghina komplotannya yang sudah kalah.
“Bodoh sekali.” Ucap bandit itu setelah menyaksikan 3 rekannya yang tewas.
Karena sudah beberapa kali memperbarui jurus, akhirnya mereka bertiga pun kelelahan dan pertahanannya menjadi semakin lemah.
“Hahaha… sepertinya kalian sudah kelelahan ya?. Kalau begitu.” Salah satu bandit bergerak dengan cepat sambil membawa golok menuju mereka bertiga setelah melihat pertahan mereka bertiga melemah.
“Matilah.” Bandit itu menyerang Lowis yang berada di dekatnya pada saat ini.
Namun belum sampai golok itu mengenai Lowis, bandit itu terluka di matanya.
“Akh…..” Bandit itu kesakitan dan sambil memegang matanya yang berdarah.
“Maaf aku terlambat.” Rouzen datang sambil memegangi pisau kecil yang berdarah akibat tusukan ke arah mata bandit itu.
Pada saat golok bandit itu hampir mengenai Lowis, Rouzen bergerak dengan cepat dari belakang Lowis, kemudian dia melompat sambil menusukkan pisau yang ada di tangannya ke arah mata dari bandit yang akan menyerang Lowis.
Berkat kedatangan Rouzen, mereka bertiga menjadi lega sekarang. Dan untuk bandit dengan luka bakar di wajahnya.
“Hehehe… kamu datang juga.” Bandit dengan luka bakar di wajahnya menyeringai.
Rouzen yang melihat itu menjadi sangat terkejut.
__ADS_1
“K-kamu…. bagaimana bisa?.” Rouzen tidak percaya.