Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
3. Awal mula impian Rouzen.


__ADS_3

Karena Heiren penasaran dengan kehidupan Rouzen pada saat di akademi, akhirnya Rouzen pun menceritakan masa lalunya.


Flashback.


5 Tahun yang lalu, pada saat Rouzen berusia 10 tahun, dan Heiren berusia 6 bulan.


Di desa kecil yang tidak jauh dari desa Meiyan, dan desa itu bernama desa Dayan.


Pada saat itu, Rouzen dan Heiren hidup bersama dengan orang tuanya, dan orang tua mereka adalah seorang Aryan. Namun orang tua Rouzen dan Heiren bukan Aryan dari keenam desa besar di daratan Weines, mereka adalah Aryan yang independen dan tidak terikat dengan desa manapun. Meski begitu, orang tua Rouzen adalah Aryan yang suka membantu desa lain dalam beberapa kasus, sehingga orang tua Rouzen banyak memiliki koneksi dari berbagai desa. Dan orang tua Rouzen itu bernama Jiose untuk ayahnya, dan Dessy untuk ibunya.


Suatu ketika, Orang tua Rouzen mendapatkan sebuah misi yang perlu mereka lakukan, namun misi itu tidak jelas dari desa mana mereka dapatkan, atau mungkin itu karena inisiatif mereka sendiri.


"Rouzen, seperti biasa kamu jaga adikmu dulu ya, ayah dan ibu ada tugas yang harus diselesaikan." Jiose berbicara kepada Rouzen.


"Baik ayah, tenang saja." Rouzen menjawab sambil tersenyum.


Kemudian giliran Dessy yang berbicara.


"Maafkan kami ya, karena kami tidak bisa selalu ada untuk kalian." ucap Dessy sambil sedikit sedih.


"Tidak apa-apa ibu, aku juga mengerti bahwa kalian melakukan ini pasti ada alasannya kan?."


"Tentu saja, jika tidak ada alasannya, mana mungkin kami rela meninggalkan kalian." ucap Dessy sambil mengelus kepala Rouzen.


Kemudian Rouzen pun bertanya kepada orang tuanya tentang tujuan mereka menjadi seorang Aryan.


"Ayah, Ibu, aku dengar dari kalian bahwa jika menjadi seorang Aryan, nantinya orang itu akan punya kekuatan kan?."


"Tentu saja." Jiose menjawab pertanyaan Rouzen.


"Terus apa tujuan kalian menjadi seorang Aryan, sebenarnya aku juga ingin menjadi seorang Aryan, namun aku masih belum mempunyai tujuan jika nantinya aku menjadi seorang Aryan."


Mendengar perkataan Rouzen, Kedua orang tua Rouzen tersenyum kagum kepada Rouzen. Karena biasanya seseorang akan menjadi seorang Aryan terlebih dahulu dan kemudian mencari tujuannya. Sedangkan Rouzen, dia mencari tujuan lebih dahulu sebelum menjadi Aryan.


"Kamu ini benar-benar anak yang hebat ya, masih kecil saja sudah berpikir seperti itu." ucap Jiose sambil tersenyum kagum.


"Hehehe..." Rouzen merasa tersanjung.


Kemudian Jiose pun menjelaskan tujuannya menjadi Aryan.


"Sebenarnya setiap Aryan memiliki tujuannya masing-masing, namun untuk kami, kami ingin membuat semua desa di daratan Weines bisa berdamai tanpa adanya permusuhan, sehingga nantinya semua orang terdekatku bisa hidup dengan aman dan damai."


Mendengar tujuan dari ayahnya, Rouzen menjadi kagum dan termotivasi.


"Begitu ya. Kalau begitu aku juga akan membantu kalian mewujudkan tujuan itu deh." ucap Rouzen dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk membantu tujuan kami, bahkan jika kamu memiliki tujuan sendiri, kami pasti akan mendukungmu, dengan catatan kamu tidak boleh membuat orang lain, khususnya orang yang tidak bersalah menjadi korban karena tujuanmu itu." ucap Jiose sambil tersenyum.


"Baiklah ayah." Rouzen mengerti dengan perkataan Jiose.


Kemudian orang tua Rouzen dan Heiren pun pergi untuk menjalankan tugasnya.



Sudah 7 hari berlalu, orang tua Rouzen dan Heiren masih belum pulang, yang membuat Rouzen cemas.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian lama sekali." ucap Rouzen dengan cemas.


Rouzen dan Heiren sudah sering ditinggal oleh orang tuanya yang menjalankan tugas, namun baru kali ini mereka berdua ditinggalkan oleh orang tuanya sampai 1 minggu lamanya, yang membuat Rouzen menjadi cemas.


Keesokan harinya, orang tua mereka berdua masih belum kembali. Namun pada hari yang sama juga, mereka berdua didatangi oleh seorang pria yang diikuti beberapa orang di belakangnya.


"Apa kalian anak dari Jiose dan Dessy?." Seorang pria berusia 30 tahunan datang mengunjungi kediaman Rouzen dan Heiren.


"Betul kami adalah anaknya. Apa kalian tahu orang tua kami? dimana mereka sekarang?." Rouzen bertanya dengan penuh harapan.


Namun pria itu berekspresi sedih dan sedikit sulit untuk menjelaskannya.


"Perkenalkan namaku Redes, kenalan dari orang tua kalian. Aku disini karena perintah mereka untuk membawa kalian ke desa Meiyan dan berlatih di sana."


Mendengar itu, Rouzen menjadi bingung.


Karena itu, Redes pun menjadi mau tidak mau harus menceritakan kebenarannya.


"Orang tua kalian gugur dalam menjalankan tugas." ucap Redes dengan ekspresi dingin namun sebenarnya sedih.


Mendengar bahwa orang tuanya sudah tiada, Rouzen tidak percaya dan langsung menangis.


"Kamu tidak bercanda kan?." Rouzen memastikan bahwa perkataan Redes tidak benar.


"..." Namun Redes menggelengkan kepala, yang berarti perkataannya benar adanya.


"Tidak mungkin. Ayah, Ibu." Rouzen mulai meneteskan air mata.


Kemudian Rouzen pun menangis karena dirinya sedih dan tidak percaya bahwa orang tuanya sudah meninggal. Dan Redes yang melihat itu hanya bisa membiarkan Rouzen menangis sampai Rouzen menjadi lebih tenang. Walaupun sebenarnya, mata Redes pun berkaca-kaca karena dirinya sama sedih dengan gugurnya orang tua Rouzen itu.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Rouzen pun menjadi sedikit tenang.


"Maaf karena aku memberikan kabar yang menyedihkan. Namun aku juga bingung harus berbuat apa, karena tidak mungkin jika aku harus menyembunyikan hal itu darimu."


"..." Rouzen hanya diam dengan matanya yang lelah karena menangis.

__ADS_1


"Apakah kalian bersedia ikut denganku ke desa Meiyan? karena itulah amanat terakhir yang diberikan oleh orang tua kalian kepadaku."


Kemudian Rouzen mengangguk setuju.


Dan setelah itu, Rouzen pun bertanya bagaimana orang tuanya bisa gugur.


"Tapi, apakah aku boleh mendengarkan cerita tentang bagaimana orang tua kami bisa gugur dalam menjalankan tugas?." Rouzen berbicara dengan ekspresi yang masih sedih.


"Tentu saja, namun lebih baik kamu mendengarkannya setelah sampai di desa Meiyan, karena aku juga tidak memiliki banyak waktu saat ini."


"Baiklah."


Setelah itu, Rouzen pun membereskan semua barang bawaannya yang akan dia bawa ke desa Meiyan. Setelah selesai, Rouzen menggendong Heiren yang masih bayi dan segera pergi ke desa Meiyan dengan Redes.


"Ayah, Ibu, kalian tenang saja, aku pasti akan mewujudkan tujuan kalian itu." ucap Rouzen sambil menatap rumahnya yang akan dia tinggalkan.


Mereka pun berjalan menuju desa Meiyan.


Sesampainya di desa Meiyan, mereka menjadi pusat perhatian dari para warga desa, khususnya Rouzen dan Heiren yang baru di desa Meiyan.


"Siapa anak itu?." "Entahlah. Mungkin seorang tawanan." "Eh tapi kok Guru Redes seperti tidak memperlakukan mereka berdua seperti tawanan? apa anak itu memang bukan tawanan?." "Aku juga tidak tahu, namun pada saat aku melihat anak itu, aku menjadi kasihan kepadanya." "Aku juga." Obrolan beberapa warga desa tentang kedatangan Rouzen dan Heiren.


Namun Rouzen tidak terlalu memperdulikan mereka, karena pada saat ini dia sedang dalam keadaan yang sedang sedih.


***


Redes adalah seorang guru akademi di desa Meiyan, sehingga para warga memanggilnya dengan panggilan guru.


***


Tempat pertama yang mereka tuju adalah kantor tempat Derent ( pemimpin desa ) berada, dan tempat itu adalah tempat dimana setiap Aryan mendapatkan tugas dan melaporkan tugas.


Setelah sampai, Redes pun mengetuk pintu ruangan Derent.


"Masuklah." Derent desa Meiyan mempersilahkan masuk.


Redes dan yang lainnya pun akhirnya masuk setelah Derent mempersilahkannya masuk.


"Lapor, misi sukses diselesaikan." Redes melaporkan tentang misinya.


"Bagus."


Kemudian Derent itu menatap ke arah Rouzen dan Heiren dengan penasaran.


"Siapa anak ini? Kenapa kamu membawanya kesini?."

__ADS_1


"Dia adalah anak dari seseorang yang menyelamatkanku dan yang membantuku menyelesaikan misi ini." Redes menjawab Derent.


"Hah? Memang apa yang sebenarnya terjadi?." Derent penasaran.


__ADS_2