
Setelah selesai belajar bersama, Rouzen akhirnya pulang ke rumah Redes. Pada saat di rumah Redes, Rouzen langsung disambut dengan makanan yang lebih mewah dari biasanya.
“Wah.. sepertinya enak sekali.” Rouzen tergoda.
Setelah itu Redes dan Quener menghampiri Rouzen.
“Oh si jenius sudah pulang rupanya.” Redes menggoda Rouzen.
Mendengar itu, Rouzen menjadi tersanjung.
“Hehe… apa-apaan panggilanmu itu paman.” Rouzen sambil tersenyum malu.
“Itu kan benar adanya.”
Kemudian Rouzen menatap ke arah Quener.
“Dimana Heiren, bibi?.”
“Dia sedang tidur di kamar.”
“Oh begitu, baiklah. Tapi ada apa ini? kenapa makanannya lebih istimewa dari biasanya?.”
“Ini kan untuk merayakan kehadiran si jenius di rumah kami.” Quener sambil tersenyum.
Mendengar itu, Rouzen lagi-lagi tersanjung.
“Sudahlah jangan panggil aku dengan itu, aku jadi malu.”
“Hehe… seru sih menggodamu.” Quener tidak bisa menahan senyum.
“Hah…” Rouzen menghela nafas.
Melihat tingkah Rouzen, Redes dan Quener pun merasa terhibur.
Setelah itu, mereka pun makan bersama.
—
Keesokan harinya, di kelas Bubuka sebelum pelajaran dimulai.
“Lowis, kenapa kamu kemarin tidak datang? aku menunggumu loh.” Rouzen berbicara kepada Lowis.
“Maaf, aku malu untuk datang.” Lowis menjawab dengan ekspresi bersalah dan kecewa.
“Kenapa harus malu? ikut saja tidak apa-apa kok.”
“Kamu tahukan kalau pertarungan kamu dengan kakakku itu ada kaitannya denganku?.”
“Iya aku tahu.”
“Nah pastikan murid yang lain menjadi tidak suka denganku. Jadi aku tidak ingin membuat murid lain terganggu karenaku.”
“Bicara apa kamu ini. Pokoknya kamu harus ikut hari ini. Dan ingat bahwa setiap orang itu pernah melakukan kesalahan, jadi jika kamu pernah berbuat salah, kamu hanya perlu memperbaikinya saja.”
Mendengar itu, Lowis terharu.
“Begitu ya, terimakasih. Kalau begitu, hari ini aku akan ikut.”
__ADS_1
“Bagus.”
Setelah itu, Rouzen hendak kembali ke bangkunya, namun dia dihentikan oleh seorang murid wanita. Dan murid wanita itu adalah murid yang waktu itu akan menjawab pertanyaan dari Zhuge, namun didahului oleh Rouzen.
“Rouzen, bolehkah aku ikut belajar bersama?.” Murid wanita itu berbicara kepada Rouzen.
Namun Rouzen bukannya menjawab murid wanita itu, Rouzen malah terpana dengan murid wanita itu.
Melihat itu, murid wanita itu segera menyadarkan Rouzen.
“Hei, apa kamu dengar yang aku ucapkan sebelumnya?.” Murid wanita itu sambil menepuk bahu Rouzen.
Karena itu Rouzen pun tersadar.
“Ah iya, tentu saja boleh.” Rouzen baru tersadar.
“Baiklah, kalau begitu terimakasih.” Murid wanita itu hendak meninggalkan Rouzen.
Namun Rouzen menghentikannya.
“Tunggu.”
“Hmm?.”
“Itu… namamu siapa ya? aku belum tahu namamu soalnya.” Rouzen bertanya dengan malu-malu.
“Oh iya aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan namaku Ferent Yessie.”
Mendengar itu, Rouzen sedikit terkejut karena dia bermarga Ferent yang artinya dia putri dari seorang wakil Derent sekarang.
“Apakah kamu putri dari wakil Derent desa Meiyan, Ferent Gernest?.”
“Maaf aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa.”
Kemudian Yessie melanjutkan lagi perkataannya.”
“Jadi pulang sekolah ya?.”
“Iya pulang sekolah di lapangan dekat sungai.”
“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti.”
Setelah itu, Rouzen dan Yessie kembali ke bangkunya masing-masing.
Setelah Rouzen sampai di bangkunya.
“Ehm ehm sepertinya ada yang jatuh cinta pandangan pertama nih.” Hervy yang melihat percakapan antara Rouzen dan Yessie.
“Heleh, baru bocah tengik saja sosoan bicara tentang cinta.” Rouzen membalas.
“Kamu juga masih bocah.” Hervy tidak terima.
“Begitukah? hahaha maaf maaf.”
“Hmph.”
__ADS_1
Tidak lama kemudian Zhuge akhirnya datang dan jam pelajaran pun dimulai.
Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya datang juga waktu pulang.
“Rouzen ayo belajar bareng lagi seperti kemarin.”
“Iya betul, aku jadi lebih mudah mengerti kalau belajar seperti kemarin.” Ajakan teman-teman Rouzen.
“Baiklah, seperti biasa ya.” Rouzen setuju.
Setelah itu teman-teman Rouzen pulang dulu ke rumahnya masing-masing dan menyusul ke lapangan. Sedangkan Rouzen, dia langsung pergi ke lapangan bersama dengan Hervy dan Lowis, dan belajar bersama duluan.
Beberapa saat kemudian, Yessie datang.
“Hai, apa aku terlambat?.” Yessie.
“Tidak. Kamu tidak terlambat kok. Lagian yang lain juga belum datang. Apakah kamu ingin belajar duluan saja dengan kami?.” Recky.
“Oh boleh kalau begitu.”
Mereka berempat pun belajar bersama duluan sambil menunggu yang lain.
Hingga akhirnya teman-teman yang lain pun datang.
“Kami datang.”
Kemudian mereka melihat bahwa Lowis hadir.
“Lowis, kenapa kamu di sini?.”
“Iya, kenapa kamu di sini? apa kamu mau balas dendam kepada Rouzen.” Perkataan teman-teman Rouzen yang baru datang.
Karena perkataan itu, Lowis hanya diam dan sedih.
Namun Rouzen yang melihat itu langsung menghentikannya.
“Sudahlah teman-teman, Lowis sama seperti kalian juga, dia ingin belajar bersama.” Rouzen berbicara kepada teman-temannya.
“Tapi kan karena dia kamu jadi hampir terluka.”
“Aku tahu itu. Tapi kan setiap orang memang punya kesalahan yang pernah dilakukan masing-masing, dan sekarang Lowis sudah mengakui kesalahannya, bahkan dia juga ingin menjadi lebih baik lagi. Jadi aku mohon kepada kalian untuk menerima dia ya, dan bantu dia juga untuk memperbaiki kesalahannya.”
Mendengar itu, teman-teman Rouzen yang baru datang itu sadar.
“Kamu benar. Kalau begitu aku minta maaf ya Lowis.”
“Aku juga.”
Setelah itu Lowis pun menjadi senang dan terharu.
“Iya tidak apa-apa. Kalau begitu mohon bantuannya ya.” Lowis berbicara kepada teman-temannya.
Setelah itu mereka pun belajar bersama seperti yang dilakukan kemarin.
Waktu terus berlalu hingga sudah 1 tahun. Rouzen dan teman-temannya masih sering belajar bersama sepulang sekolah. Hingga waktu ujian kenaikan kelas pun dimulai.
Sebelum ujian, para murid diberi pilihan untuk menjadi Aryan atau Nagaya. Jika menjadi Nagaya, murid itu sudah dipastikan akan lolos masuk ke kelas Nagaya tanpa ujian. Namun jika menjadi Aryan, kemudian murid itu gagal dalam ujiannya, murid itu akan diberi pilihan untuk menambah masa belajar di kelas Bubuka, atau pindah ke kelas Nagaya.
__ADS_1
Ujian ini terbagi menjadi 2 Ujian. Yang pertama adalah Ujian Teori, yang dimana murid akan mengisi soal yang sudah dipelajari di kelas Bubuka. Dan Ujian selanjutnya adalah Ujian praktek, yang dimana murid harus bisa mengendalikan Tisernya, dan mengeluarkan sebuah sihir, walaupun tidak terlalu istimewa. Seperti mengeluarkan asap di tangan, atau mengeluarkan hembusan angin di tangan. Dan tentunya itu juga harus mengeluarkannya dengan pengendalian Tiser.
Untuk murid di kelas Bubuka yang bersama Rouzen, mereka semua lolos ujian berkat usaha belajar bersama yang mereka jalani. Untuk Ujian Teori, murid yang sekelas Rouzen termasuk Rouzen nya, mereka mendapatkan nilai yang cukup tinggi. Sedangkan di Ujian praktek, rata-rata murid di kelas Rouzen bisa mengendalikan Tiser dan mengeluarkan sihir asap di tangan dan hembusan angin di tangan. Namun ada 3 murid yang istimewa, mereka adalah Lowis, Yessie dan Rouzen. Lowis, dia mengeluarkan sihir angin yang berbentuk di tangannya, sama seperti Bufan namun lebih kecil. Yessie, dia mengeluarkan sihir seperti daun-daun yang berguguran. Dan Rouzen, dia mengeluarkan sihir api yang cukup besar dan juga bisa sedikit dia kendalikan, yang membuat murid sekelasnya dan para guru terkejut serta kagum dengan hal itu.