Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
21. Kamu mengira bahwa aku sudah tewas


__ADS_3

Setelah menusuk mata salah satu bandit, Rouzen menjadi sangat terkejut karena dia melihat Bandit dengan luka bakar di wajahnya berbicara kepadanya.


Di saat Rouzen masih terkejut, bandit yang tertusuk oleh Rouzen merasa diabaikan. Oleh karena itu, dia pun berbicara.


“Hei bocah tengik, beraninya kamu menusuk mataku. Dan juga sekarang kamu malah mengabaikanku. Ap…” Bandit yang tertusuk matanya belum selesai berbicara, karena sebuah jurus sabetan pedang mengarah ke arahnya. Karena sabetan itu, bandit yang tertusuk matanya menjadi tewas karena terkena sabetan vertikal yang mengenai wajah dan tubuhnya.


“Berisik sekali.” Dan ternyata sabetan itu adalah ulah dari Rouzen.


Tidak sampai disitu saja, Rouzen juga mengeluarkan sabetan yang sama kepada satu bandit yang lainnya, sehingga bandit itu pun tewas.


Sekarang hanya satu bandit yang tersisa, dan bandit itu adalah Bandit dengan luka bakar di wajahnya. Rouzen masih tidak percaya dan terkejut dengan bandit itu.


“Bagaimana kamu bisa ada disini?.” Rouzen bertanya dengan ekspresi terkejut.


“Hehehe… Rahasia.” Bandit dengan luka bakar di wajahnya menyeringai.


“Cih.” Rouzen tidak terima.


Kemudian Bandit itu melanjutkan.


“Apakah kamu terkejut denganku? karena kamu mengira bahwa aku sudah tewas?.”



Pada misi sebelumnya, Rouzen sudah pernah berhadapan dengan bandit itu. Bahkan luka bakar di wajahnya, itu disebabkan oleh jurus Rouzen. Pada misi itu, Rouzen dan rekannya berhasil mengalahkan komplotan para bandit, bahkan Rouzen pun tahu jelas bahwa bandit dengan luka bakar di wajahnya sudah tewas pada pertarungan sebelumnya, sehingga pada saat melihatnya sekarang, Rouzen menjadi sangat terkejut.



“...” Rouzen hanya terdiam dan masih terkejut.


“Karena kamu sudah muncul disini, jadi aku akan membalas perbuatanmu yang sudah membuat wajahku seperti ini.” Bandit itu segera bergerak mendekati Rouzen dan menyerangnya.


Bandit itu membawa satu golok di tangannya dan menyerang Rouzen dengan cepat.


Rekan Rouzen menjadi Khawatir.


“Rouzen! hati-hati.” Bufan yang sudah kelelahan.

__ADS_1


Namun Rouzen meresponnya dengan santai dan sambil menghindari serangan bandit itu.


“Jangan khawatir. Dan Yessie, tolong beri pertolongan pertama kepada Lowis dan Bufan.”


“Baik.” ucap Yessie.


Rouzen dan bandit dengan luka bakar di wajahnya bertarung cukup sengit. Dalam pertarungan ini, Bandit itu hanya menggunakan kemampuan Talisnya dan tidak bisa mengeluarkan jurus atau pengendalian Tiser. Namun Rouzen sedikit aneh dengan kemampuan dari bandit itu, karena bandit itu bergerak cukup bagus dan baik daripada pertarungan sebelumnya.


“Ada apa dengan bandit ini? kenapa kemampuannya jauh lebih bagus daripada sebelumnya? padahal jika kemampuannya seperti sebelumnya, aku pasti sudah bisa mengalahkannya dari tadi.” Gumam Rouzen di tengah pertarungan.


Hingga pada saat Rouzen mengeluarkan jurus api, dia melihat bayangan di belakang bandit itu, seperti benang yang mengendalikan bandit itu.


“Benang? apakah itu alasannya?.” Rouzen bergumam dan menyadari sesuatu yang aneh.


Karena melihat benang yang seperti menempel di tubuh bandit itu, Rouzen sekarang mengeluarkan jurus tangan apinya. Sehingga karena jurus itu, salah satu tangan Rouzen dibungkus oleh api. Rouzen mencoba menembak tubuh bagian belakang dari bandit itu, guna memutuskan benang yang menempel di tubuhnya.


“Ombak api.” Rouzen mengeluarkan jurus. Berkat jurus itu, sebuah api yang cukup besar keluar dari tangan Rouzen dan membakar tubuh dari bandit itu.


“hosh..hosh…” Rouzen sedikit lelah dan memperhatikan bandit yang sedang terbakar dengan teliti.


Namun tidak lama kemudian, jurus api yang dikeluarkan oleh Rouzen lenyap seketika.


“Hahaha…. kemampuanmu memang cukup mengagumkan bocah.” Bandit itu memuji Rouzen.


Rouzen mengabaikan pujian itu dan segera menyerang kembali namun tanpa tangan apinya ( karena jika memakai tangan api, tisernya akan lebih cepat terkuras ). Jual beli serangan terus dilakukan oleh mereka berdua, hingga pada saat Rouzen mengeluarkan jurus apinya lagi ( tanpa tangan api ) kepada bandit itu, jurus miliknya lenyap lagi. Namun Rouzen menyadari sesuatu bahwa jurus miliknya itu lenyap karena benang yang menempel di tubuh bandit itu.


“Jurus apa ini?.” Gumam Rouzen karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Menyadari hal itu, Rouzen kembali mengeluarkan tangan apinya.


“Untuk apa kamu mengeluarkan jurus itu lagi hah? Percuma saja. Kamu tahu kan itu tidak akan berhasil?.” Bandit itu meremehkan.


Tiga rekan Rouzen pun heran dengan apa yang dilakukan oleh Rouzen.


Namun Rouzen tidak peduli dengan itu semua.


“Tahu apa kamu ini hah?.” Rouzen segera menyerang kembali bandit itu.

__ADS_1


Rouzen terus memaksa bandit itu untuk bertarung jarak dekat. Hingga pada saat benang itu terlihat karena cahaya dari tangan apinya, Rouzen segera mengambil pedangnya dan memotong benang itu dengan pedangnya.


Karena kejadian itu, benang yang menempel di bagian belakang tubuh atau tepatnya di bagian belakang lengan bandit itu menjadi terputus.


“Sudah kuduga itu akan berhasil.” Ucap Rouzen sambil menjauh dari bandit itu yang hendak menyerang balik dirinya.


“Cih, kamu menyadari juga ya.” Bandit itu berbicara, dengan salah satu tangan yang mengambai kebawah seolah tangan itu sudah mati.


Rouzen sudah menyadari bahwa bandit itu tidak bisa di serang oleh jurus yang menggunakan Tiser, sehingga dalam beberapa serangan terakhirnya dia hanya menggunakan kemampuan Talisnya. Bahkan pada saat dia memotong benang di belakang tubuh bandit itu, dia memotongnya dengan tanpa menggunakan pengendalian Tisernya.


Kemudian Rouzen kembali menyerang bandit itu dengan serangan yang serupa. Dia terus menerus mengincar bagian belakang tubuh bandit itu untuk memutus semua benang yang menempel di tubuhnya.


Rekan Rouzen yang melihat pertarungan Rouzen, mereka masih belum mengerti tentang apa yang dilakukan oleh Rouzen.


Hingga pada saat Rouzen berhasil memutus semua benang yang menempel di tubuh bandit, Rouzen menjambak rambut dari bandit itu dengan menggunakan tangan api miliknya, kemudian dia membenturkan kepala bandit itu ke tanah. Dan tidak lama setelah itu, bandit itu menjadi terbakar dan gosong.


Rekan Rouzen yang saat ini sudah sedikit pulih menjadi terkejut, karena ternyata jurus api Rouzen bisa mengalahkannya.


“B-bagaimana bisa?.” Bufan terkejut.


“Tadi kan tidak mempan jurus apinya? kenapa sekarang bisa mempan?.” Lowis terkejut.


Dan untuk Yessie, dia masih setia dengan sikap dinginnya sehingga pada saat kejadian itu, Yessie hanya terdiam dan bingung.


Tidak lama setelah kejadian itu, tubuh dari Rouzen dan rekannya menjadi gemetar seperti ketakutan.


“Apa ini?.” Rouzen terkejut.


Datanglah seseorang dengan jubah merah dan topeng yang menghampiri mereka. Orang itu berjarak cukup jauh dari mereka berempat, namun orang itu terus berjalan menghampiri mereka.


“Perasaan apa ini? kenapa aku gemetar dan ketakutan? bahkan aku tidak bisa bergerak.” Bufan panik.


Hal serupa juga dialami oleh ketiga orang yang lainnya.


Hingga pada saat orang berjubah merah itu sudah berada sekitar 4 meter dari mereka berempat, orang berjubah itu berbicara.


“Hehehe… hebat juga kamu bisa dengan cepat menyadari benang pengendalian milikku.”

__ADS_1


“S-siapa kamu..?.” Rouzen panik dan tidak bisa bergerak.


__ADS_2