
Di hari-hari berikutnya, keadaan Rouzen masih sama seperti sebelumnya yaitu belum siuman. Namun walaupun begitu, banyak orang yang menjenguk Rouzen dari hari kehari, dan mereka pun datang silih bergantian.
Hingga sudah sampai satu minggu setelah Rouzen tidak sadarkan diri akibat pertarungan sebelumnya, Rouzen akhirnya siuman. Semua orang yang mendengar bahwa Rouzen sudah siuman menjadi senang.
Di ruangan tempat Rouzen dirawat.
“Kakak… akhirnya kamu sadar juga.” Heiren berteriak sambil memeluk Rouzen yang masih terbaring di kasur klinik namun sudah dalam keadaan sadar.
“Heiren?.” Rouzen masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya, karena dia sedang terbaring di kasur klinik. Kemudian dia melihat sekitar dan ternyata ada beberapa orang yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tersenyum tenang, dan ada juga yang menangis senang. Mereka yang menatap Rouzen itu adalah Redes, Quener, Bufan, Lowis, Hervy, Jazi, Lisa, Seiki, Marin dan Zhuge.
“Maaf sudah mengkhawatirkan kalian.” ucap Rouzen yang sekarang sudah sadar bahwa dirinya sedang dirawat akibat pertarungan dengan anggota Yalar sebelumnya. Dan pada saat ini, tubuh Rouzen penuh dengan perban. Bahkan mata kiri Rouzen yang terkena serangan dari anggota kelompok Yalar sebelumnya pun ditutupi dengan perban. Karena pada saat ini, Rouzen mengalami cacat atau buta mata kirinya.
“Syukurlah kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir denganmu.” ucap Quener sambil memberikan segelas air kepada Rouzen. Dan kemudian Rouzen meminum air yang diberikan oleh Quener.
“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?.” Rouzen bertanya kepada semua orang yang sedang menjenguknya.
“Satu minggu. Kamu sudah tidak sadarkan diri sampai satu minggu.” Redes menjawab pertanyaan Rouzen.
“Satu minggu!? selama itukah?.” Rouzen terkejut mendengar bahwa dirinya dirawat dan tidak sadarkan diri sampai satu minggu lamanya.
“Sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah sadar. Lalu, bagaimana kondisimu sekarang? apa sudah lebih baik?.” ucap Redes.
“Iya, aku sudah agak enakan sekarang, hanya sedikit lemas saja.” Rouzen menjawab.
“Syukurlah kalau begitu.” Redes senang mendengar jawaban Rouzen. Kemudian dia melanjutkan perkataannya. “Bolehkah aku bertanya?.”
__ADS_1
“Boleh, tentang apa?.” Rouzen penasaran.
“Aku sudah mendengar dari rekanmu tentang pertarungan yang kamu alami sebelumnya. Dan aku sangat terkejut, sekaligus kagum dengan kemampuan yang dimiliki olehmu. Namun ada satu hal yang membuatku penasaran, dan itu adalah tentang bagaimana cara kamu bisa menjadi sosok yang dibungkus oleh api. Jadi, bisakah kamu menjelaskan tentang cara kamu menjadi sosok yang dibungkus oleh api itu? karena jujur saja, aku baru pertama kali mendengar tentang jurus seperti itu.” Redes bertanya kepada Rouzen tentang jurus yang dipakai sebelumnya.
Kemudian Rouzen pun menjelaskan. Walaupun dengan ekspresi yang sedikit sedih dan berat untuk menceritakannya.
“Sebenarnya itu adalah jurus rahasia yang pernah diajarkan oleh ayahku. Aku tidak tahu apakah jurus itu bisa dimiliki oleh orang lain selain aku dan ayahku, atau tidak. Karena sudah selama ini aku belajar di akademi dan membaca buku, aku tidak pernah menemukan informasi tentang jurus seperti ini. Atau mungkin jurus ini memang dirahasiakan, karena sebenarnya jurus ini memiliki efek samping yang mengerikan bagi si pengguna.” ucap Rouzen dengan ekspresi yang berat untuk menceritakannya.
Semua orang menjadi sangat serius dan sedikit khawatir setelah mendengar penjelasan dari Rouzen.
“Efek samping yang mengerikan? apa maksudmu?.” Redes bertanya karena kebingungan dan juga sedikit khawatir.
Namun belum sempat Rouzen menjawab pertanyaan Redes, tiba-tiba Nilan masuk ke dalam ruangan tempat Rouzen dirawat dan berkata. “Rouzen mengalami penurunan, atau mungkin kecacatan di Tisernya. Pada awalnya dia memiliki POT sebanyak 8 titik di Tisernya, namun sekarang dia hanya memiliki POT sebanyak 3 titik di Tisernya, yang membuat dia akan kesulitan atau mungkin tidak bisa mengeluarkan kekuatannya seperti sebelumnya.” ucap Nilan dengan ekspresi yang sedih.
“Apa!... Kamu serius?.” Redes sangat terkejut saat mendengar penjelasan dari Nilan.
Dan kemudian Nilan pun mengangguk tanda bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya.
“I-ini… Tidak mungkin.” ucap Quener yang matanya berkaca-kaca dan sambil menutup mulutnya dengan tangan, seolah dia tidak percaya dengan apa yang menimpa Rouzen.
Dalam kondisi Rouzen, dia saat ini hanya menunduk dan kemudian dia berkata. “Jangan terlalu sedih dengan apa yang menimpaku, karena dari awal aku memakai jurus ini, aku sudah sadar akan konsekuensinya. Bahkan asal kalian tahu saja, kalau dengan kecacatan Tiserku ini, aku sudah bisa dibilang cukup beruntung, karena pada saat ayahku menjelaskan tentang jurus ini, dia berkata bahwa efek samping jurus ini mungkin bisa mengakibatkan kematian bagi si pengguna.”
Semua orang lagi-lagi dibuat terkejut setelah mendengar penjelasan dari Rouzen.
“Lalu kenapa kamu menggunakan jurus itu kalau kamu sudah tahu efek sampingnya bisa menyebabkan kematian?.” Quener bertanya dengan nada yang tinggi kepada Rouzen, dan dia juga bertanya dengan air mata yang keluar dari matanya.
__ADS_1
“Aku melakukannya karena pada saat itu aku sedang berada di ambang kematian atau dalam keadaan sekarat. Jadi daripada aku mati tanpa melindungi rekanku, lebih baik aku melindungi mereka terlebih dahulu sebelum aku mati, sehingga dengan itu aku bisa menjadi orang yang berguna. Dan mungkin memang sudah seharusnya jurus ini dipakai olehku pada saat itu, karena ayahku pernah berkata pada saat dia menjelaskan jurus ini padaku, bahwa jurus ini hanya kamu gunakan dalam kondisi darurat dan untuk melindungi orang yang ingin kamu lindungi.” Rouzen menjelaskan alasan dia memakai jurus itu.
“Tapi tetap saja…” Quener belum selesai bicara karena dihentikan oleh Redes.
“Sudahlah, ini memang bukan sebuah kesalahan. Rouzen melakukan itu karena hanya itu cara satu-satunya yang bisa dia lakukan, jadi kamu jangan terlalu mempermasalahkannya, karena jika Rouzen sudah mengambil sebuah keputusan, itu berarti dia siap menanggung konsekuensinya.” Redes berbicara kepada Quener, kemudian dia meminta pendapat Rouzen.”Apakah ucapanku itu benar, Rouzen?.”
“Itu benar paman. Jika aku mengambil sebuah keputusan, itu berarti aku juga harus bisa menyelesaikannya.” Rouzen setuju dengan perkataan Redes.
Quener yang mendengar itu pun menjadi sedikit tenang.
Kemudian Redes berbicara kepada Rouzen.
“Maaf kamu menjadi seperti ini karena misi yang diberikan olehku.” ucap Redes dengan ekspresi bersalah.
“Tidak apa, karena ini adalah kejadian yang tidak diduga.” Rouzen menjawab sambil menunduk sedih.
“Lalu bagaimana selanjutnya? apa kamu masih tetap akan menjadi Aryan?.” Redes bertanya tentang langkah selanjutnya yang akan Rouzen ambil, karena pada saat ini Rouzen sudah cacat Tisernya.
“Jika memungkinkan aku akan tetap menjadi Aryan. Namun karena sekarang kondisiku seperti ini, jadi mungkin aku akan menjadi Nagaya terlebih dahulu sampai aku mendapatkan solusi untuk mengobati Tiserku ini.” Rouzen menjelaskan rencana selanjutnya yang akan dia lakukan.
“Lalu di akademi….”
“Aku akan keluar dari kelas Aryan, dan masuk ke kelas Nagaya.” Ucap Rouzen yang memotong perkataan dari Redes.
Semua orang terkejut saat Rouzen memutuskan akan keluar dari kelas Aryan dan masuk ke kelas Nagaya. Mereka terkejut karena Rouzen yang pada saat ini disebut sebagai jenius desa Meiyan dan calon Aryan terbaik desa Meiyan, sekarang menjadi seorang Nagaya (orang biasa) yang tidak memiliki kemampuan sihir.
__ADS_1