
Setelah tawarannya sudah diterima oleh Rouzen, Bufan beserta adiknya pun pergi meninggalkan Hervy dan Rouzen. Setelah itu, Hervy bertanya kembali kepada Rouzen.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu? Apakah itu tidak apa-apa?."
"Memangnya kenapa?."
"Iya kamu tahukan kalau mereka itu musuh kita sebelumnya? Jadi aku takut jika mereka memanfaatkanmu."
"Itu baguskan jika mereka menganggapku bermanfaat?." Rouzen tersenyum.
Mendengar itu Hervy menghela nafas.
"Hah… kamu ini. Maksudku aku takut kalau mereka nantinya malah membahayakanmu."
"Oh itu maksudmu. Aku juga sempat berpikir seperti itu, namun aku memutuskan untuk menerima mereka terlebih dahulu, dan memikirkan lagi kemudian, jika mereka hendak membuatku dalam bahaya."
"Begitu ya, baiklah."
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanannya ke rumah masing-masing.
—
Keesokan harinya, kabar tentang pertarungan antara Rouzen dan Bufan tersebar. Dengan itu, Rouzen pun mendapatkan banyak pujian termasuk dari beberapa teman sekelasnya.
"Rouzen, apakah kamu benar bertarung melawan murid kelas Jandra dan tidak terluka sedikitpun?."
"Wah hebat sekali."
"Aku mau dong jadi temanmu."
"Iya ajarin aku dong."
Mendengar perkataan beberapa teman sekelasnya, Rouzen merasa tersanjung. Kemudian Rouzen menatap ke arah Lowis, dan Rouzen melihat bahwa Lowis merasa malu.
Kemudian Rouzen membalas perkataan teman-temannya.
"Eh itu hanya beruntung saja kok." Rouzen dengan sedikit tidak enak.
"Begitukah?."
"Iya, mungkin pada saat itu murid dari kelas Jandra itu sedang tidak fit, jadi aku bisa membuatnya kewalahan."
"Oh, begitu. Tapi apa kamu bersedia jika aku ikut belajar bersamamu?."
Kemudian Rouzen menyetujuinya.
"Tentu saja, ayo kita belajar bersama-sama."
Dan teman sekelas Rouzen yang lain pun ingin ikut juga.
"Aku juga ikut, kapan kita akan belajar bersamanya?."
__ADS_1
"Nanti saja sepulang sekolah ya." Rouzen menjawab.
Kemudian teman sekelas Rouzen itu menyetujuinya.
Setelah itu Zhuge datang dan pelajaran pun dimulai.
Di tengah pelajaran yang diberikan Zhuge, Zhuge bertanya kepada muridnya.
"Siapa diantara kalian yang bisa menjelaskan tentang Tiser?."
Mendengar itu, semua murid menjadi bingung dan saling menatap satu sama lain karena tidak tahu.
Namun tiba-tiba Rouzen langsung angkat tangan.
Melihat itu, Zhuge langsung beranggapan bahwa Rouzen mengetahuinya.
"Apakah kamu bisa menjelaskannya?."
Kemudian Rouzen menjelaskan.
"Tiser adalah sesuatu yang berada di dalam tubuh setiap orang yang berfungsi agar orang itu bisa mengeluarkan kekuatan. Walaupun setiap orang memiliki Tiser, tapi tidak semua orang bisa membuka dan mengendalikan Tisernya. Tiser memiliki satu komponen inti di dalamnya, yaitu Pot. Pot adalah sesuatu yang berada di dalam Tiser yang berfungsi untuk tolak ukur potensi seseorang dalam mengendalikan Tiser. Pot juga berbentuk seperti titik, dan berjumlah 12 titik di dalam Tiser. Semakin banyak jumlah titik yang muncul, semakin bagus pula Tisernya. Sehingga jika Tisernya bagus, kekuatan yang dikeluarkan juga akan lebih kuat."
Mendengar itu, Zhuge kagum. Namun dia bertanya lagi.
"Lalu kenapa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengendalikan Tiser?."
"Salah satu yang mempengaruhi pengendalian Tiser adalah Pot. Pada awalnya, setiap orang masih tidak memiliki Pot dalam Tisernya, namun pada saat seseorang memiliki tekad dalam hatinya, Pot itu akan mulai muncul. Dengan munculnya Pot itu, Tiser pun akhirnya akan bisa dikendalikan. Selain itu, Pot juga bisa muncul dikarenakan daya tahan tubuh yang kuat, pola pemikiran yang bagus dan beberapa aspek lainnya. Dan untuk seseorang bisa mengeluarkan jurus, Pot yang harus muncul minimal berjumlah 3 titik. Jadi kalau jumlahnya dibawah 3 titik, orang itu tidak bisa mengendalikan Tisernya."
"Bagus. Padahal kamu baru saja masuk akademi, tapi kamu sudah bisa hafal tentang Tiser ya." Zhuge kagum.
"Itu semua berkat buku yang diberikan oleh guru."
"Begitu ya. Tapi apakah pengendalian Tiser sesederhana itu?."
"Tidak. Karena walaupun seseorang berhasil mendapatkan Pot yang memenuhi syarat dan akhirnya bisa mengendalikan Tisernya, tapi orang itu masih perlu beberapa latihan khusus untuk bisa mengendalikan Tisernya dengan baik. Karena jika mengendalikan Tiser tanpa pengendalian yang bagus, itu mungkin akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri."
"Mengagumkan." Zhuge kagum.
Para murid lainnya juga ikut kagum dengan Rouzen.
"Wah hebat sekali."
"Aku tidak salah ingin belajar bersamamu."
"Aku juga ikut belajar bersamamu dong."
Mendengar itu Rouzen pun merasa tersanjung.
Namun ada satu murid yang tidak bersikap seperti murid yang lainnya, dia adalah murid wanita yang sekelas dengan Rouzen. Bahkan pada awalnya, Murid wanita itu hendak mengangkat tangannya, pada saat Zhuge memberikan pertanyaan. Namun dia didahului oleh Rouzen.
Beberapa saat kemudian, akhirnya jam pelajaran sudah selesai. Dan para murid sudah diperbolehkan pulang.
__ADS_1
Seperti yang diketahui sebelumnya, para murid yang ingin belajar bersama Rouzen, pergi mengikuti Rouzen. Termasuk Hervy.
"Rouzen, apakah sekarang jadi? Belajar bersamanya?." Salah satu teman sekelas Rouzen bertanya.
"Iya, kita akan belajar bersama di lapangan dekat sungai. Jika kalian ingin pulang terlebih dahulu atau sebagainya, kalian boleh menyusul kesana kok." Rouzen menjawab.
"Begitu ya. Baiklah aku akan menyusul nanti, aku ingin makan dulu."
"Aku juga sama."
"Baiklah." Rouzen menyetujuinya.
Setelah itu Rouzen menatap ke arah Hervy.
"Apakah kamu ingin pulang dulu?." Rouzen bertanya kepada Hervy.
"Tidak. Aku tidak akan pulang dulu, aku akan langsung saja ke lapangan. Kalau kamu?." Hervy menjawab.
"Aku juga sama. Aku akan langsung ke lapangan saja."
"Oh. Kalau begitu mari kesana bersama." Ajak Hervy.
"Oke."
Mereka berdua pun berjalan ke lapangan bersama. Sesampainya disana, Rouzen belajar bersama Hervy duluan, sambil menunggu teman-teman yang lain. Hingga beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain datang.
"Hai, kami datang.".
Setelah itu mereka pun belajar bersama. Mereka belajar berbagai hal, dari mulai pengetahuan tentang Aryan, Tiser dan sebagainya. Selain itu, mereka juga belajar memperagakan gerakan Talis yang ada di buku.
Hingga beberapa waktu telah berlalu, akhirnya belajar bersama pun selesai dan teman-teman Rouzen yang lain pulang. Namun Hervy dan Rouzen masih belum pulang.
"Terima Kasih karena sudah mengizinkan aku untuk belajar bersama." Hervy berterimakasih kepada Rouzen.
"Santai saja, kita ini kan teman. Lagian dari awal kan aku memang ingin membantumu belajar." Rouzen berbicara kepada Hervy.
Mendengar itu Hervy pun tersenyum. Namun setelah itu Rouzen malah seperti yang kebingungan.
Melihat itu, Hervy pun bertanya.
"Ada apa? Kenapa kamu seperti yang kebingungan?."
"Iya, dari tadi aku tidak melihat Lowis datang. Padahal kan dia sebelumnya berkata ingin belajar bersamaku."
"Mungkin dia malu."
"Iya sih mungkin, karena kan pada saat teman-teman yang lain berbicara tentang aku bertarung dengan murid kelas Jandra, mereka juga sudah tahu kalau Lowis terlibat dalam kejadian itu."
"Itu benar."
"Hah… sepertinya aku harus berbicara dengannya. besok." Rouzen menghela nafas.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua pun pulang.