Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
13. Kelulusan kelas Bubuka.


__ADS_3

Sebelumnya, para murid sudah mengikuti ujian kenaikan kelas. Dan murid di kelas bubuka angkatan Rouzen lulus semua.


Namun ada sesuatu yang menarik, itu adalah hasil ujian praktek dari 3 orang murid di kelas Bubuka angkatan Rouzen. Dan tiga murid itu adalah Lowis, Yessie dan Rouzen.


Flashback sedikit.


Di dalam kelas, saat ujian praktek.


“Lowis, kedepan dan lakukan pengendalian Tiser.” Zhuge berbicara kepada Lowis.


“Baik.”


Kemudian Lowis memfokuskan diri untuk mengendalikan Tiser ke tangannya. Beberapa saat kemudian, muncullah sebuah angin yang terlihat, bahkan sedikit membentuk dari tangan Lowis. Dengan kejadian itu, Lowis sudah dinyatakan lulus dan sudah bisa masuk ke kelas Jandra.


Para murid pun banyak yang kagum dengan itu..


“Wah hebat banget pengendalian Tisermu, sihirnya hampir berbentuk.”


“Iya, padahal aku tadi cuman keluar asap saja.” Beberapa murid yang satu kelas dengan Lowis memuji Lowis.


“Hehe… aku hanya beruntung saja. Kalian juga nanti akan bisa membentuknya.” Lowis tersanjung.


“Bagus, Lowis lulus.” Zhuge berbicara.


Kemudian Zhuge melanjutkan.


“Selanjutnya Yessie. Kedepan dan lakukan pengendalian Tiser.”


“Baik.” Yessie.


Kemudian Yessie melakukan hal yang sama seperti Lowis sebelumnya. Hingga beberapa saat kemudian, muncullah asap yang keluar dari tangannya, namun asap itu wangi dan lama-kelamaan mengelilingi tubuh Yessie. Dan tidak lama setelah itu, muncul lagi daun seperti daun yang sedang berguguran dari asap itu.


Melihat kejadian itu, semua orang yang ada di kelas terkejut dan kagum.


“Apa ini? keren sekali.”


“Wah, asap itu memunculkan daun. Dan juga asap itu harum sekali.” Pujian beberapa murid lainnya.


“Bagus, sepertinya Yessie punya bakat medis. Yessie lulus.” Zhuge.


Kemudian Zhuge melanjutkan.


“Rouzen, kedepan dan lakukan pengendalian Tiser.”


“Baik.” Rouzen.


Rouzen melakukan hal yang sama seperti temannya yang lain sebelumnya. Namun sudah beberapa saat, Rouzen masih tidak mengeluarkan apa-apa. Karena itu, Rouzen menjadi sedikit panik, begitu juga dengan temannya yang lain menjadi tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Eh, kenapa tidak ada yang muncul?.”


“Aneh sekali, padahal Rouzen kan seorang yang pintar.”


“Rouzen, coba ingat-ingat kembali, apakah ada yang kurang?.” Teman Rouzen bingung.


Hal serupa juga terjadi kepada Zhuge. Zhuge bingung kenapa Rouzen tidak bisa mengeluarkan sihir saat pengendalian Tiser.


“Rouzen, tenangkan dirimu dan jangan panik.”


“Baik.” Rouzen.


“Apa ini? kenapa aku tidak mengeluarkan apapun? padahal aku sudah bersikap tenang.” Gumam Rouzen.


Kemudian Rouzen mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya, guna merilekskan diri. Hingga beberapa saat kemudian, Rouzen akhirnya ingat bahwa salah satu yang bisa mempengaruhi pengendalian Tiser adalah Tekad / Niat.


“Apa jangan-jangan….” Rouzen menyadari sesuatu dan segera mengulang lagi pengendalian Tisernya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, muncullah api dari tangan Rouzen. Selain itu, Rouzen pun mencoba mengendalikan api itu seperti menggerakkannya dan memperbesarnya. Karena kejadian itu, semua orang sangat terkejut, termasuk Zhuge. Karena untuk ujian praktek kelas Bubuka, para murid biasanya hanya bisa mengeluarkan sihir yang dihasilkan dari pengendalian Tiser saja, bukan mengendalikannya.


“Wah, sudah aku duga bahwa Rouzen akan menunjukkan sesuatu yang sangat menarik.”

__ADS_1


“Gila… dia bisa mengendalikannya.” Kekaguman teman Rouzen.


“Sungguh luar biasa. Rouzen, kamu lulus.” Zhuge kagum.


“Terima kasih, guru.”


Setelah itu, Zhuge mengetes murid lain, dan hasilnya mereka semua lulus. Walaupun selain 3 murid yang istimewa dalam pengendalian Tiser pertama kalinya ( Rouzen, Yessie, Lowis ), tidak ada lagi murid yang mengendalikan Tiser hingga memunculkan sihir yang menarik. Rata-rata murid yang lain, termasuk Hervy hanya mengeluarkan sihir hembusan angin dari tangan dan asap dari tangan.


“Bagus, untuk kelas Bubuka angkatan sekarang, kalian semua lulus semua. Jadi mulai sekarang kalian sudah masuk ke kelas Jandra dan mulai bisa mendapatkan misi.” Zhuge berbicara dengan bangga kepada muridnya.


Mendengar itu, semua murid menjadi senang.


“Hore, akhirnya aku lulus.”


“Terimakasih guru.” Semua murid berterima kasih kepada Zhuge.


Kemudian, para murid berterima kasih kepada Rouzen.


“Terima kasih juga Rouzen, berkat belajar bersamamu, kami jadi bisa seperti ini.”


“Tidak. Itu juga berkat usaha dan niat kalian kok.” Rouzen menjawab sambil tersenyum.


Setelah itu, para murid meninggalkan kelas. Namun pada saat Rouzen hendak meninggalkan kelas, dia dihentikan oleh Zhuge.


“Rouzen, tunggu sebentar. Apakah kamu tidak keberatan jika aku memberikan pertanyaan kepadamu?.” Zhuge.


“Oh baik guru, tidak masalah.” Rouzen.


“Kenapa tadi pada awalnya kamu sedikit kesusahan saat mengendalikan Tiser dan mengeluarkan sihir?.”


“Mungkin permasalahannya ada tekad dan niatku.” Rouzen sedikit murung.


“Tekad dan niatmu?.” Zhuge bingung.


Kemudian Rouzen menjelaskan.


Mendengar itu, Zhuge menjadi kasihan kepada Rouzen.


“Begitu ya. Maaf aku malah jadi membuatmu lebih mengingat tentang itu lagi.”


“Tidak apa guru, aku bahkan lebih tenang setelah menjelaskan itu kepadamu.”


“Begitukah?.”


“Iya.”


“Sekarang aku mengerti. Kamu sebenarnya perlu seseorang yang bisa mendengarkan keluhan dan permasalahanmu. Jadi mulai sekarang kalau kamu punya sesuatu yang mengganjal di hatimu, kamu bisa menceritakannya kepadaku. Itupun kalau kamu tidak keberatan.”


Mendengar itu, Rouzen terharu.


“Apa guru serius?.”


“Tentu saja.”


“Kalau begitu terima kasih guru.”


Zhuge membalas dengan senyuman.


Kemudian Zhuge bertanya lagi.


“Lalu kenapa kamu akhirnya bisa mengeluarkan sihir?  dan juga sihir itu sangat menakjubkan.”


“Mungkin karena tekad dan niat ku yang ingin balas dendam.”


Mendengar itu, Zhuge terkejut.


“Apa! balas dendam?.”


“Iya. Mungkin guru dan yang lain melihatku seperti orang yang bersikap dan berpikir krisis. Namun dibalik itu, aku masih memiliki tekad dendam yang mendalam, khususnya untuk kasus orang tuaku. Jadi mungkin karena tekad dendamku yang lebih mendominasi, hingga pada saat aku mengendalikan Tiser dengan tekad dendamku, akhirnya kejadiannya seperti tadi.” Rouzen menjelaskan dengan ekspresi tidak enak.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka bahwa kamu masih menyimpan dendam semendalam itu.”


“...” Rouzen hanya diam.


Kemudian Zhuge melanjutkan.


“Maaf aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Aku juga tidak akan mempermasalahkan tentang itu. Untuk pertama kali mengendalikan Tiser, memang tekad atau niat sangat berpengaruh. Namun kamu jangan khawatir, karena jika kemampuan pengendalian Tisermu sudah sangat bagus, kamu bisa mengontrol itu. Bahkan jika kamu memiliki tekad yang masih berada dibawah tekad dendammu, kamu pasti akan bisa mengendalikannya. Dan ingat satu hal lagi, pengendalian Tiser tidak hanya bergantung dengan Tekad dan Niat, kamu ingat kan?.”


Mendengar itu, Rouzen akhirnya sadar.


“Berkat ucapan guru, aku jadi ingat bahwa tekad dan niat hanyalah sebuah awal dalam pengendalian Tiser, karena  masih banyak aspek lain yang bisa mempengaruhi pengendalian Tiser. Dan Terima kasih juga sudah mendengarkan curhatanku.” Rouzen tersenyum.


Melihat itu, Zhuge pun merasa senang dan lega.


“Seperti itulah Rouzen yang sering aku lihat.” Zhuge tersenyum.


Setelah itu, Zhuge memperbolehkan Rouzen untuk pulang.


“Kamu boleh pulang sekarang. Dan ingat, jika kamu punya sesuatu yang ingin kamu ceritakan, aku bersedia mendengarkannya kok.”


“Baik, terima kasih guru.”


Kemudian Rouzen pun meninggalkan kelas dan pulang ke rumah Redes.


Sesampainya di rumah.


“Aku pulang.” Rouzen sambil berjalan ke ruangan tengah.


Sesampainya di ruangan tengah, Rouzen langsung disambut, Redes, Quener dan Heiren yang sudah bisa berdiri.


“Selamat datang.” Redes berbicara kepada Rouzen.


“Apakah kamu lulus?.” Quener bertanya dengan sedikit khawatir.


Kemudian Rouzen membuat wajahnya berekspresi seperti gagal.


“Itu…”


Melihat itu, Redes dan Quener bisa menyimpulkan bahwa Rouzen gagal.


“Tidak apa-apa, lagian kamu bisa mengulanginya tahun depan.” Redes.


“Itu benar, jangan terlalu dipikirkan.” Quener.


Kemudian, Rouzen berjalan ke arah Heiren. Setelah berada di hadapan Heiren, Rouzen tersenyum dan langsung menggendong Heiren sambil berteriak.


“Aku lulus! hehe… kakak lulus! Heiren.” Rouzen gembira.


Melihat itu, Redes dan Quener merasa dipermainkan.


“Oh jadi kamu sudah berani mempermainkan kami ya?.” Redes sambil berjalan ke arah Rouzen. Diikuti oleh Quener.


Melihat itu, Rouzen langsung meminta maaf.


“Maaf, lagian paman dan bibi suka menggodaku sih.” Rouzen menurunkan Heiren sambil senyum bersalah.


Pada saat Redes dan Quener sampai di hadapan Rouzen.


“Kalau begitu…” Redes mengangkat tangannya.


Rouzen yang melihat itu beranggapan bahwa Redes akan memukulnya, sehingga Rouzen pun menutup matanya.


Namun.


“Selamat.” Quener langsung memeluk Rouzen. Redes pun sama, dia langsung memeluk Rouzen.


Karena kejadian itu, Rouzen menjadi terharu sampai dia mengeluarkan air matanya.


“Terima kasih atas semuanya.” Rouzen sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2