Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
7. Keluarga baru.


__ADS_3

Flashback End.


Redes yang pada saat ini sedang berada di ruangan Derent, dia menceritakan semua tentang apa yang terjadi pada misi yang dijalankan sebelumnya. Namun dia tidak menceritakan tentang harta yang ditinggalkan Jiose dan Dessy kepada Hofei yang merupakan Derent desa Meiyan. Alasannya, walaupun Hofei orang yang loyal kepada desa, namun dia memiliki sifat yang egois, sehingga jika Redes memberitahukan dan menjelaskannya, akan sulit untuk bisa membuat Hofei mengerti.


"Begitu ya, baiklah aku mengerti." Ucap Hofei setelah mendengarkan penjelasan Redes.


Kemudian Redes bertanya tentang nasib kedua putra Jiose dan Dessy.


"Lalu, bagaimana dengan mereka?." Redes bertanya sambil menunjuk Rouzen yang sedang menggendong Heiren.


Hofei menatap Rouzen dan Heiren, kemudian dia menyetujui mereka untuk tinggal di desa.


"Baik, aku menerima mereka di desa Meiyan. Namun biaya hidupnya, aku tidak akan bisa terlalu membantu." Hofei berbicara.


"Baik, aku mengerti. Biar aku saja yang mengurusnya."


"Baik, ini bayaranmu." Hofei sambil memberikan uang hasil Redes menyelesaikan misi. Dan Hofei juga melakukan hal yang sama kepada rekan Redes.


Kemudian Redes dan yang lainnya keluar dari ruangan Derent, dan pergi ke tempat tujuannya masing-masing.


Diperjalanan, Redes berjalan bersama dengan Rouzen dan Heiren.


"Kamu sudah dengarkan penjelasanku tadi?." Redes bertanya kepada Rouzen.


"Iya, aku sudah mendengarnya." Rouzen dengan wajah yang masih sedih.


Redes yang melihat itu tidak bisa berbuat banyak.


"Aku bertemu dengan orang tuamu hanya 2 kali, dan yang terakhir kalinya, kamu seharusnya sudah tahukan?."


"Hmm." Rouzen mengangguk.


"Meski begitu, orang tuamu sudah menolong kami, yang pada saat itu jika orang tuamu tidak menolong kami, kami mungkin sudah gugur dalam misi itu. Oleh karena itu, aku ingin membalas budi mereka, salah satunya adalah merawat dan melatih mu. Apakah kamu ingin menjadi seorang Aryan?."


"Iya, aku ingin menjadi seorang Aryan, dan melanjutkan impian Ayah dan Ibu."


"Begitu ya, baiklah nanti akan aku daftarkan kamu ke akademi."


"Terima kasih."


Mendengar itu, Redes hanya tersenyum kagum. Karena walaupun Rouzen masih kecil dan sedang bersedih, namun dia masih bisa berterima kasih kepada orang lain.


"Apakah kamu lapar?." Redes bertanya.


"Tidak." Rouzen menjawab.


Namun setelah itu.


"Kruk..." Suara perut Rouzen berbunyi.


Mendengar itu, Redes hanya bisa menahan tawanya.


"Pfft... jangan memaksakan diri. Jadi, kamu ingin makan diluar atau dirumah?."


"Aku ingin makan dirumah saja." Rouzen dengan wajah yang malu.


"Baiklah."


Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanannya ke arah rumah Redes.


Sesampainya di sana, Redes langsung membuka pintu rumahnya.


"Aku pulang." Redes berbicara.


Setelah itu, datanglah seorang wanita dewasa seperti wanita berusia 28 tahunan yang menyambut kedatangan Redes.


"Selamat datang, apakah misinya berjalan lancar?." Wanita itu tersenyum ke arah Redes.


"Iya, semuanya berjalan lancar." Redes menjawab.


Kemudian wanita itu menatap Rouzen yang sedang menggendong Heiren dan penasaran dengan anak kecil yang dibawa oleh Redes itu.

__ADS_1


"Begitu ya, syukurlah. Tapi, siapa anak kecil itu?." Wanita itu sambil menunjuk ke arah Rouzen dan Heiren.


Kemudian Redes menarik tangan wanita itu ke sudut ruangan yang lumayan jauh dari Rouzen dan Heiren, kemudian Redes menjelaskan semuanya disana.


Redes menceritakan tentang anak kecil yang dibawanya, dimulai dari nama mereka. Kemudian Redes menceritakan tentang bagaimana dia bisa membawa anak kecil itu, yang sebenarnya dia membawa anak kecil itu karena hutang budi kepada orang tuanya yang menolongnya.


Mendengar penjelasan Redes, wanita itu menjadi kasihan dengan Rouzen dan Heiren, sehingga dia pun segera menghampiri kakak beradik itu.


"Perkenalkan namaku Quener, istri dari Redes. Maafkan aku ya, jika sebelumnya aku bersikap kurang sopan." Quener menyapa Rouzen dan Heiren dengan ramah.


"Iya tidak apa-apa. Dan perkenalkan juga, aku Rouzen dan ini adikku Heiren." Rouzen sambil menunjuk Heiren yang sedang digendong olehnya.


"Oh begitu, senang berkenalan denganmu." Quener tersenyum.


"Iya, senang berkenalan denganmu juga."


Tidak lama kemudian Redes menghentikan pembicaraan mereka.


"Ehm..ehm..ehm." Redes berpura-pura batuk.


Kemudian Quener pun ingat, bahwa sebelumnya Redes berkata bahwa anak itu sedang lapar.


"Oh iya, aku lupa." Quener segera pergi ke dapur, dan memasak makanan.


Kemudian Redes mempersilahkan Rouzen untuk duduk.


"Mau sampai kapan kamu berdiri? kemarilah, dan duduklah." Redes sambil tersenyum.


"Terima kasih." Rouzen berjalan ke arah tempat duduk.


"Ngomong-ngomong, berapa usia kalian sebenarnya?." Redes bertanya.


Walaupun Redes sudah memperkirakan usia mereka, namun dia masih penasaran dengan yang sebenarnya.


"Aku berusia 10 tahun, dan adikku berusia 5 bulan."


"Oh begitu ya, baiklah aku mengerti."


Tidak lama kemudian, akhirnya Quener selesai menyiapkan makanan yang dimasaknya.


"Terima kasih." Rouzen berbicara.


Kemudian mereka pun mengambil jatah makanan mereka masing-masing.


"Maaf ya jika kamu tidak terlalu menyukainya, karena hanya bahan untuk membuat sayur yang tersedia di rumah kami, sehingga aku hanya membuat sayur saja untuk makan." Quener berbicara kepada Rouzen.


"Tidak apa-apa, aku sangat berterima kasih dengan ini." Rouzen memaklumi.


Kemudian Quener menatap Heiren.


"Eh, adikmu itu berusia berapa tahun?." Quener bertanya.


"Oh, dia baru berusia 5 bulan."


Mendengar itu Quener sedikit kasihan dengannya, karena pada usia segitu, pastinya dia masih membutuhkan ASI, hingga pada akhirnya Quener pun mencoba untuk memberikan ASI kepada Heiren.


"Redes?." Quener menatap Redes, meminta persetujuan Redes.


Redes yang mengetahui maksud dari Quener langsung menyetujuinya dengan anggukan.


Kemudian Quener menatap ke arah Rouzen dan Heiren.


"Namamu itu Rouzen kan? dan adikmu itu Heiren?." Quener bertanya.


"Betul."


"Apa kamu tahu jika adikmu itu masih membutuhkan ASI?."


Mendengar itu, Rouzen menjadi berekspresi sedikit sedih karena mengingat ibunya.


"Iya, karena sebelumnya, biasanya Heiren diberikan ASI oleh ibu, namun beberapa hari terakhir, aku hanya memberikannya teh manis saja untuk menggantikan ASI."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Rouzen, Redes dan Quener menjadi sangat kasihan kepada kakak beradik itu.


"Apakah kamu tidak keberatan jika aku yang memberikan ASI untuk adikmu?." Quener memberi tawaran..


"Apakah tidak apa-apa?."


"Iya, tidak apa-apa." Quener sambil berekspresi sedih.


Melihat ekspresi Quener yang seperti itu, Rouzen menjadi penasaran dan ingin bertanya, namun tiba-tiba Redes menjelaskannya.


"Sebenarnya kami ini baru saja menikah 2 tahun yang lalu. Tidak lama setelah pernikahan kami, Quener hamil, dan setelah 9 bulan lamanya, akhirnya Quener melahirkan seorang putra. Namun kami sepertinya masih belum ditakdirkan untuk membesarkan seorang putra, karena tidak lama setelah kelahirannya, putra kami segera meninggal dunia karena kelainan." Redes sedikit sedih.


Rouzen yang mendengar itu hanya terdiam dan menundukkan kepala.


Kemudian Redes melanjutkan.


"Mungkin kamu tidak tahu, jika seorang wanita bisa menghasilkan ASI pada saat dirinya sudah mengalami kehamilan. Oleh karena itu, Quener dapat memberikan tawaran yang seperti tadi kepadamu."


"Begitu ya, tapi apa benar tidak apa-apa?." Rouzen masih menundukkan kepala.


Kemudian Quener menjawabnya.


"Selama kamu tidak keberatan, aku juga tidak akan keberatan."


Kemudian Rouzen berdiri dan membungkuk menghormati Redes dan Quener.


"Terima kasih, kami pasti akan membalasnya suatu saat nanti." Rouzen meneteskan air mata.


Melihat sikap Rouzen, Redes dan Quener pun ikut mengeluarkan air matanya.


"Karena seperti ini, sekarang kalian boleh menganggap kami sebagai keluarga kalian, begitu juga dengan kami yang akan menganggap kalian sebagai keluarga kami." Redes sambil mengeluarkan air mata.


"Terima kasih." Rouzen berterima kasih.


Setelah itu, Quener menggendong Heiren dan membawanya ke kamar untuk diberikan ASI. Sedangkan untuk Rouzen, dia melanjutkan makan, bersama dengan Redes.


Selesai makan, Redes ingin memberikan harta peninggalan Jiose dan Dessy kepada Rouzen.


"Rouzen, sebenarnya aku mendapatkan kantong penyimpanan yang ditinggalkan orang tuamu, namun aku tidak memberitahukannya kepada Derent. Apakah kamu ingin menyimpannya?." Redes bertanya sambil mengeluarkan 2 kantong penyimpanan.


"Memang apa saja yang ada didalamnya?."


"Aku belum mengeceknya, karena ini bukan hak ku untuk mengeceknya. Apakah kamu mengizinkan, jika aku membantu mengeceknya?."


"Iya, tentu saja."


Kemudian Redes mengecek 2 kantong penyimpanan itu, hingga diketahui bahwa didalamnya ada 2000 keping emas, beberapa senjata, obat dan yang lainnya.


"Di dalam ini ada 2000 keping emas, beberapa senjata, obat-obatan, dan yang lainnya." Redes memberitahukan Rouzen.


Mendengar itu, Rouzen berpikir sejenak. Kemudian.


"Kalau begitu, paman saja yang menjaganya, karena aku masih belum bisa mengelolanya. Apakah boleh?."


Mendengar itu, Redes sedikit terkejut.


"Eh, kenapa?."


"Iya, aku masih kecil sekarang, jadi aku masih belum bisa mengelolanya dengan baik. Apalagi untuk senjata dan obat-obatan, aku masih belum punya kemampuan. Jadi aku meminta tolong kepada paman untuk menjaganya, dan jika sudah waktunya, aku akan meminta senjata atau obat-obatan yang sekiranya aku butuhkan."


"Begitu ya. Terus bagaimana dengan 2000 keping emas?."


"Oh itu, kamu pakai saja untuk kehidupan sehari-hari seperti persediaan makanan, khususnya untuk biaya aku dan Heiren."


"Eh, tapi ini kebanyakan loh."


2000 keping emas adalah harta yang cukup banyak, karena untuk misi yang dijalankan oleh tingkatan bendra saja, hanya bisa menghasilkan 100 keping emas paling banyak.


"Iya tidak apa-apa, jika aku membutuhkannya, aku akan mengambilnya kok. Tapi untuk sekarang, aku masih belum terlalu membutuhkan banyak sih, jadi paman dulu saja yang menyimpannya. Dan juga, anggap saja sebagai biaya tempat tinggalku saat ini yang tinggal bersama mu."


"Baiklah, aku mengerti."

__ADS_1


Meski Rouzen berkata seperti itu, namun Redes juga sebenarnya akan melakukan hal yang sama seperti sekarang kepada Rouzen, karena Redes sendiri pun masih memiliki hutang budi kepada orang tuanya Rouzen dan Heiren.


Namun karena Rouzen sudah berkata seperti itu, Redes akan berusaha untuk membantu menjaga harta dari kakak beradik itu.


__ADS_2