Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
9. Murid Tingkatan Bubuka VS Jandra


__ADS_3

Di hari-hari berikutnya, Rouzen fokus mempelajari buku yang diberikan oleh Zhuge, saat dirinya ada waktu luang. Selain itu, Rouzen juga terus berusaha untuk menjadi teman dari Hervy dan juga membantunya belajar. Namun reaksi yang diberikan oleh Hervy, dia merasa terganggu dengan kelakuan Rouzen.


"Kenapa sih kamu ini terus menerus mendekati aku?." Hervy kesal.


"Aku cuman ingin menjadi temanmu dan membantumu belajar." 


Namun Hervy masih beranggapan bahwa Rouzen diperintahkan oleh Zhuge.


"Halah, palingan kamu cuman dipaksa oleh guru. Sudahlah jangan memaksa kan diri." 


"Aku sungguh tidak dipaksa oleh siapapun kok." Rouzen bersikeras.


Mendengar itu, tekad Hervy untuk tidak menjadi teman Rouzen menjadi goyah. Tapi jawaban yang diberikannya setelah mendengar perkataan Rouzen masih tetap bersikeras seperti sebelumnya.


"Hmph, alasan saja. Aku sudah sering mengalami yang seperti ini. Jadi sudahlah lupakan saja niatmu itu." Hervy sambil berjalan meninggalkan Rouzen.


Karena hal itu, Rouzen hanya bisa diam dan tidak bisa memaksanya lebih jauh lagi.


Meski begitu, Rouzen masih tetap berusaha untuk menjadi teman Hervy. Alasan dia berbuat seperti itu, karena dia juga merasakan apa yang terjadi kepada Hervy, yaitu kesepian dan kurangnya sosok pendukung untuk hidupnya. Apalagi Hervy juga sama seperti dirinya yang seorang anak yatim-piatu.


Hari-hari berikutnya, Rouzen masih melakukan hal seperti sebelumnya, yaitu mempelajari buku dan mencoba menjadi teman Hervy. Namun Hervy masih seperti biasa, dia bersikeras menolak tawaran Rouzen.


Hingga suatu ketika saat Hervy diganggu oleh salah satu murid di kelasnya, dia menjadi marah dan bertengkar dengan murid itu. Hingga akhirnya murid itu kalah dari Hervy.


Namun ternyata, murid yang dikalahkan oleh Hervy itu memiliki seorang kakak yang berada di tingkatan Jandra, sehingga pada saat dirinya dikalahkan oleh Hervy, dia mengadu kepada kakaknya.


Dan benar saja, pada saat pulang sekolah Hervy dicegat oleh kakak dari murid yang dikalahkannya itu.


"Apakah kamu yang memukuli adikku?." Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun berbicara kepada Hervy. Dan anak laki-laki itu adalah kakak dari murid yang dikalahkan oleh Hervy.


"Betul itu aku. Tapi dia sendiri yang mulai." Hervy sedikit ketakutan.


"Hah?."


"Itu bohong kakak, dia kan memang murid nakal, jadi dia mencoba untuk menipumu." Murid yang dikalahkan oleh Hervy mengeluarkan alibinya.


Mendengar itu, Hervy tidak terima.


"Apa kamu bilang?." Hervy sedikit marah.


Kemudian kakak dari murid yang dikalahkan oleh Hervy itu melanjutkan perkataannya.


"Kamu sudah dengarkan apa yang dikatakan adikku?."


"Dia menipumu, sebenarnya dialah yang mulai duluan." Hervy masih tidak terima.


"Aku tidak peduli, karena kamu sudah melukai adikku, jadi aku juga akan melukaimu."


"Tidak, kamu tidak boleh melakukan itu kepadaku." Hervy ketakutan.


Pada saat kakak dari murid yang dikalahkan oleh Hervy hendak memukul Hervy, tiba-tiba tangan dia terkena lemparan batu kecil.


"Aw… siapa itu?." Kakak dari murid yang dikalahkan oleh Hervy sambil memegangi tangannya karena kesakitan.


Kemudian datanglah seorang anak laki-laki yang lain, dan dia berusia 10 tahun, sama seperti Hervy.


Dan anak laki-laki itu adalah Rouzen.


"Itu aku. Dan apa yang dikatakan oleh temanku ini benar, adikmu lah yang memulainya." Rouzen sambil merangkul pundak Hervy.


Hervy yang melihat itu sedikit terkejut.


"Murid baru?." 


"Yo." Rouzen sambil tersenyum.


Kemudian kakak murid yang dikalahkan Hervy berkata lagi.

__ADS_1


"Siapa kamu?." Sambil menatap ke arah Rouzen.


Namun yang menjawab itu adalah adiknya sendiri.


"Dia adalah murid baru di kelas Bubuka. Dan dia juga adalah orang luar yang baru masuk ke Desa Meiyan."


"Begitu ya. Jadi kamu murid baru dan juga orang luar?." Kakak murid yang dikalahkan Hervy sambil menatap Rouzen.


"Memangnya kenapa?." Rouzen menjawab.


"Pantas saja. Apakah kamu tidak tahu aku ini siapa?."


"Tidak, aku tidak tahu kamu siapa."


"Aku adalah Jier Bufan. Murid dari kelas Jandra. Dan aku juga kakak dari Jier Lowis. Jadi jika kalian mengganggu adikku, aku akan membantunya." Bufan berbicara dengan sombong.


"Hehehe… kalian dengarkan?." Lowis tersenyum puas.


Namun ekspresi itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu Lowis dan Bufan menjadi kesal. 


Alasannya, pada saat Bufan menjelaskan, Rouzen malah asik mengobrol santai dengan Hervy.


"Apa kamu tidak apa-apa?." Rouzen bertanya dengan santai.


"Ah iya, aku tidak apa-apa." Hervy dengan ekspresi bingung dan sedikit ketakutan.


"Begitu ya, Syukurlah."


Melihat itu, Bufan menjadi kesal.


"Hei bocah, apa kalian mendengarkanku?."


Kemudian Rouzen menatap ke arah Bufan dan berbicara.


"Tenang saja, aku mendengarkanmu kok, walaupun hanya mendengarkan namamu saja sih. Namamu Bufan kan?." Rouzen berbicara dengan santai.


Sedangkan Hervy, dia sangat panik dengan apa yang dilakukan oleh Rouzen.


"Memangnya kenapa?." Rouzen menjawab.


Namun, karena Bufan saat ini sudah sangat kesal dengan Rouzen, akhirnya dia pun menyerang Rouzen.


"Kamu sendiri yang membuatku seperti ini ya." Bufan berlari ke arah Rouzen dengan posisi siap memukul.


Pada saat Bufan meluncurkan pukulan.


"Rouzen, awas." Hervy khawatir.


Namun ternyata Rouzen bisa menghindarinya.


Setelah itu Rouzen berbicara lagi kepada Hervy.


"Eh apa kamu sudah bersedia menjadi temanku? Karena kan biasanya kamu memanggilku dengan sebutan murid baru." Rouzen berbicara sambil tersenyum kepada Hervy dan seperti tidak takut apapun.


"Membahas itunya nanti saja, kamu fokus saja dengan apa yang terjadi kepadamu." Hervy masih khawatir.


"Oh begitu, baiklah."


Melihat kelakuan Rouzen, Hervy pun bergumam.


"Gila… apa dia memang seperti itu? Bagaimana bisa seorang murid kelas Bubuka bersikap santai saat bertarung melawan murid tingkatan Jandra?."


Karena serangannya berhasil dihindari, Bufan memuji Rouzen.


"Hehehe… kemampuan Talismu lumayan juga ya, kalau begitu coba ini."


Talis adalah kemampuan beladiri yang tidak mengandalkan Tiser, sehingga semua orang, bahkan yang bukan Aryan pun bisa mempelajari dan menguasainya. Selama orang itu belajar teknik Talis ini dengan serius.

__ADS_1


Kemudian Bufan mengeluarkan jurus angin yang dikuasainya. Dia memfokuskan diri untuk mengendalikan Tiser di tangannya, hingga beberapa saat kemudian, munculah sesuatu yang berbentuk seperti pisau melengkung berwarna putih di tangannya. Setelah itu, Bufan melemparkan benda itu ke arah Rouzen.


"Sayatan tak terlihat." Bufan mengeluarkan jurusnya.


Karena itu, Sayatan kecil pun mengarah ke arah Rouzen dengan cepat. Walaupun Rouzen bisa menghindari serangan itu, namun Rouzen sedikit terlambat untuk menghindarinya, karena sayatan itu sangat cepat, hingga akhirnya dia pun terluka di pipinya.


"Aw…." Rouzen sedikit kesakitan.


Melihat itu, Hervy segera menghampiri Rouzen.


"Kamu tidak apa-apa?." Hervy khawatir.


"Santai saja, ini bukan apa-apa." Rouzen sambil mengelap pipinya yang berdarah.


Kemudian giliran Bufan yang berbicara.


"Bagaimana, apakah kamu sudah mengerti sekarang? Ingat ya, kamu ini hanyalah bocah di kelas Bubuka, sedangkan aku sudah berada di kelas Jandra, jadi seharusnya kamu sadar dari awal sehingga tidak terluka seperti itu. Eh, tapi walaupun kamu tidak bersikap seperti tadi, aku masih akan tetap berbuat seperti ini sih, karena kamu sudah membantu dia ( Hervy ) dalam melukai adikku." Bufan berbicara dengan puas.


Namun Rouzen hanya tertawa kecil.


"Hehehe…" 


Mendengar itu, Bufan bingung.


"Ada apa denganmu? Sudahlah karena ini kejadian pertama kalinya, jadi aku akan mengampuni kalian, selama kalian bisa menjadi bawahan dari adikku ini selama satu minggu." Bufan sambil menunjuk Lowis.


"Itu benar. Tapi tenang saja, aku tidak akan bersikap terlalu semena-mena kok." Lowis berbicara dengan sombong.


Mendengar itu, Hervy menjadi sedikit ketakutan. Namun untuk Rouzen, dia langsung tertawa.


"Hahaha… menjadi bawahan adikmu? Hahaha... lucu sekali."


Merasa diremehkan, Bufan pun tidak terima.


"Hei, apakah kamu sadar dengan ucapanmu itu?."


"Tentu saja aku sadar. Dan…"


"Dan?."


Kemudian Rouzen berlari dengan cepat ke arah Bufan dan memukulnya.


"Dan aku juga tidak pernah berkata bahwa aku menyerah, jadi aku akan melawanmu lagi." Rouzen sambil memukul wajah Bufan.


Pada serangan pertama, Rouzen berhasil memukul Bufan di bagian wajahnya. Namun untuk serangan selanjutnya, Bufan bisa menangkisnya, sehingga mereka pun bertarung dengan sengit. Jual beli serangan terus dilakukan oleh mereka berdua. Hingga akhirnya Rouzen yang lebih mendominasi dalam pertarungan itu, dikarenakan pertarungan mereka hanya menggunakan kemampuan Talis.


"Sudah kuduga ini akan berhasil." Gumam Rouzen.


Sebenarnya, Rouzen sengaja bertarung jarak dekat dengan Bufan, karena Rouzen sudah mengira bahwa Bufan baru bisa mengendalikan Tisernya dan juga hanya bisa mengeluarkan jurus jarak jauh.


Rouzen bisa mengetahui itu dikarenakan buku yang diberikan Zhuge kepadanya. Di Buku itu dijelaskan bahwa untuk bisa mengendalikan Tiser dalam keadaan yang sedang tertekan, diperlukan lagi latihan khusus. Sedangkan untuk Bufan, Rouzen melihat bahwa Bufan benar-benar baru bisa mengendalikan Tisernya, karena berdasarkan dengan jurus yang dikeluarkan sebelumnya, Rouzen bisa menyimpulkan bahwa jurus itu masih belum sempurna, sehingga dia pun akhirnya bisa mendapatkan rencana ini.


"Sial, kamu cukup hebat juga ya." Bufan kewalahan.


"Hehe." Rouzen tertawa kecil.


"Kalau begitu coba kamu tahan jurusku yang ini."


Bufan mengendalikan lagi Tisernya di tangannya, hingga muncullah angin seperti ****** beliung yang awalnya kecil namun lama kelamaan menjadi membesar.


Melihat itu Rouzen sedikit ketakutan, karena ternyata Bufan masih memiliki jurus yang cukup kuat. Hal serupa terjadi kepada Hervy ( sama-sama ketakutan ).


Namun pada saat itu juga, Zhuge yang kebetulan lewat melihat kejadian itu.


"Celaka! Hei Bufan, hentikan itu." Zhuge panik dan berlari ke arah pertarungan antara Bufan melawan Rouzen.


Namun Zhuge terlambat untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Angin kekacauan." Bufan mengeluarkan jurusnya.


Kemudian angin seperti ****** beliung yang besarnya 3 kali lipat dari tubuh Rouzen itu mengarah kepada Rouzen.


__ADS_2