
Melihat sihir yang dikeluarkan oleh Rouzen berhasil dihentikan, Karty menjadi lega.
“Hah…hah… Hampir saja.” Karty sudah berkeringat karena ketakutan.
Setelah itu, Rouzen bangun dan berbicara kepada Karty.
“Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Dan jika kalian berani mengatakan tentang orang tuaku seperti tadi lagi, aku akan langsung membuat kalian menyesal.” Rouzen berbicara dengan serius.
Mendengar itu, Karty dan 2 rekannya langsung pergi.
Kemudian Rouzen menatap ke arah murid wanita itu.
“Kenapa kamu menghentikanku?.”
“Sebenarnya aku kesini lagi untuk mengambil barangku yang ketinggalan. Namun pada saat sampai sini, aku melihat kamu bertarung dengan 3 orang itu. Awalnya aku hanya melihat saja dan tidak ada niatan untuk menghentikanmu. Tapi pada saat kamu mengeluarkan sihir, aku langsung menghentikanmu, karena aku takut jika kamu sampai dikeluarkan dari akademi.”
“Kenapa juga kamu harus peduli?.”
“Memangnya harus ada alasanya? jika seseorang ingin peduli?.”
Mendengar itu, Rouzen hanya terdiam karena ucapan murid wanita itu benar.
“...”
Kemudian murid wanita itu melanjutkan.
“Kamu ini adalah murid yang jenius dan berbakat, jadi sayang kalau sampai dikeluarkan hanya karena termakan emosimu. Coba kamu pikir dengan tenang, apakah setelah kamu melakukan hal seperti tadi kamu akan merasa tenang? Mungkin untuk sementara kamu akan tenang, tapi kedepannya mungkin kamu akan menyesal. Dan pikirkan juga tentang orang yang mendukungmu sampai bisa seperti ini.”
Rouzen pun sadar karena perkataan murid wanita itu.
“Kamu benar. Maaf jika sikapku sebelumnya membuatmu tersinggung.”
“Tidak masalah.”
Setelah itu Rouzen bertanya tentang siapa nama murid wanita itu.
“Ngomong-ngomong, aku belum tahu siapa namamu loh, walaupun kita satu kelas. Apakah kamu tidak keberatan jika memperkenalkan diri?.”
“Oh iya. Perkenalkan namaku Layla. Murid Adeg yang sudah berada di kelas ini satu tahun. Dan juga murid akademi sementara.”
Layla adalah murid wanita yang sekarang satu kelas dengan Rouzen. Layla memiliki penampilan yang cantik dengan rambut warna hitam pendek sebahu. Di kelas, Layla bersikap pendiam dan dingin, sehingga tidak banyak orang yang dekat dengannya. Bahkan Rouzen juga bisa dibilang satu-satunya orang yang sekarang dekat dengannya. Rouzen pun sebenarnya tidak menyangka bahwa Layla ternyata orangnya asik juga, tidak terlalu dingin.
Mendengar itu, Rouzen kebingungan karena tidak tahu apa maksudnya murid akademi sementara.
“Murid akademi sementara?.”
“Iya, aku masuk akademi ini hanya sementara. Dan kebetulan minggu depan adalah hari terakhirku di sini.”
“Eh, kenapa?.”
“Sebenarnya, aku masuk ke akademi ini adalah karena suatu alasan, namun maaf aku tidak bisa memberitahukan alasannya.”
“Tidak masalah, aku menghargai itu kok. Tapi memangnya kamu ini berasal dari mana sih?.”
__ADS_1
“Maaf aku juga tidak bisa memberitahukan tentang itu. Mungkin jika ditakdirkan, kamu akan mengetahui asalku kok.”
“Hah… kamu ini banyak rahasianya.” Rouzen menghela nafas.
“Hehe… maaf.”
“Kalau begitu aku akan bertanya yang lain deh. Kapan kamu mulai ke desa ini?.”
“2 tahun yang lalu, pada saat aku berusia 11 tahun.”
“Begitu ya. Berarti kamu ini 2 tahun lebih tua dariku ya.”
“Iya, jadi seharusnya kamu memanggilku kakak loh.”
“Oh begitukah?.” Rouzen memandang wajah dari Layla sambil memegang dagu.
“Hmm?.” Layla sedikit bingung.
“Baiklah kakak Layla.” Rouzen menempatkan wajahnya di depan wajah Layla dengan dekat.
Karena itu, Layla menjadi tersipu malu dan pipinya memerah.
“Plak…” Layla menampar Rouzen.
“W-wajahmu terlalu dekat.” Layla dengan pipi yang masih merah.
“Aku mengerti. Tapi apakah perlu sampai menampar? aku kan hanya bercanda kakak Layla.” Sebuah bekas telapak tangan muncul di pipi Rouzen.
“Kamu ini ya…” Layla menjadi kesal dan hendak mengangkat tangannya lagi karena ucapan Rouzen.
“Jangan panggil aku kakak.”
“Eh bukannya kamu yang meminta?.” Rouzen heran.
“Kalau aku bilang jangan ya jangan.”
“Eh… Baiklah.”
“Ada apa dengan wanita ini?.” Gumam Rouzen.
Kemudian Layla berbicara kembali.
“Aku tidak menyangka bahwa kamu ini orang yang seperti ini. Aku kira kamu ini orang yang pendiam dan cool, eh ternyata.”
“Ternyata apa?.”
“Hmph… Pikir saja sendiri.”
Setelah itu mereka mengobrol bersama. Bahkan mereka pun menceritakan tentang bagaimana mereka berdua pertama kali masuk ke desa Meiyan dan belajar di akademi.
“Bagaimana awalnya kamu bisa ke desa Meiyan?.” Layla bertanya.
Rouzen pun menceritakannya.
__ADS_1
“Aku sebenarnya ke desa Meiyan karena suatu insiden. Pada waktu itu, aku ditinggalkan orang tuaku untuk menjalankan misi. Namun naasnya orang tuaku gugur dalam misi itu. Dan ternyata pada misi itulah yang membuat aku bisa kenal dengan Guru Redes. Karena pada saat orang tuaku menjalankan misi, guru Redes pun sama, dia menjalankan misi. Bahkan menurut cerita yang aku dengar, guru Redes dan rekannya diselamatkan oleh orang tuaku. Namun pada saat guru Redes dan orang tuaku bertemu kembali, mereka bertemu dengan kondisi yang tidak diinginkan. Guru Redes bertemu dengan orang tuaku lagi dengan keadaan orang tuaku yang sudah hampir gugur. Dan pada saat itulah orang tuaku meminta tolong kepada guru Redes untuk membawaku ke desa Meiyan.”
“Begitu ya, aku turut prihatin. Tapi aku dengar-dengar kamu ini punya adik ya?.”
“Iya, aku punya adik yang berusia 2 tahun kurang. Dia bernama Heiren”
“Oh masih kecil ya. Tapi bagaimana kamu merawatnya? cukup sulit kan jika merawat anak kecil yang masih berusia dibawah 2 tahun?.”
“Aku sekarang tinggal bersama dengan guru Redes dan istrinya, jadi aku dibantu oleh mereka.”
“Begitu ya.”
Kemudian giliran Rouzen yang bertanya.
“Kalau kamu, bagaimana awalnya bisa ke desa Meiyan?.”
“Tidak ada yang spesial sih. Aku hanya diperintahkan oleh orang tuaku untuk belajar di desa Meiyan untuk sementara.”
“Begitu ya. Sebenarnya aku sangat penasaran dan memiliki pertanyaan, namun karena kamu merahasiakannya, aku jadi menghargai keputusanmu itu.”
“Maaf ya, aku sungguh tidak bisa menceritakan lebih jauh lagi.”
“Iya tidak apa-apa. Tapi apakah jika suatu saat kita bertemu lagi dan tentunya dalam kondisi yang berbeda, apakah kamu bisa menceritakan kisahmu itu?.”
“Mungkin.”
Mendengar jawaban itu, Rouzen menghela nafas.
“Hah… baiklah.”
Setelah itu mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Beberapa hari kemudian, Karty dan rekannya sudah tidak berani lagi mengganggu Rouzen. Rouzen dan Layla juga sekarang sering bermain bersama sepulang dari akademi. Bahkan Rouzen pun mengajak Layla bergabung dengannya untuk belajar bersama dengan teman yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang biasanya menjadi orang yang bisa dibilang mentor dari tim belajar bersama itu asalnya Rouzen, sekarang mentornya ada tambahan, yaitu Layla. Karena bagaimanapun Layla adalah murid kelas Adeg yang sudah berada di kelas itu sebelum Rouzen. Jadi Layla tentunya memiliki pengetahuan yang lebih bagus dari Rouzen.
Hingga hari dimana Layla meninggalkan desa pun tiba. Pada hari itu, Layla berpamitan dengan semua guru, murid dan teman yang sering ikut belajar bersama dengan Rouzen. Dan bahkan untuk Rouzen sendiri, Layla memberikan sesuatu kepada Rouzen.
Di gerbang tempat keluar masuknya orang di Desa Meiyan.
“Ini.” Layla memberikan sebuah gelang kepada Rouzen.
“Eh, untukku?.” Rouzen sedikit bingung.
“Iya.” Layla tersenyum.
“Terimakasih kalau begitu. Maaf aku tidak bisa memberimu apa-apa.” Rouzen merasa sedikit malu.
“Tidak masalah. Kalau begitu aku izin pamit dulu ya, jaga dirimu baik-baik.”
“Iya, kamu juga hati-hati.”
Setelah itu Layla pergi ke arah 2 orang yang menjemputnya dan meninggalkan Rouzen. Namun pada saat jarak mereka cukup jauh, Layla berteriak kepada Rouzen.
“Jangan lupa untuk pakai gelang pemberianku. Dan jangan lupakan aku ya.” Layla berteriak.
__ADS_1
“Tentu.” Rouzen membalas teriakan Layla.
Setelah itu Rouzen pun memakai gelangnya. Namun karena cukup longgar di pergelangan tangannya, Rouzen akhirnya memakai gelangnya di tangan bagian atas sikunya.