Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
18. Kemampuan 8 teman Rouzen.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Rouzen masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Dia belajar di kelas Adeg, dan belajar bersama dengan teman-temannya di lapangan dekat sungai.


Hingga sudah satu tahun berlalu, akhirnya Rouzen naik ke kelas Gama. Dan yang menarik, seiring berjalannya waktu, Rouzen semakin dekat dengan Yessie. Rouzen sering berangkat bersama dengan Yessie ke lapangan dekat sungai. Bahkan makin kesini Rouzen seperti punya perasaan terhadap Yessie.


Pada saat Rouzen dan Yessie berjalan bersama menuju lapangan dekat sungai.


“Bagaimana perkembangan kemampuanmu?.” Rouzen bertanya dengan ramah kepada Yessie.


“Bagus, aku sangat terbantu dengan adanya belajar bersama ini.” Yessie menjawab.


“Begitu ya. Syukurlah.”


“Terus, bagaimana denganmu?.” Yessie bertanya balik.


“Ya sama sepertimu sih. Dan juga aku senang karena aku bisa mendapatkan banyak teman karena latihan bersama ini.”


“Begitu ya.”


“Iya.”


Kemudian Yessie bertanya lagi.


“Terus apa yang sudah kamu dapatkan di kelas Gama?.”


Pada saat ini Yessi dan teman-teman Rouzen yang satu kelas dengannya di kelas Bubuka, mereka sudah naik ke kelas Adeg. Namun Rouzen, dia sudah berada di kelas Gama.


“Sebenarnya aku masih awal sih di kelas Gama. Namun belajar di tingkatan Gama tidak jauh berbeda dengan kelas Adeg dan sebelumnya, hanya saja di kelas Gama kita lebih ke memfokuskan untuk menstabilkan dan menyempurnakan pengendalian Tiser. Dan untuk yang aku dapatkan di kelas Gama adalah Sebuah Jurus ( Sihir ) dan Teknik Talis. Karena kamu tahukan kalau di kelas sebelum kelas Gama, kita hanya bisa mengeluarkan jurus yang bisa dibilang masih tidak sempurna dan otodidak?.”


“Iya. Terus?.”


“Di kelas Gama, masing-masing murid akan diprioritaskan untuk menstabilkan Tiser dan memfokuskan satu jurus yang sudah diberikan oleh akademi kepada masing-masing murid, atau bisa juga sih memprioritaskan jurus kita yang belum sempurna itu. Dan masing-masing murid itu biasanya tidak sama jurus yang diberikannya, karena akademi akan memberikan jurus, sesuai dengan elemen unggulan yang sering dikeluarkan murid. Sebagai contoh aku. Aku bisa mengendalikan Tiser dan mengeluarkan elemen api, sehingga aku berikan satu jurus yang menggunakan elemen api.”


“Begitu ya. Tapi apakah tidak bisa, jika kita mempelajari elemen lain?.”


“Aku pernah mendengar dari guru Marin, bahwa kita semua sebenarnya bisa mengeluarkan berbagai elemen, namun kita biasanya hanya memiliki satu elemen unggulan. Dan walaupun kita mencoba elemen yang bukan unggulan kita, itu akan sangat sulit dan juga akan membuat Tiser kita terkuras dengan cepat. Atau kemungkinan terburuknya, jika kita memaksakan dan tidak memiliki kemampuan, mencoba elemen lain itu akan membuat Tiser kita bermasalah.”


“Begitu ya, aku mengerti. Terima Kasih sudah memberikanku informasi itu.”


“Tidak masalah, lagian aku juga hendak memberitahukan kepada teman-teman yang lainnya kok pada saat belajar bersama.”


“Begitu ya.”


Setelah beberapa saat mereka berdua berjalan, akhirnya mereka berdua sudah sampai di lapangan dekat sungai atau tempat dimana mereka sering belajar dan berlatih bersama.


Kemudian mereka pun belajar dan berlatih bersama seperti biasanya. Namun pada saat belajar bersama, Hervy merasa bahwa Rouzen terus memperhatikan Yessie.


“Hei Rouzen, kenapa kamu terus memperhatikan Yessie?.” Hervy bertanya dengan serius.


Rouzen yang mendengar ucapan dari Hervy menjadi malu.


“A-apa yang kamu bicarakan?.” Rouzen gugup.


Bahkan karena ucapan Hervy itu, semua teman-teman yang lain yang sedang fokus belajar menjadi menatap ke arah Rouzen.


Merasa malu karena dia ketahuan diam-diam memperhatikan Yessie, Rouzen pun segera mengalihkan hal itu.


“Ah itu… Ayo fokus belajar dan berlatih lagi, kita semua akan berusaha untuk menjadi Aryan yang hebat.” Rouzen mencoba mengalihkan kejadian tentang dia memperhatikan Yessie dengan memberi semangat kepada teman-teman yang lainnya.


Dan ternyata ucapan semangat dari Rouzen itu berhasil membuat teman-teman yang lainnya kembali fokus belajar dan berlatih.


Dalam belajar bersama itu, mereka banyak mendapatkan keseruan seperti tertawa bersama, bercanda bersama, dan tidak lupa saling mengeluarkan kemampuan satu persatu untuk menunjukkannya kepada teman-teman yang lainnya.


Pada saat ini, ada total 8 orang termasuk Rouzen yang sering belajar bersama di lapangan dekat sungai. Mereka adalah Hervy, Lowis, Yessie, Jazi, Lisa, Seiki, Rouzen dan yang paling tua diantara mereka semua, Bufan. Orang-orang yang sering belajar bersama pada saat Rouzen masih di kelas Bubuka, mereka perlahan mulai berkurang karena beberapa alasan. Hingga akhirnya tersisa 8 oranglah yang masih setia belajar bersama. Dan untuk Bufan, dia baru bergabung pada saat Rouzen naik ke kelas Adeg. Dan sekarang, Bufan dan Rouzen sudah sama-sama di kelas Gama, jadi bisa dibilang Bufan dan Rouzen lah yang banyak memberikan ilmu dan materi kepada teman-teman yang lain.


Pada saat belajar bersama, semua orang menunjukkan jurusnya masing-masing.


Dimulai dari Hervy.

__ADS_1


“Kalian lihat yah.”


Hervy mulai mengendalikan Tisernya, hingga beberapa saat muncullah asap tebal yang panas di tangannya. Kemudian Hervy melemparkan asap itu kebawah sehingga karena itu badan Hervy tertutup oleh asap tebal itu. Karena asap tebal itu pada saat dilempar ke bawah, bentuknya membesar.


Karena jurus Hervy, teman-teman yang lain pun bertepuk tangan.


Namun tidak lama setelah itu.


“Uwahhh… panas-panas.” Hervy berteriak karena terkena jurusnya sendiri.


Melihat tingkah Hervy, teman-teman yang lain hanya menghela nafas.


Namun tiba-tiba turunlah tetesan air dari atas yang mengenai Hervy. Dan setelah itu muncul lagi angin yang mengibaskan asap tebal di dekat Hervy, yang membuat asap itu hilang.


“Eh?.” Hervy heran.


“Rintik Air.” Lisa tersenyum.


“Ombak hembusan.” Lowis.


Ternyata air dan angin yang membantu Hervy itu adalah jurus milik Lisa dan Lowis. Lisa adalah murid wanita yang sekelas dengan Rouzen saat di kelas Bubuka. Lisa memiliki elemen unggulan air, sehingga dia bisa mengeluarkan jurus rintik air yang dimana Lisa bisa mengeluarkan air, seperti air hujan yang turun dari langit namun lebih kecil jangkauannya.


Untuk Lowis, dia mengeluarkan jurus yang sama seperti pada saat melawan serigala di hutan. Namun sekarang Lowis sudah bisa memvariasikan jurusnya itu. Awalnya jurus ombak hembusan adalah jurus angin yang mengarah ke atas atau Vertikal, namun sekarang dia bisa menjadikan angin itu menjadi horizontal.


“Mantap.” Rouzen memuji mereka.


Setelah itu giliran Jazi yang mengeluarkan jurus.


Jazi memegang ranting kayu kemudian mengendalikan Tisernya, hingga beberapa saat kemudian muncullah petir kecil dari ranting kayu itu.


“Hehe… aku cuman bisa mengeluarkan petir ini saja. Dan aku juga masih tidak berani untuk memakai tangan secara langsung untuk mengeluarkan petirnya, karena waktu itu aku pernah terluka karena petir ini” Jazi tersenyum.


Karena jurus Jazi itu, sebenarnya teman-teman yang lain kagum.


“Hebat! jika kamu sudah mahir mengendalikannya, petir itu akan sangat mematikan loh.” Rouzen kagum dengan jurus Jazi.


Namun Lowis masih penasaran, sehingga dia pun bertanya kepada Jazi.


“Aku waktu tes hanya mengeluarkan asap aja sih.” Jazi menjawab.


“Eh, ternyata bisa seperti itu ya?.” Lowis sedikit tidak percaya.


Kemudian Rouzen pun menjelaskan tentang yang dia ketahui dari Marin, yaitu bahwa setiap orang bisa saja memiliki berbagai elemen, namun biasanya setiap orang hanya akan cocok untuk  mengendalikan satu elemen unggulan saja.


“Bisa. Karena kita semua sebenarnya bisa saja memiliki macam-macam elemen, namun biasanya hanya satu elemen saja yang cocok atau bisa dikendalikan, sehingga jika memaksakan mencoba untuk mengendalikan elemen selain elemen unggulan, akan ada resiko yang lebih.”


“Oh begitu. Tapi bagaimana dengan kasus Jazi?.”


“Kemungkinan pada saat Jazi mengeluarkan sihir pada tes kenaikan kelas, dia tidak cukup bagus dalam mengendalikan Tisernya, sehingga hanya asap saja yang muncul. Namun pada saat Jazi sudah lebih baik dalam mengendalikan Tisernya, dia menjadi bisa mengeluarkan elemen unggulannya.”


Mendengar penjelasan Rouzen, semua orang yang ada disana menjadi mengerti.


Setelah itu giliran Seiki yang mengeluarkan jurusnya.


Seiki menempelkan kedua telapak tangannya di tanah, kemudian mengendalikan tisernya. Beberapa saat kemudian, muncullah tanah yang hampir seperti batu seukuran tubuh anak kecil di depan Jazi.


“Pijakan eksternal.” Seiki mengeluarkan jurusnya.


Karena itu, semua orang yang ada di lapangan bertepuk tangan.


Setelah itu giliran Yessie yang mengeluarkan jurusnya.


Yessi menutup matanya dan mengendalikan Tisernya. Beberapa saat kemudian, muncullah asap berwarna hijau yang harum mengelilingi tubuh Yessie. Setelah itu muncullah daun-daun yang berguguran dari asap itu.


“Ketenangan musim gugur.” Yessie sambil membuka matanya perlahan.


Saat sudah membuka matanya.

__ADS_1


“Eh..Kyahh….” Yessie terkejut karena Hervy sedang berbaring di dekat kakinya.


Melihat itu, Yessie langsung reflek menendang kepala Hervy sampai benjol. Karena Yessie menganggap bahwa Hervy mesum.


“Aduh… hei Yessie, kamu ini kenapa?.” Hervy sambil memegang kepalanya yang benjol.


“Aku yang seharusnya bertanya. Kenapa kamu berbaring di dekat kakiku mesum?.” Yessie masih kesal.


Disebut mesum, Hervy tidak terima.


“Apa kamu bilang? aku bukan orang mesum.”


“Terus apa?.”


“Aku hanya ingin mencium harum dari asap yang keluar dari jurusmu saja.”


“Hmph… alasan.”


Melihat kedua orang itu, Rouzen dan teman-teman yang lainnya hanya bisa menghela nafas dan tersenyum puas.


Setelah itu giliran Bufan yang mengeluarkan jurusnya.


“Sebelum aku mengeluarkan jurusnya, ayo kita ke pinggir sungai dulu.” Bufan sambil berjalan menuju pinggir sungai.


Karena itu, teman-teman yang lain menjadi bingung. Namun mereka pun akhirnya mengikuti Bufan.


Sesampainya di pinggir sungai, Lowis bertanya kepada Bufan.


“Kakak, apa yang kamu ingin lakukan di sini?.” Lowis penasaran.


“Kamu lihat saja.” Bufan menjawab sambil mencoba mengendalikan tiser di tangannya.


Beberapa saat kemudian muncullah angin kecil yang berputar di telapak tangan Bufan. Setelah itu, Bufan langsung melemparkan angin kecil berputar itu ke sungai, dan pada saat angin itu sudah berada di sungai, angin itu membesar, yang membuat angin itu seperti angin beliung di tengah sungai. Bahkan karena angin itu, timbullah percikan air seperti air hujan yang keluar dari angin itu.


“Angin kekacauan.” Bufan mengeluarkan jurusnya.


Melihat itu, semua orang yang ada disana menjadi sangat kagum.


Setelah itu giliran Rouzen yang mengeluarkan jurusnya.


Rouzen mengendalikan tisernya. Beberapa saat kemudian, muncullah api yang membungkus tangannya.


“Kira-kira apa namanya ya? mungkin tangan api.” Rouzen berbicara dengan santai.


Namun teman-teman yang lainnya sangat terkejut, karena Rouzen membungkus tangannya dengan jurus api, tapi dia tidak terluka atau kepanasan.


“Hei Rouzen, apa itu tidak panas?.” Hervy penasaran.


“Tidak.” Rouzen menjawab.


“Kenapa bisa begitu?.” Lowis juga penasaran.


Kemudian Rouzen pun menjelaskan.


“Sebenarnya jika kita sudah lumayan mahir mengendalikan Tiser dan elemen unggulan kita, kita bisa kebal dengan jurus kita sendiri. Karena bagaimanapun tiser dan jurus ini masih bagian dari tubuh kita sendiri juga.”


“Oh begitu ya. Apa kamu bisa membungkus wajahmu dengan api itu?.” Hervy penasaran.


Mendengar ucapan Hervy, semua orang yang ada disana menahan tawanya.


Namun Rouzen hanya menghela nafas.


“Hah… kamu ini. Apa kamu ingin membuatku buta?.” Ucap Rouzen kepada Hervy.


“Eh, bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa jurus kita bisa kebal terhadap kita?.”


“Aduh… aku lupa memberitahukanmu. Sebenarnya ada salah satu bagian tubuh yang masih bisa terluka karena jurus kita, itu adalah mata. Karena mata sangat sensitif, jadi kita tidak bisa membiarkan mata terkena jurus.”

__ADS_1


“Oh begitu ya. Baiklah aku mengerti.”


Setelah itu mereka pun mengobrol sebentar karena kelelahan. Setelah selesai, mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.


__ADS_2