Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
2. Bagaimana si Jenius diperlakukan oleh orang lain


__ADS_3

Pada saat ini, Rouzen, Heiren dan satu temannya Rouzen sedang berada di tempat makan dan memesan makanan di sana. Dan Mereka bertiga juga sudah mendapatkan meja untuk makan di tempat itu.


"Heiren, kamu mau pesan apa?." Rouzen berdiri dan bertanya. Karena dia yang akan memesankan makanannya.


"Aku pesan seperti yang kakak pesan saja." ucap Heiren sambil tersenyum ceria.


"Hah... kamu ini, selalu ikut-ikutan saja."


Kemudian Rouzen pun bertanya kepada temannya itu.


"Hei Hervy, kamu mau pesan apa?."


Teman Rouzen itu bernama Hervy.


"Aku pesan liwet saja."


"Baiklah kalau begitu."


Rouzen pun berjalan menuju tempat si penjual dan memesan makanan yang akan dipesannya.


"Paman, pesan timbel 2 dan liwet 1." Rouzen berbicara dengan si penjual.


"Oke." Penjual itu menjawab sambil melihat ke bawah karena sedang menyiapkan makanan.


Timbel adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang didalamnya ada daging, sambal dan sayuran. Sedangkan Liwet adalah sama seperti timbel, namun nasinya di taburi sedikit garam pada saat memasaknya, sehingga rasanya lebih gurih.


Saat penjual itu melihat ke depan, dia sedikit terkejut karena ternyata Rouzen yang memesannya.


"Eh Rouzen ternyata, maaf aku sedang fokus menyiapkan makanan." Si penjual senyum bersalah.


"Tidak apa-apa paman, lagian itu kan memang seharusnya."


"Tapi kan kamu ini berbeda, kamu ini seorang jenius desa, bagaimana bisa aku mengabaikan hal itu." Penjual itu berbicara dengan ramah.


Namun Rouzen, dia menjadi tidak senang karena perlakuan penjual itu, karena dia tidak ingin diperlakukan secara berbeda dengan orang lain.


"Yah, kalau begitu aku tidak jadi deh makan disini, karena kan aku ini seorang jenius, bagaimana bisa aku makan ditempat yang seperti ini." ucap Rouzen.


Mendengar perkataan Rouzen itu, si Penjual panik karena dia tidak ingin membuat masalah dengan Rouzen.


"Eh, Rouzen? kenapa seperti itu? aku kan bersikap seperti ini karena aku mengahargaimu sebagai seorang jenius."


Kemudian Rouzen menjelaskan alasannya.


"Paman, jika kamu benar-benar ingin menghargaiku, tolong bersikap santai saja kepadaku, dan perlakukan juga aku seperti pelanggan yang lain, aku tidak ingin membuat orang lain iri."

__ADS_1


"Tapi, apakah itu tidak apa-apa bagimu?."


"Tentu saja. Aku lebih nyaman diperlakukan seperti orang yang lainnya, daripada diperlakukan seperti orang yang istimewa, karena jika terlalu banyak orang yang mengistimewakan aku, aku takut menjadi orang yang sombong nantinya. Dan satu hal lagi yang penting, semua yang aku dapatkan dan aku raih sampai saat ini, itu semua hanyalah titipan dari tuhan yang diberikan kepadaku, sehingga tidak menutup kemungkinan jika nantinya semua yang kudapatkan itu akan hilang dari diriku."


Mendengar perkataan Rouzen, penjual itu sangat kagum kepadanya.


"Hah... kamu ini, ingin diperlakukan seperti orang biasa, tapi perkataanmu itu malah membuatku lebih kagum lagi. Memang tidak omong kosong jika kamu disebut seorang Jenius Desa, karena pemikiran dan tindakanmu itu tidak seperti orang yang berusia sama denganmu."


Namun pada saat ini, Rouzen tidak mempersalahkan perkataan penjual itu, melainkan dia mempermasalahkan makanan yang dipesannya, karena masih belum disiapkan oleh penjual itu.


"Ehm Ehm. Jadi, bagaimana pesananku?." Rouzen berpura-pura batuk karena penjual itu malah asik ngobrol dengannya.


Merasa disindir oleh Rouzen, Penjual itu akhirnya sadar bahwa Rouzen sebelumnya memesan makanan.


"Aduh... aku lupa, maaf maaf, akan segera kupersiapkan." Penjual itu langsung bergegas menyiapkan makanan yang dipesan Rouzen.


Beberapa saat kemudian, akhirnya pesanan Rouzen pun sudah selesai.


"Ini nak, maaf aku terlalu asik ngobrol denganmu sebelumnya." ucap Penjual itu sambil memberikan makanan pesanan Rouzen dan juga dengan ekspresi senyum bersalah


"Tidak apa-apa, namun jika paman melakukan hal yang seperti itu lagi, kemungkinan aku akan tepar disini karena kelaparan." ucap Rouzen sambil menerima pesanannya.


"Hehehe... kamu ini ya." ucap Penjual itu sambil memegangi kepala bagian belakang.


Setelah itu, Rouzen pun kembali kepada Heiren dan Hervy.


"Kakak, kenapa lama sekali sih?." ucap Heiren yang sudah tidak sabar untuk makan.


"Iya, kenapa lama sekali sih? dan sepertinya tadi aku melihat kamu dan penjual itu sedang asik ngobrol, apakah aku benar?." Hervy pun sama seperti Heiren, tidak sabar untuk makan.


Namun Rouzen hanya menghela nafas mendengar perkataan mereka berdua.


"Hah... dia yang terlalu asik ngobrol denganku, sehingga pesanannya jadi terlambat."


Mendengar itu, Hervy pun mencoba menggoda Rouzen.


"Hehehe... lagian kamu seorang yang istimewa sih di desa ini, jadi siapa yang tidak asik saat ngobrol denganmu."


Sedangkan Heiren, dia menjadi sedikit iri kepada Rouzen.


"Enak ya jika seperti kakak, diperlakukan dengan istimewa oleh orang lain."


Namun Rouzen menghela nafas lagi mendengar perkataan mereka berdua.


"Hah... bicara apa kalian ini. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka diperlakukan seperti itu, karena aku tidak ingin membuat orang lain menjadi iri, dan juga aku melihat mereka seperti terpaksa bersikap seperti itu kepadaku. Jadi untuk apa mereka melakukan hal yang merepotkan seperti itu ya?." Rouzen sedikit bingung.

__ADS_1


Hervy pun akhirnya menjelaskan pendapatnya.


"Mungkin mereka beranggapan kamu ini seorang yang langka di desa ini, sehingga mereka bersikap seperti itu."


"Begitu ya. Sudahlah lupakan saja, ayo kita makan makanan kita." ucap Rouzen sambil membuka makanan yang dipesannya.


Mereka pun makan bersama-sama.


Setelah selesai makan, Hervy kembali bertanya kepada Rouzen, tentang maksud si Prihatin yang Rouzen katakan kepadanya.


"Hei, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya. Apa yang kamu maksud 'Si Prihatin' yang kamu katakan kepadaku tadi?." Hervy berbicara serius.


"Oh itu. Iya kamu memang bersikap mudah prihatin kan? contohnya pada saat minggu pertama aku masuk akademi, pada saat kamu diganggu oleh beberapa orang, kamu langsung berekspresi seperti orang yang berprihatin, kamu hampir bergelimang air mata, bahkan wajahmu pun menyedihkan." Recky berbicara santai.


Mendengar itu, Hervy merasa malu, sedangkan Heiren merasa bahwa Hervy itu bukan prihatin, tapi cengeng.


"Kakak, bukannya itu namanya cengeng ya?."


"Oh cengeng ya?." Rouzen berpura-pura dirinya bersalah, padahal dari awal Rouzen memang ingin menggoda Hervy.


Hervy yang mendengar itu menjadi tidak terima.


"Cih, kamu ini memang pintar membual ya. Itu dulu, sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi."


"Begitukah? sayang sekali, padahal aku sangat kagum dengan kamu yang mudah tersentuh hatinya." Rouzen berbicara dengan berpura-pura dramatis.


"Itu bukan karena hatiku tersentuh." ucap Hervy dengan wajah memerah karena malu.


Setelah itu, mereka bertiga pun tertawa bersama.


"Hahahaha...."


Kemudian Hervy pun melanjutkan obrolan.


"Tapi jujur saja, ku kira kamu ini tidak akan seperti sekarang loh, karena pada saat itu, aku hanya menganggap kamu ini hanya seorang murid dari luar desa, tapi ternyata kamu bisa menjadi seorang jenius, sungguh tidak menyangka. Dan yang membuat aku tidak menyangka lagi adalah kamu ini orang yang baik dan peduli kepada teman-temanmu, bahkan kamu juga memperdulikan aku padahal aku ini hanyalah seorang murid yang bodoh." Hervy dengan ekspresi yang sedikit malu karena dirinya adalah orang yang bodoh.


Melihat ekspresi Hervy, Rouzen pun tidak ingin membiarkannya.


"Bicara apa kamu ini? setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jadi jangan merasa seperti dirimu lebih rendah dari orang lain, karena bisa saja potensimu itu masih belum terbangun. Dan juga, aku tidak menganggap semua orang berada di bawahku, apalagi temanku. Jadi kamu jangan bersikap seperti kamu lebih rendah dariku, karena kamu dan aku itu sama-sama manusia di tempat yang sama, ada kalanya kamu akan lebih unggul dan dibutuhkan daripada diriku." Rouzen berkata dengan jujur sambil tersenyum.


"Begitukah? terima kasih." Hervy merasa sangat senang karena bisa berteman dengan Rouzen.


Namun Heiren menjadi penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rouzen pada saat dirinya masih baru di akademi.


"Memangnya apa yang sering dilakukan kakak saat baru masuk akademi? dan juga bagaimana kalian bisa akrab seperti ini?." ucap Heiren dengan wajah yang penasaran.

__ADS_1


__ADS_2