Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
19. Berpisah tempat tinggal dan awal mendapatkan julukan.


__ADS_3

Waktu terus berlalu sampai Rouzen sudah 1 tahun berada di tingkatan Jandra kelas Gama atau Rouzen sudah berusia 13 tahun. Pada saat ini, Rouzen ( 13 ) dan Heiren ( 3 ) memutuskan untuk berpisah tempat tinggal dengan Redes dan Quener. Alasannya karena Redes dan Quener sudah dikaruniai seorang putra, sehingga Rouzen dan Heiren bermaksud tidak ingin terlalu merepotkan mereka.


Di rumah Redes.


Redes, Rouzen, Heiren dan Quener yang sedang menggendong putranya berkumpul di ruangan tengah.


“Rouzen, apa kamu yakin dengan keputusanmu ingin berpisah tempat tinggal dengan kami?.” Redes bertanya dengan ekspresi yang sedikit khawatir.


“Iya paman, aku yakin. Terima kasih atas semua perlakuan dan segala hal yang telah kalian berikan kepadaku, aku pasti akan mengingat kebaikan yang telah kalian berikan kepadaku dan Heiren. Dan juga, kami akan berusaha untuk membalas kebaikan yang telah kalian berikan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku dan Heiren ingin belajar untuk hidup mandiri saat ini dan kami juga tidak ingin selalu merepotkan kalian. Apalagi sekarang kalian sudah memiliki Rexue.” Rouzen berbicara dengan ramah.



Rexue adalah nama putra dari Redes dan Quener.



“Tidak kok, kalian tidak merepotkan kami. Jadi kalian bisa tetap tinggal disini.” ucap Quener yang tidak setuju dengan perkataan Rouzen.


“Walaupun bibi berkata seperti itu, kami akan tetap pada keputusanku sebelumnya ( berpisah tempat tinggal ). Aku mengambil keputusan itu bukan karena aku membenci kalian kok, aku hanya benar-benar ingin mencoba untuk hidup mandiri.” Rouzen tersenyum kepada Quener.


Namun Quener, dia masih tidak rela untuk berpisah dengan mereka berdua, karena dia sudah menganggap mereka berdua seperti putranya sendiri.


“Tapi, apakah perlu sampai seperti itu?.” Quener sedikit sedih.


Melihat ekspresi Quener, Rouzen menjadi sedikit bersalah kepadanya.


“Maaf bibi.” Rouzen menunduk.


Kemudian Redes berbicara.


“Apa yang dikatakan oleh Rouzen ada benarnya kok Quener. Jika aku berada diposisi Rouzen, aku pasti akan mengambil keputusan itu.” Redes sambil menepuk pundak Quener.


“Tapi…” Quener menatap ke arah Redes dengan ekspresi yang masih kecewa.


“Tidak apa-apa, lagian mereka juga masih berada di desa Meiyan kok. Mereka juga pasti akan sering berkunjung kesini dan bermain bersama Rexue. Ya kan Rouzen?.” Redes tersenyum kepada Quener kemudian Redes tersenyum kepada Rouzen.


“Betul. Kami hanya berpisah tempat tinggal saja, kami akan sering berkunjung kok, khususnya pada siang hari. Apalagi Heiren, dia sekarang masih belum masuk akademi, jadi pada saat aku sedang belajar ke akademi, aku akan mengantarkan Heiren ke sini untuk bermain bersama Rexue dan menjemputnya menjelang malam.” Rouzen menjelaskan kepada Quener.


Karena Penjelasan Rouzen, Quener pun sedikit lega.


“Apa kamu serius?.” Quener masih sedikit cemas.


“Tentu saja.” Rouzen menjawab dengan sungguh-sungguh.


“Baiklah kalau seperti itu.”


Setelah percakapan itu, Quener pergi ke kamar bersama dengan Rexue yang berada di pangkuannya.


Di ruang tengah, sekarang hanya tersisa Redes, Rouzen dan Heiren.

__ADS_1


“Hah… maaf atas sikap Quener tadi ya.” ucap Redes kepada Rouzen sambil menghela nafas.


“Tidak masalah.” Rouzen menjawab dengan santai.


“Tapi karena kejadian tadi, kamu bisa sedikit belajar loh.”


“Hah? apa maksud paman?.” Rouzen menatap Redes karena bingung.


Redes duduk santai sambil memandang ke atas dan berkata.


“Ini tentang sikap wanita. Pria dan Wanita memiliki banyak perbedaan, salah satunya adalah tentang bagaimana cara menanggapi sesuatu. Pria menanggapi sesuatu berdasarkan logika dan kemampuan, sedangkan wanita, mereka menanggapi sesuatu berdasarkan perasaan.”


Rouzen yang mendengar penjelasan dari Redes menjadi sedikit bingung, karena dia masih belum terlalu memahami tentang perasaan wanita.


“Begitu ya, tapi aku masih belum bisa sepenuhnya mengerti sih. hehe.” Rouzen tersenyum tidak mengerti.


“Hah… baiklah. Tapi suatu saat kamu pasti akan mengerti kok.” Redes menghela nafas.


“Iya.”


Kemudian Redes duduk dengan tegak dan berbicara serius.


“Jika kamu ingin berpisah tempat tinggal, kamu pasti akan mengambil sebagian harta yang ditinggalkan orang tuamu yang disimpan olehku kan?.” Ucap Redes.


“Iya, hanya sebagian sih. Yang penting cukup untuk menyewa tempat tinggal dan membeli kebutuhan sehari-hari.” Rouzen menjawab.


“Begitu ya. Baiklah. Tapi apakah kamu sudah menemukan tempat yang akan kalian tinggali?.”


“Kebetulan ada kenalanku yang menyewakan rumah, apa kamu ingin melihatnya?.”


“Boleh.”


“Baiklah kalau begitu. Mau melihatnya sekarang?.”


“Hmm.” Rouzen mengangguk.


Kemudian Redes dan Rouzen bangun dari tempat duduknya, dan segera pergi untuk melihat tempat tinggal yang akan ditinggali oleh Rouzen dan Heiren. Saat berangkat kesana, Heiren digendong dibelakang oleh Rouzen.


Sesampainya di tujuan, Rouzen melihat-lihat rumah itu dengan teliti, hingga akhirnya dia merasa cocok dengan rumah itu. Karena sudah cocok, Redes pun berbicara dengan kenalan yang memiliki rumah itu dan membayar sewanya. Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya Redes pun sudah selesai mengurus tempat tinggal Rouzen dan Heiren itu.


“Aku sudah selesai mengurus pembayaran rumah ini, jadi kalian bisa tinggal disini sekarang.” Ucap Redes yang baru saja kembali.


“Baik. Terima kasih paman.” Rouzen membungkukkan badan.


“Tidak usah seperti itu.” Redes merasa keberatan dengan perlakuan Rouzen.


Setelah itu, Redes memberikan sebagian harta peninggalan orang tua Rouzen yang disimpan olehnya kepada Rouzen untuk dibelikan beberapa kebutuhan yang dibutuhkan Rouzen. Karena pada saat ini, Rouzen akan mencoba hidup mandiri.


Waktu sudah menjelang malam, Redes pun pamit meninggalkan tempat tinggal Rouzen dan Heiren yang baru. Rouzen dan adiknya, mereka tinggal berdua di tempat tinggal yang baru itu.

__ADS_1


Waktu terus berlalu. Rouzen masih melakukan rutinitas seperti sebelumnya, hanya saja sebelum berangkat ke akademi, dia mengantarkan Heiren ke rumah Redes untuk membantu Quener dan bermain bersama Rexue yang masih bayi. Pada saat pulang dari aktivitasnya, Rouzen menjemput Heiren di rumah Redes.


Satu tahu telah berlalu, Rouzen akhirnya lulus dan naik ke kelas Abira dengan titik Pot dalam Tisernya berjumlah 8 titik. Karena itu, dia menjadi satu-satunya murid dalam sejarah desa Meiyan yang memiliki jumlah Pot 8 titik. Bahkan di kelas Abira, Rouzen pun menjadi murid paling muda di antara yang lainnya. Dan berkat kejadian itulah akhirnya Rouzen sekarang dikenal sebagai si Jenius desa.


Karena kejadian itu juga, Rouzen seringkali diperlakukan istimewa oleh warga desa, sehingga tidak sedikit orang yang iri kepadanya. Oleh karena itu, sekarang Rouzen sering menegur orang-orang yang memperlakukannya dengan istimewa atau berbeda dengan orang lain, karena dia tidak ingin membuat orang lain iri kepadanya.


Rekor yang dipecahkan oleh Rouzen bukan hanya sekedar omong kosong belakang, karena kemampuan Rouzen yang sekarang bisa dibilang memenuhi kriteria sebagai seorang jenius. Rouzen memiliki kemampuan khususnya bertarung yang sangat bagus, baik dalam pengendalian Tiser atau kemampuan Talis. Bahkan sekarang, Rouzen sudah memiliki sebuah pedang, sehingga dia terkadang bertarung menggunakan pedang ( saat misi ).


Flashback END.


Di tempat Rouzen, Heiren dan Hervy makan.


Hervy yang mendengar cerita dari Rouzen, matanya berkaca-kaca dan terharu.


“Hiks… hiks… aku seperti bernostalgia. Padahal itukan cuma Flashback.” Hervy terharu.


Rouzen yang melihat ekspresi dari Hervy hanya bisa menghela nafas.


“Hah…”


Kemudian Rouzen berkata sambil menoleh ke arah adiknya yaitu Heiren.


“Kamu sudah dengarkan Heiren?.... Eh.” Saat pandangannya sudah sempurna menatap Heiren, Rouzen kesal karena Heiren sudah tertidur.


Rouzen mencoba menenangkan dirinya dan senyum terpaksa.


“Heiren… Apakah tidurmu nyenyak?.” Rouzen membangunkan Heiren sambil senyum terpaksa.


Heiren pun akhirnya bangun dari tidurnya.


“Oh kakak? dimana aku?.” Heiren masih linglung karena bangun tidur.


Namun Rouzen tidak menjawab Heiren dan masih tetap dengan senyum terpaksanya.


Heiren melihat-lihat sekitar, dan akhirnya dia sadar.


“Ah benar, aku sedang makan kan sebelumnya?.”


“Betul, dan kamu langsung tertidur saat aku menceritakan sebuah dongeng.” Rouzen masih dengan senyum terpaksanya.


Melihat senyuman kakaknya yang aneh, Heiren sedikit ketakutan. Hingga beberapa saat kemudian, Heiren akhirnya sadar bahwa dirinyalah yang membuat kakaknya menceritakan masa lalunya.


“Eh… itu… maaf ya kak.” Heiren senyum bersalah.


“Jadi, apakah kamu sudah tahu awal aku bertemu dengan Hervy kan?.” Rouzen bertanya.


“Tentu saja aku tahu. Kakak sampai bertarung dengan seseorang yang kelasnya lebih tinggi dari kakak kan?.”


“Oh kamu tahu ya. Baiklah kalau begitu.” Rouzen menghilangkan senyum terpaksanya dan bersikap normal kembali.

__ADS_1


Dan Heiren juga sekarang menjadi lega.


“Huh… untung saja kakak bertanya pada saat pertemuannya dengan kak Hervy. Kalau saja dia bertanya tentang pada saat dia masuk ke kelas Jandra, aku pasti tidak akan tahu. Karena sebelum tertidur, aku sempat mendengar kakak naik ke kelas Jandra, namun seterusnya aku tidak tahu karena aku sudah masuk mimpiku sendiri.” Gumam Heiren.


__ADS_2