Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
14. Misi Pertama tingkatan Jandra.


__ADS_3

Setelah lulus ke tingkatan Jandra, para murid belajar teori seperti yang biasa dilakukan di tingkatan Bubuka. Hingga beberapa waktu kemudian, misi untuk tingkatan Jandra pun tersedia.


Pada kesempatan kali ini, Rouzen mendapatkan misi tingkatan Jandra mengawal Nagaya yang ingin mengirim barang ke desa Juis. Desa Juis adalah desa kecil yang berada tidak jauh dari Desa Meiyan. Namun walaupun begitu, rute yang dilalui untuk sampai ke desa Juis dari Desa Meiyan harus melewati hutan, yang di hutan itu biasanya terdapat hewan buas. Oleh karena itu, Rouzen bertugas untuk mengawal Nagaya itu. Tapi Rouzen juga tidak sendirian, dia ditemani oleh Lowis, Hervy serta Bufan yang bertugas untuk memimpin. Karena Bufan sudah jauh lebih dulu di tingkatakan Jandra, jadi dia sudah memiliki pengalaman.


“Apa kalian sudah mengerti tugas yang harus kalian jalani?.” Nilan berbicara kepada Rouzen, Hervy, Lowis dan Bufan.


Pada saat ini, Nilan bertugas sebagai wali kelas dari kelas tingkatan Jandra, atau bisa dibilang wali kelas dari Rouzen dan kawan-kawan.


“Kami mengerti.” Rouzen, Hervy, Lowis dan Bufan menjawab bersamaan.


“Bagus. Dan untuk misi kali ini, Bufan berperan sebagai pemimpin dari kelompok ini, karena dia sudah berpengalaman. Apakah kalian keberatan?.” Nilan.


“Tidak. Kami tidak keberatan.”


“Bagus. Sekarang jalankan misinya. Dan semoga berhasil.”


Setelah itu, mereka berempat pun meninggalkan Nilan dan pergi ke tempat Nagaya yang memberikan misi.


Sesampainya disana, mereka berempat menemukan seorang kakek tua yang membawa barang yang cukup besar.


Kemudian Bufan dan yang lainnya menghampiri kakek tua itu.


“Apakah anda yang bernama Lengyan?.” Bufan bertanya.


“Iya. Apakah kalian Aryan yang dipilih oleh desa?.” Lengyan.


“Betul. Jadi kapan kita akan berangkat?.”


“Sekarang juga boleh.”


Setelah itu, Bufan menatap ke arah Rouzen, Lowis dan Hervy. Kemudian dia bertanya.


“Apa kalian sudah siap jika berangkat sekarang?.”


“Tentu, kami sudah siap.” Jawab mereka bertiga.


“Bagus. Kalau begitu mari berangkat.”


Mereka pun berjalan menuju ke desa Juis. Belum sampai seperempat perjalanan, Rouzen melihat bahwa Lengyan sudah kecapean dan juga keberatan dengan barang bawaannya. Oleh karena itu, Rouzen pun berniat untuk membantunya.


“Kakek, apakah kamu cape? perlu istirahatkah?.” Rouzen bertanya.


“Tidak apa nak, lanjutkan saja, supaya cepat sampainya.” Lengyan menjawab.


Walaupun Lengyan sudah berkata seperti itu, tapi Rouzen sudah tahu bahwa Lengyan sedang kecapean.


“Apa kamu serius?.” Rouzen memastikan.


“Iya.” Lengyan sambil tersenyum.


Merasa tidak tega, Rouzen akhirnya meminta agar barang bawaan Lengyan dibawa olehnya.


“Kalau begitu, bolehkah aku membantumu membawa barang bawaan itu?.” Rouzen.


“Tidak usah repot-repot.” Lengyan masih bersikeras.


Mendengar jawaban Lengyan yang terus bersikeras, Rouzen menjadi sedikit kesal.


“Tidak repot kok. Malah kami akan repot kalau kamu memaksakan diri seperti itu.” Rouzen sambil senyum terpaksa karena kesal.


Mendengar pernyataan Rouzen, Lengyan pun akhirnya menyetujuinya.


“Oh begitu ya. Kalau begitu maaf merepotkanmu.” Lengyan memberikan barang bawaannya kepada Rouzen.


“Tidak masalah.”


Kemudian mereka berjalan seperti sebelumnya.


Sesampainya di Hutan belantara, tiba-tiba mereka mendengar suara auman.

__ADS_1


“Suara apa itu?.” Hervy panik.


“Sepertinya hewan buas.” Bufan berbicara dengan santai.


Tidak lama kemudian, datanglah segerombolan serigala yang mengepung mereka.


Karena hal itu, mereka pun panik. Termasuk Bufan yang sebelumnya berbicara dengan santai. Namun Rouzen segera menenangkan mereka semua.


“Tenanglah dan jangan panik. Kita pikirkan strateginya dengan tenang.” Rouzen berkata kepada rekannya.


Karena perkataan Rouzen, mereka pun berusaha untuk menenangkan diri.


Setelah mulai tenang.


“Apa kita perlu menyerang mereka sekarang?.” Lowis bertanya.


“Tunggu sebentar, aku sedang memikirkannya.” Bufan menjawab.


Namun Rouzen, dia langsung bergerak dan memerintahkan Bufan serta yang lainnya untuk mengeluarkan jurusnya.


“Bufan, keluarkan jurus yang terakhir kali kamu arahkan kepadaku ke bagian depan. Lowis, keluarkan jurus anginmu ke bagian samping. Dan Hervy, keluarkan jurus asapmu untuk melindungi kami dari belakang.”


“Tapi…” Bufan ragu karena terakhir kali dia mengeluarkan jurus yang dimaksud oleh Rouzen, itu adalah jurusnya yang gagal.


“Jangan banyak bicara, lakukan saja.”


Mereka pun akhirnya mengikuti perintah Rouzen.


“Angin kekacauan.” Bufan mengeluarkan jurusnya.


“Ombak hembusan.” Lowis mengeluarkan jurusnya.


“Asap Vulkanik.” Hervy mengeluarkan jurusnya.


Karena jurus mereka bertiga, muncullah angin beliung yang berputar di bagian depan, angin yang menghembus ke atas di bagian samping, dan asap yang cukup panas di bagian belakang.


Setelah itu, kini giliran Rouzen. Rouzen tidak banyak menggunakan Tisernya, dia hanya membuat sihir api yang  berbentuk seperti bola kasti di tangannya, kemudian dia melemparkan bola api itu ke bagian depan, atau ke arah jurus milik Bufan.


Setelah itu, bola api yang dilemparkan oleh Rouzen itu menjadi membesar mengikuti jurus angin milik Bufan. Tidak hanya sampai disitu saja, karena jurus milik Bufan itu berputar, alhasil bola api Rouzen yang bergabung dengan angin kekacauan milik Bufan itu sekarang merambat kepada jurus milik Lowis ( ombak kekacauan ), yang menyebabkan jurus milik Lowis yang asalnya hanya angin, menjadi api. Karena kejadian itu, api pun menjadi mengelilingi mereka, kecuali bagian belakang yang hanya terdapat jurus milik Hervy ( asap Vulkanik ). Oleh karena itu, para serigala yang mengelilingi mereka pun menjadi tidak bisa mendekati mereka, kecuali jika serigala itu berani untuk masuk lewat bagian belakang dan melewati jurus asap yang cukup panas milik Hervy.


“Berfokuslah pada bagian belakang. Karena hanya itulah jalan terakhir yang bisa dilalui oleh serigala itu untuk menyerang kita. Dan itu juga jika para serigala berani, karena walaupun hanya asap, tapi asap itu cukup panas.” Rouzen berbicara kepada yang lainnya.


Dan benar saja, beberapa saat kemudian, para serigala itu pun langsung meninggalkan mereka.


Melihat kejadian itu, Lengyan sangat kagum kepada Rouzen.


“Strategi kamu sangat mengagumkan, nak. Aku tidak menyangka jika seorang bocah sepertimu bisa melakukan tindakan seperti tadi.” Lengyan tersenyum bangga.


“Kakek bisa saja.” Rouzen malu karena dipuji.


Namun Hervy malah bingung.


“Kenapa kamu hanya mengeluarkan jurus api yang kecil? padahal kamu bisa mengeluarkan jurus api yang besar kan? Dan kenapa kamu bisa tahu jika api itu akan membesar?.”


Mendengar perkataan itu, Lowis, Bufan dan Rouzen menghela nafas.


“Hah…”


Kemudian Rouzen menjelaskan.


“Kita inikan satu kelompok, jadi aku ingin kita semua bisa memberikan kontribusi. Apa yang terjadi jika aku mengeluarkan jurus api yang besar? apa kalian akan mengeluarkan jurus kalian juga?.”


“Mungkin tidak, karena kan sudah dibereskan olehmu.” Hervy menjawab.


“Itulah kenapa aku memerintahkan kalian mengeluarkan jurus kalian. Supaya kalian bisa ikut andil dalam tindakan yang seperti tadi, dan juga supaya kalian bisa mendapatkan pengalaman mengeluarkan jurus kalian di alam bebas. Karena kita juga semua tahu kan, kalau di akademi, kita dilarang menggunakan jurus kecuali ada izin?.”


Mendengar itu, Hervy akhirnya mengerti.


“Oh begitu.”

__ADS_1


“Dan untuk kenapa aku bisa tahu apinya akan membesar, itu karena memang sudah menjadi ilmu yang dasar. Jika api bertemu angin, api itu akan membesar. Dan juga sebenarnya, ilmu ini sudah dipelajari saat kita di kelas Bubuka loh, jadi kenapa kamu tidak tahu?.”


“Eh itu… kamu tahukan kalau aku kadang tertidur di kelas? mungkin karena itulah aku tidak mengetahuinya.” Hervy senyum bersalah.


“Hah… kamu ini ya.” Rouzen hanya menghela nafas.


Lengyan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa tersenyum bangga dan terhibur.


Kemudian Lengyan berbicara lagi kepada Rouzen.


“Apa kamu benar-benar seorang bocah tingkatan Jandra?.”


“Iya, memangnya kenapa?.” Rouzen merespon.


“Aku hanya tidak menyangka saja jika seorang bocah dari tingkatan Jandra sudah memiliki pemikiran seperti orang dewasa.”


“Mungkin aku menjadi dewasa lebih cepat dari yang lain.” Rouzen merespon.


Mendengar perkataan Rouzen, Lengyan pun tertawa.


“Hahaha… kamu ini pintar berkata-kata juga ya.”


Kemudian Rouzen hanya membalasnya dengan senyuman.


Setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanannya ke desa Juis. Sesampainya di desa Juis, Lengyan langsung memberikan barang bawaannya kepada orang yang ditujunya yang berada di desa Juis.


Karena waktu sudah terlalu malam jika dipaksakan kembali ke desa Meiyan, akhirnya mereka pun menginap terlebih dahulu di desa Juis.


Keesokan harinya, mereka pun berjalan kembali ke desa Meiyan. Sesampainya di desa Meiyan, Rouzen, Bufan, Lowis dan Hervy pergi terlebih dahulu ke ruangan Nilan untuk memberikan laporan.


Pada saat mereka bertiga masuk kedalam ruangan Nilan, mereka langsung ditanyai oleh Nilan.


“Bagaimana misinya?.”


Kemudian Bufan menjawab.


“Semuanya berjalan dengan lancar guru.”


“Bagus. Bolehkah kamu menceritakan kepadaku apa yang terjadi pada saat kalian menjalankan  misi?.” Nilan bertanya kepada Bufan.


“Baik.”


Kemudian Bufan pun menceritakan semua kejadian yang terjadi pada saat menjalankan misi. Salah satunya adalah pada saat mereka dikepung oleh segerombolan serigala di hutan, kemudian bagaimana cara mengatasinya. Dan Bufan juga menjelaskan tentang tindakan yang dilakukan oleh Rouzen saat menghadapi serigala itu.


Setelah mendengar perkataan dari Bufan, Nilan pun merasa sangat kagum kepada Rouzen. Namun sebelum itu, Nilan sedikit menggoda Bufan.


“Sepertinya pemimpin dari kelompok kalian ini menjadi terbalik ya? seharusnya kan Bufan yang jadi pemimpin. Tapi setelah mendengarkan cerita dari Bufan, aku bisa menyimpulkan bahwa Rouzen lah pemimpinnya.”


Bufan yang mendengar itu menjadi malu.


“Hehe… Maaf guru. Jujur saja jika dibandingkan dengan Rouzen, aku selalu kalah darinya.” Bufan senyum bersalah.


“Sudahlah, aku hanya bercanda. Tapi kerjasama kalian itu sangat membuatku kagum loh, jadi untuk memberikan bonusnya, aku akan mentraktir kalian makan, malam ini. Apa kalian bersedia?.”


Mendengar itu, mereka bertiga sangat senang.


“Tentu saja kami setuju guru.”


“Bagus. Kalau begitu sampai bertemu nanti malam.” Nilan tersenyum.


“Baik. Terima kasih guru.”


Setelah itu mereka pun diberikan bayarannya masing-masing oleh Nilan karena berhasi menyelesaikan misi, dan kemudian mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


Pada malam harinya, mereka berkumpul lagi untuk menerima tawaran dari Nilan. Setelah Nilan datang, mereka pun makan malam bersama sambil mengobrol dan tertawa bersama. Hingga sudah beberapa jam terlewat, akhirnya makan malam bersama pun selesai.


“Terima kasih atas traktirannya guru.” Mereka bertiga berterima kasih kepada Nilan.


“Iya sama-sama. Lebih giat lagi ya belajarnya.” Nilan sambil tersenyum.

__ADS_1


“Baik.”


Setelah itu mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.


__ADS_2