Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
8. Pertemuan pertama Rouzen dan Hervy.


__ADS_3

Empat hari kemudian, setelah Rouzen dan Heiren tinggal di desa Meiyan, Rouzen saat ini akan masuk ke akademi.


Di depan akademi.


"Kamu sudah siap?." Redes berbicara kepada Rouzen.


"Hmm." Rouzen mengangguk.


Kemudian Rouzen pun masuk bersama dengan Redes.


Rouzen dan Redes masuk bersama karena Rouzen pada saat ini akan menjadi murid akademi, sedangkan Redes, dia adalah salah satu guru di akademi.


Pada saat Rouzen dan Redes masuk, tiba-tiba datanglah seorang pria dewasa yang menghampiri mereka.


"Senior, apakah ini orangnya?." Pria itu berbicara kepada Redes, sambil menunjuk Rouzen.


"Iya." Redes menjawab.


Kemudian pria itu berbicara kepada Rouzen.


"Perkenalkan namaku Jiss Zhuge, wali kelas dari kelas Bubuka, dan juga nantinya akan menjadi wali kelasmu." Zhuge sambil tersenyum.


"Oh iya. Namaku Neland Rouzen. Mohon bantuannya."


Kelas Bubuka adalah kelas yang dimana semua muridnya masih belum bisa mengeluarkan dan mengendalikan Tiser. Kelas ini juga adalah awal dari keputusan para murid untuk memilih jalannya, karena setelah lulus, para murid akan diberi 2 pilihan, yaitu menjadi Aryan atau menjadi Nagaya ( orang biasa yang melanjutkan hidupnya dengan berniaga ).


Setelah itu Rouzen dan Zhuge pun berjalan menuju ke kelas Bubuka.


Setelah sampai, Rouzen melihat bahwa di kelas itu, jumlah muridnya sekitar 30 orang.


Kemudian Zhuge memperkenalkan Rouzen kepada para murid di kelas Bubuka..


"Halo murid-murid, kali ini kita kehadiran teman baru. Dia adalah Neland Rouzen. Kuharap kalian bisa akrab dengannya." Zhuge sambil menunjuk Rouzen.


Setelah itu Rouzen pun memperkenalkan diri.


"Perkenalkan namaku Neland Rouzen. Mohon bantuannya."


Setelah perkenalan, Rouzen pun duduk di bangku yang kosong. Dan bangku itu berada di belakang.


Pada saat duduk, Rouzen disapa oleh salah satu murid.


"Halo, perkenalkan namaku adalah Peer Hervy. Senang berkenalan denganmu." Hervy sambil tersenyum ramah.


"Iya, senang berkenalan denganmu juga." Rouzen tersenyum.


Setelah itu guru Zhuge pun akhirnya memulai pelajaran.


Pada saat jam pelajaran dimulai, Rouzen memperhatikan materi yang diberikan oleh Zhuge dengan serius, sedangkan Hervy, dia malah menyembunyikan wajahnya di balik bukunya, dan tertidur. Hingga beberapa saat kemudian, kelakuan Hervy diketahui oleh Zhuge.


“Hei Hervy, jika kamu ingin tidur, kamu tidur di rumah saja jangan disini.” Zhuge sambil memukul pelan kepala Hervy dengan buku.


Karena itu Hervy pun akhirnya bangun.


“Hmm.” Hervy yang masih baru bangun tidur ( belum sadar 100 persen )


“...” Zhuge hanya menatapnya.


“Guru?... Eh guru, maaf aku ngantuk.” Hervy terkejut.


“Kamu ini ya. Sudah berapa kali kamu tidur saat belajar di kelas? apa kamu tidak malu dengan murid baru? kamu seharusnya memberikan contoh yang baik. Sekarang kamu berdiri di luar” Zhuge memarahi Hervy.


Zhuge berkata seperti itu karena Hervy sudah beberapa kali tidur di kelas.

__ADS_1


Kemudian Hervy menatap Rouzen.


“Cih. Memangnya apa bedanya dia dengan yang lain?.” Hervy sambil menatap melangkah meninggalkan kelas..


Melihat itu, Rouzen bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi kepada Hervy.


Setelah Hervy meninggalkan kelas, beberapa murid di kelas pun membicarakannya.


“Hah… si bodoh itu tidak ada kapok-kapoknya.” “Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.”


Kemudian Zhuge menghentikan pembicaraan mereka.


“Sudah hentikan. Ayo kita lanjutkan lagi pelajarannya.”


Kelas pun dimulai kembali tanpa Hervy.


Beberapa saat kemudian, akhirnya kelas berakhir.


“Untuk hari ini sampai disini saja. Kalian boleh pulang sekarang.” Zhuge berbicara kepada murid di kelas.


“Hore! Akhirnya pulang juga.” Murid yang gembira dengan waktu pulang


Kemudian Zhuge melanjutkan..


“Tapi untuk Rouzen jangan pulang dulu ya.” Zhuge sambil melihat ke arah Rouzen.


“Baik.” Rouzen menyetujuinya.


Setelah para murid meninggalkan kelas, Zhuge pun menjelaskan alasannya kepada Rouzen.


“Maaf ya kamu jadi pulang telat.”


“Iya tidak apa-apa.”


“Jadi begini. Karena kamu ini murid baru, jadi ada beberapa pelajaran yang terlewat. Oleh karena itu, aku akan memberikanmu buku yang sudah pernah aku jelaskan kepada para murid yang lainnya, supaya kamu tidak ketinggalan pelajaran. Apakah kamu bersedia mempelajarinya? tentu saja kamu bisa baca jika ada waktu luang.”


“Kalau begitu, ini.” Zhuge sambil memberikan beberapa buku.


Kemudian Rouzen menerima buku itu.


“Terimakasih guru.”


“Iya.”


Setelah itu, Zhuge melanjutkan perkataannya.


“Dan maaf juga ya tentang sikap yang ditunjukkan oleh Hervy. Dia memang suka bersikap seperti itu.”


Mendengar itu, Rouzen pun hendak menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


“Iya tidak apa-apa. Tapi kenapa dia bersikap seperti itu? apalagi pada saat dia berkata bahwa aku tidak ada bedanya dengan yang lain?.”


Kemudian Zhuge menjelaskan.


“Dia itu adalah orang yang sedikit lambat dalam mempelajari sesuatu, sehingga dia dipanggil bodoh oleh teman-temannya. Namun yang membuat dia berkata seperti itu kepadamu, mungkin kamu nantinya akan sama seperti mereka yang memanggil dirinya bodoh. Dan dia juga tidak memiliki teman, sehingga dia melakukan apa saja yang dia mau, karena dia berpikir jika dia melakukan sesuatu, tidak ada yang peduli juga kepadanya.”


Mendengar itu Rouzen sedikit kasihan.


“Begitu ya. Tapi kenapa dia tidak memiliki teman? padahal tadi dia bersikap ramah kepadaku?.”


“Mungkin karena dia adalah orang yang bodoh dan nakal, sehingga para murid tidak ada yang ingin bersamanya.”


“Apa hanya itu?.”

__ADS_1


“Entahlah. Namun dia juga sebenarnya anak yatim piatu, sehingga mungkin murid lain tidak ingin berteman dengannya karena takut dimanfaatkan olehnya.”


“Terus bagaimana kehidupan dia? misal tempat tinggalnya?.”


“Dia tinggal di panti asuhan.”


“Begitu ya. Tapi bukannya berlebihan ya, jika para murid lain memperlakukannya seperti itu?.”


“Sebenarnya aku pun berpikir seperti itu. Namun aku tidak bisa berbuat banyak, karena hanya merekalah yang bisa mengatasinya. Bahkan aku juga sudah pernah berusaha untuk membuat beberapa murid di kelas menjadi satu kelompok dengan Hervy, namun pada akhirnya mereka malah bertengkar.”


“Begitu ya. Aku mengerti.”


Kemudian Zhuge pun memperbolehkan Rouzen untuk pulang.


“Ya karena urusannya sudah selesai, kamu bisa pulang sekarang.”


“Baik. Terimakasih guru.”


Setelah itu Rouzen pun meninggalkan kelas dan segera pulang ke rumah Redes.


Di tengah perjalanan, dia melihat Hervy yang sedang duduk sendirian.


“Hei, sedang apa kamu?.” Rouzen menyapa Hervy.


Setelah mendengar itu, Hervy pun berbalik dan menatap orang yang memanggilnya..


“Murid baru?.” Hervy bingung.


“Namaku Rouzen, jadi panggil aku Rouzen saja.”


“Baiklah, tapi kenapa kamu kesini?.”


“Aku sedang berjalan pulang ke rumah, namun kemudian aku melihatmu, jadi aku memutuskan untuk menyapamu terlebih dahulu.”


Mendengar itu, Hervy sedikit heran.


“Kenapa juga kamu ingin menyapaku?.”


“Bukannya tidak aneh ya, jika seorang teman menyapa temannya?.”


“Teman? aku tidak punya teman.” Hervy berbicara tanpa melihat wajah Rouzen.


“Apakah kamu benar-benar tidak ingin punya teman?.”


“...” Hervy hanya diam.


Kemudian Rouzen menjelaskan.


“Aku sudah dengar tentangmu dari guru Zhuge tadi.”


“Terus?.”


“Aku juga sama sepertimu, aku seorang yatim piatu juga. Bahkan aku ini bukan penduduk asli desa ini.”


“...” Hervy hanya diam.


“Jadi jika kamu tidak keberatan, aku bersedia kok menjadi temanmu.” Rouzen tersenyum.


“Walaupun aku bodoh?.”


“Memangnya kenapa? kita ini kan masih seorang murid, jadi wajar saja kalau masih tidak mengetahui apa-apa.”


Mendengar itu, Hervy menjadi tersentuh hatinya. Namun dia segera melupakan perasaan itu.

__ADS_1


“Cih, aku tidak perlu teman. Lagian kamu juga pasti diperintahkan oleh Guru Zhuge kan? aku sudah tahu.” Hervy sambil melangkahkan kaki meninggalkan Rouzen.


Mendengar itu, Rouzen hanya bisa menatap ke bawah dan sedikit sedih karena dirinya juga sama-sama tidak punya teman.


__ADS_2