
Redes dan rekannya sangat terkejut melihat Jiose dan Dessy sedang terluka parah, atau bahkan sekarang sedang dalam keadaan sekarat. Mereka berpikir, bagaimana bisa orang kuat seperti Jiose dan Dessy dalam kondisi yang seperti ini. Jika mereka bertarung dengan seseorang, entah sekuat apa orang itu.
"Nilan, bantu sembuhkan mereka." Redes meminta Nilan untuk menyembuhkan mereka.
Dimulai dari Dessy yang sudah tidak sadarkan diri, namun masih bernyawa. Nilan pun mencoba menyembuhkan Dessy.
Kemudian Redes bertanya kepada Jiose yang terluka parah.
"Teman, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kalian bisa seperti ini?." Redes sambil menempatkan Jiose yang penuh darah ke pangkuannya.
"Redes kah?." Jiose berbicara dengan berat.
"Iya, ini kami."
Pada saat ini, Jiose yang sudah dalam keadaan sekarat masih memegangi tangan dari Dessy. Hingga akhirnya, Jiose menyadari bahwa orang yang tangannya dipegang olehnya sudah tidak bernyawa lagi.
"Ini... " Nilan tidak percaya karena orang yang sedang dia sembuhkan sebelumnya, sekarang sudah tidak bernyawa.
"Sudahlah, terima kasih sudah berusaha menyembuhkannya." Jiose sambil mengeluarkan air mata.
Walaupun Jiose berbicara seolah dia menerima kenyataan, namun hati kecilnya sangat sedih dan kehilangan.
Kemudian setelah Dessy gagal disembuhkan, kali ini Nilan mencoba menyembuhkan Jiose.
"Teman, bolehkah aku meminta sebuah permintaan?." Jiose berbicara kepada Redes dan Rekannya.
"Tentu saja dan apa itu?" Redes menjawab pertanyaan Jiose.
"Tolong bawalah kedua putraku ke desa Meiyan, dan latihlah dia disana."
Mendengar itu, Redes sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, namun melihat kondisi Jiose yang seperti itu, dia akhirnya tidak terlalu banyak bertanya.
"Baik, siapa nama kedua putramu? mereka sedang di desa Dayan kan?."
"Betul, mereka berada disana. Mereka bernama Rouzen dan Heiren."
"Baiklah, kemudian apa lagi?."
Kemudian Jiose pun menatap ke arah Dessy yang sudah tidak bernyawa.
"Tolong makamkan aku disamping makam istriku."
Mendengar itu, Redes dan rekannya terkejut.
"Bicara apa kamu ini? kami sedang berusaha untuk menyembuhkanmu saat ini, jadi kamu jangan berbicara seperti itu." Redes emosional.
Jiose pun menjelaskan alasannya.
__ADS_1
"Percuma saja, luka yang aku terima ini bukan luka yang bisa disembuhkan dengan mudah, jadi sudahi saja tindakan penyembuhan itu."
"Tapi setidaknya kami harus mencobanya terlebih dahulu, siapa tahu kam..." Redes belum selesai berbicara karena Jiose memotongnya.
"Dan satu hal lagi. Yalar bukan yang sebenarnya." Perkataan terakhir Jiose.
Setelah itu Jiose menutup matanya, dan semua anggota tubuhnya melemah. Hingga pada saat Nilan memeriksanya, Jiose sudah tidak bernyawa lagi saat ini.
"Hei, buka matamu! apa maksudmu dengan Yalar bukan yang sebenarnya?!." Redes panik dan sedih.
Kemudian Redes menatap Nilan yang sebelumnya mencoba menyembuhkan Jiose, namun Nilan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Redes menatapnya.
Karena kejadian itu, Redes dan temannya sangat sedih, karena orang yang menolongnya, saat ini sudah meninggal.
Namun tidak lama kemudian, Dean menemukan sesuatu.
"Sepertinya mereka berdua habis bertarung dengan kelompok Yalar yang lainnya." Dean sambil jongkok di sebuah tempat.
"Hah? masih ada anggota Yalar yang lainnya? apakah mereka sangat kuat, sehingga bisa membuat kedua orang ini terluka parah?." Redes penasaran.
"Entahlah, namun aku menemukan abu mayat, dan abu ini seperti abu anggota Yalar sebelumnya." Dean sambil memegang abu itu.
Kemudian Marin melihat abu itu, namun dia merasa abu yang ditemukan Dean saat ini seperti berbeda dengan abu yang ada pada anggota Yalar sebelumnya.
"Sebentar, aku merasa bahwa abu ini terasa berbeda dari abu anggota Yalar sebelumnya." Marin sambil memegang dan mencium abu itu.
"Iya, aku merasa ini berbeda dari sebelumnya, terkhusus baunya."
"Jadi maksudmu abu ini bukan dari kelompok Yalar?."
"Entahlah, aku hanya merasa perbedaannya saja, tidak bisa beranggapan jika abu ini dari kelompok Yalar atau bukan."
Kemudian mereka pun berpikir keras, hingga Wesley menemukan sebuah pemikiran.
"Apa jangan-jangan ini yang dimaksud oleh Jiose dengan Yalar bukan yang sebenarnya?."
Mendengar pendapat Wesley, Redes dan yang lainnya menjadi berpikir bahwa hanya itu alasan terkuatnya.
"Tapi apa maksud Jiose dengan Yalar bukan yang sebenarnya?." Yuji bingung.
Kemudian Wesley memberikan pendapatnya.
"Apa jangan-jangan Kelompok Yalar sebenarnya memiliki dalang di belakangnya?."
"Ah mungkin kamu benar, hanya itu sih yang bisa aku artikan dari kata Yalar bukan yang sebenarnya." Dean setuju dengan Wesley.
Namun Redes memiliki pendapatnya sendiri.
__ADS_1
"Aku juga berpikir seperti itu, namun itu semua hanyalah dugaan saja, tidak bisa dibilang valid. Jadi untuk sementara kita laporkan saja tentang perkataan Jiose kepada Derent, agar nantinya bisa diselidiki lebih lanjut. Dan aku juga merasa bahwa perkataan dari Jiose tidak bisa diartikan sesimple itu."
"Kamu benar." Marin setuju dengan Redes.
Setelah itu, Redes dan Rekannya membantu memakamkan Jiose dan Dessy.
Kemudian Dean melihat kantong penyimpanan yang menempel di pinggang Jiose dan Dessy.
"Mereka sepertinya membawa beberapa persediaan di dalam kantong penyimpanannya, jadi mau kamu apakan kantong penyimpanan itu, apakah kamu akan menguburnya?." Dean bertanya kepada Redes.
"Tidak, aku akan membawanya dan memberikannya kepada putra mereka." Redes menjawab.
"Oh begitu, baiklah."
Kantong penyimpanan adalah kantong kecil yang digunakan oleh Aryan untuk menyimpan persediaan seperti senjata, obat, makanan atau sebagainya. Walaupun bentuknya kecil, tapi kantong itu bisa menyimpan beberapa harta didalamnya.
Kemudian Redes memperingatkan rekannya.
"Namun kalian jangan membicarakan tentang ini kepada Derent ya."
"Baiklah, kami mengerti." Rekannya setuju.
Alasan Redes melakukan itu adalah karena jika seorang Aryan membawa barang yang banyak saat kembali dari misi, barang itu akan dianggap sebagai rampasan perang, sehingga diharuskan melaporkan terlebih dahulu kepada Derent, yang nantinya barang itu akan disimpan di gudang desa sebagian, yang nantinya akan digunakan untuk kepentingan desa. Dan sebagian yang lainnya, akan diberikan kepada Aryan yang menemukannya. Sedangkan yang terjadi kepada Redes dan yang lainnya, mereka bukan mendapatkan barang itu seperti barang yang didapatkan dari musuh ( rampasan perang ), tapi mereka mendapatkan barang itu karena amanah seseorang, jadi mereka akan memberikan barang itu kepada anggota keluarga yang memberikan amanah itu.
Kemudian mereka pun memakamkan jenazah dari Jiose dan Dessy. Setelah selesai memakamkan Jiose dan Dessy, mereka langsung pergi ke desa Dayan untuk mencari putra dari Jiose dan Dessy. Hingga akhirnya mereka pun menemukan rumah yang diduga adalah rumah dari kedua Putra dari Jiose dan Dessy.
Kemudian Redes mendekati rumah itu.
"Permisi." Redes mengetuk pintu.
Setelah itu pintu pun terbuka. Namun Redes dan yang lainnya sedikit terkejut, karena yang membuka pintu itu adalah seorang anak kecil berusia 10 tahun yang sedang menggendong bayi.
"Iya, ada apa?." Anak kecil itu menjawab.
"Apa kalian putra dari Jiose dan Dessy?."
"Betul kami adalah putranya. Apa kalian tahu orang tua kami? dimana mereka sekarang?." Anak kecil itu dengan penuh keingintahuan.
Mendengar itu, Redes bingung menjelaskan kenyataannya. Hingga akhirnya dia pun menjadi mau tidak mau menceritakan yang sebenarnya kepada anak kecil itu, yang karena kebenaran itu, anak kecil yang merupakan putra Jiose dan Dessy menjadi menangis sedih.
Anak kecil itu adalah Rouzen yang sedang menggendong Heiren. Redes dan yang lainnya sedikit terkejut, karena mereka beranggapan jika putra Jiose dan Dessy bukanlah seorang anak kecil dan juga bayi.
"Aku tidak menyangka jika putra mereka seorang anak kecil dan seorang bayi." Marin berbicara dari jauh.
Karena pada saat ini, hanya Redes yang berbicara dari dekat dengan Rouzen.
"Betul, aku juga mengira bahwa putra mereka adalah seseorang yang sudah bisa hidup sendiri, seperti usia mereka 15 tahun dan juga seorang anak kembar." Nilan memberikan pendapatnya juga.
__ADS_1