
Keesokan harinya setelah kenaikan kelas yang diterima Rouzen.
Pada saat ini Rouzen sudah berada di sebuah kelas yang tidak terlalu berbeda dari kelas sebelumnya. Di kelas ini juga, Rouzen satu kelas dengan Bufan. Kelas ini adalah kelas Adeg dari tingkatan Jandra.
Rouzen pun belajar dengan serius saat pembelajaran dimulai. Hingga beberapa saat kemudian, waktu pulang pun akhirnya tiba.
Pada saat Rouzen bersiap untuk pulang, Rouzen dihampiri oleh 3 orang teman sekelasnya.
“Hei, tunggu sebentar.” Salah satu dari tiga orang menyapa itu Rouzen yang hendak pulang.
“Ya?.” Rouzen yang sedikit bingung.
Kemudian 3 orang itu memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, namaku Harier Karty. Murid Adeg yang sudah berada di sini satu tahun.” Laki-laki dengan kulit putih berambut pendek berwarna merah memperkenalkan diri.
Kemudian orang bernama Karty itu memperkenalkan 2 rekannya yang lain.
“Dan ini adalah Neer Iyas dan Lin Huyan.” Karty sambil menunjuk 2 temannya. Laki-laki berkulit putih dengan rambut setengah panjang berwarna hitam ( Iyas ) dan laki-laki berkulit sawo matang dengan rambut sangat pendek berwarna hitam ( Huyan ).
Karty, Iyas dan Huyan adalah salah satu teman sekelas Rouzen yang sudah berada di kelas Adeg 1 tahun.
Setelah itu, giliran Rouzen yang memperkenalkan diri.
“Oh. Perkenalkan juga, namaku Neland Rouzen. Murid Adeg tahun pertama.”
Merasa sudah selesai, Rouzen pun bersiap untuk pulang. Namun Rouzen lagi-lagi dihentikan oleh mereka bertiga.
“Hei, mau kemana sih? aku belum selesai loh.” Karty berbicara dengan nada yang sedikit sombong.
Merasa terus dihentikan, Rouzen pun membalas dengan serius.
“Terus apa yang kalian inginkan dariku?.”
Melihat ekspresi dari Rouzen yang sepertinya sudah kesal, Karty pun langsung menjelaskan alasannya.
“Aku dengar kamu berhasil membuat Bufan terpojok ya?.” Karty bertanya.
“Itu hanya kebetulan.” Rouzen menjawab dengan dingin.
“Oh, kamu ini suka merendah ya. Tapi aku dengar dari Bufan bahwa kemampuan Talismu itu sangat bagus ya?.”
“Entahlah.”
__ADS_1
Mendengar jawaban Rouzen yang dingin dan acuh tak acuh, Karty merasa tersinggung.
“Hei, apa seperti itu cara kamu berbicara dengan orang yang lebih tua darimu?.”
“Sudah kukatakan sebelumnya, apa yang sebenarnya kalian inginkan?.” Rouzen menjawab.
“Aku sangat penasaran dengan kemampuan Talismu, jadi apakah kamu bersedia bertarung denganku? memakai kemampuan Talis tentunya.”
“Untuk apa? buang-buang waktu saja.”
Karena jawaban itu, mereka bertiga pun jadi sangat kesal kepada Rouzen. Namun mereka mencoba untuk setenang mungkin.
“Aku tahu itu. Tapi anggap saja sebagai latihan, bagaimana?.”
Setelah itu, Rouzen pun berpikir dan akhirnya dia setuju.
“Latihan? entah itu benar atau tidak, aku tidak peduli. Tapi aku terima tantanganmu.”
Di kelas yang pada saat ini sudah kosong, karena murid yang lainnya sudah pulang, mereka berdua bertarung di kelas itu.
“Apa kamu sudah siap?.” Karty bertanya dengan menyeringai.
“Lakukan saja.” Rouzen sudah siap.
Setelah itu Karty langsung meluncurkan pukulan ke arah wajah Rouzen. Namun Rouzen tidak sesederhana itu, karena dia bisa dengan mudah menghindarinya. Bahkan setelah menghindar, Rouzen segera melakukan serangan balik dengan tendangan. Dan pertarungan antara mereka berdua pun menjadi sangat sengit. Jual beli serangan terus terjadi. Dan hingga saat ini, Rouzen lebih mendominasi dalam pertarungan, yang membuat Karty sedikit kewalahan dengan itu.
Setelah itu, Karty pun melanjutkan. Pertarungan mereka pun kembali terjadi dan sama seperti sebelumnya. Namun pada saat Rouzen sedang fokus kepada Karty yang saat ini bertarung dengannya, tiba-tiba sebuah sebuah kursi melayang ke arah dirinya.
“Argh…” Rouzen terkena lemparan kursi.
Karena itu, Kepala Rouzen pun menjadi bercucuran darah. Kemudian dia melihat ke arah 2 orang itu, dan ternyata Iyas lah yang melempar kursi itu. Karena pada saat Rouzen melihat ke arah mereka berdua, Iyas lah yang masih berposisi seperti sudah melempar.
“Hahaha….” Rouzen tertawa.
Melihat itu, mereka bertiga menjadi ketakutan.
“A-ada apa denganmu?.” Karty bertanya dengan sedikit ketakutan.
“Apakah ini yang kamu bicarakan ‘orang lebih tua’? aku tidak menyangka, ternyata orang yang lebih tua dariku bisa sepengecut ini.” Rouzen menjawab.
Mereka bertiga pun menjadi kesal sekarang, karena mereka disebut pengecut.
“Jaga bicara mu. Apa kamu ti…” Karty belum selesai berbicara karena terkena serangan dari Rouzen.
__ADS_1
Pada saat Karty asik berbicara, Rouzen langsung melemparkan kursi yang dilemparkan oleh Iyas, ke arah Karty.
“Argh… sialan.” Karty bercucuran darah dari kepalanya.
“Aku tidak akan melakukan itu, jika kalian tidak melakukan itu kepadaku.” Rouzen berbicara.
Pada saat itu juga, Iyas dan Huyan menyerang Rouzen bersamaan. Namun sayangnya, kemampuan Rouzen berada diatas mereka berdua, sehingga Rouzen bisa menggagalkan serangan mereka berdua, bahkan sekarang mengalahkan mereka berdua. Dengan kejadian itu, akhirnya mereka bertiga pun berhasil dikalahkan oleh Rouzen.
“Apa sudah puas? Seperti yang kalian katakan, ini hanyalah latihan.” Rouzen berbicara kepada mereka bertiga.
Namun Karty tidak memperdulikan itu, dia malah menghina Rouzen.
“Dasar orang luar yatim-piatu.”
Mendengar itu, Rouzen menjadi sangat marah.
“Apa kamu bilang?.”
Melihat Rouzen yang marah, Karty pun menjadi sengaja mengompori Rouzen.
“Iya, kamu adalah orang luar yatim-piatu. Walaupun kamu kuat, tapi kalau yatim-piatu untuk apa? aku hanya berpikir, kenapa kamu bisa kuat padahal orang tuamu itu lemah. Karena kalau orang tuamu kuat, kamu pasti tidak akan menjadi yatim-piatu.” Karty sambil menyeringai.
Rouzen semakin marah karena perkataan Karty itu.
“Tahu apa kamu tentang orang tuaku heh?.” Rouzen sambil mengeluarkan sihir api di tangannya.
Karty yang melihat itu menjadi sangat ketakutan dan tidak menyangka jika Rouzen akan mengeluarkan sihir.
“H-hei apa yang kamu lakukan? apa kamu tidak tahu, menggunakan sihir di akademi itu dilarang?.” Karty sangat ketakutan.
“Harga diriku dan akademi tidak bisa dibandingkan dengan harga diri orang tuaku. Jadi aku tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan akademi karena perbuatanku ini. Tapi yang pasti, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, karena kamu sudah menghina orang tuaku.” Rouzen sambil mengangkat tangan dan siap melemparkan sihir apinya.
“T-tidak jangan… aku minta maaf.” Karty menangis ketakutan.
Pada saat Rouzen sudah hampir melemparkan sihir apinya, tiba-tiba dia ditabrak sambil dipeluk oleh seseorang, yang menyebabkan Rouzen menjadi gagal melemparkan sihirnya, dan bahkan sekarang Rouzen menjadi tersungkur ke bawah bersama dengan orang yang menabraknya itu.
Dan orang yang menabraknya itu adalah seorang murid wanita yang berada di kelas Adeg atau teman sekelas Rouzen saat ini.
“Jangan lakukan itu.” Murid wanita itu berpesan kepada Rouzen.
“Oke, tapi…” Rouzen sambil melihat ke arah tubuhnya yang sedang ditindih oleh murid wanita itu.
Situasi saat ini, Rouzen terjatuh ke lantai sambil terlentang, dan tertindih oleh murid wanita itu. Karena itu mereka pun menjadi saling bertatapan saat terjatuh bersama, yang membuat situasi saat ini menjadi cukup canggung.
__ADS_1
Merasa canggung dengan situasi yang dialaminya, murid wanita itu segera berdiri dan menjauh dari Rouzen dengan pipi yang memerah.
“M-maaf.” Wanita itu berbicara kepada Rouzen dengan memalingkan wajahnya karena malu.