Perjalanan Si Jenius Gagal

Perjalanan Si Jenius Gagal
10. Teman baru?


__ADS_3

Rouzen panik, saat jurus Bufan itu mengarah kepadanya. Tapi bukan hanya dia yang panik, Hervy dan Zhuge pun sama paniknya.


Jurus itu akhirnya mengenai Rouzen.


"Sialan aku terlambat." Zhuge merasa bersalah.


"Rouzen…" Hervy sedih. 


Sedangkan untuk Bufan dan Lowis.


"Hahaha… rasakan itu." Bufan puas.


"Itulah akibatnya jika kamu membuat masalah denganku." Lowis sama puasnya seperti Bufan.


Zhuge yang mendengar perkataan Bufan dan Lowis menjadi marah.


"Hei kalian, apa kalian sadar apa yang sudah kalian lakukan?."


Namun ternyata, Bufan dan Lowis baru menyadari bahwa Zhuge ada di sini, sehingga mereka berdua pun menjadi ketakutan.


"Guru?..." Bufan ketakutan.


"It..itu semua karena dia yang memulainya." Lowis mengeluarkan alibinya.


Namun Zhuge masih tetap marah kepada mereka berdua.


"Untuk itu, nanti saja menjelaskannya. Yang ingin aku tahu adalah apa tindakanmu itu tidak keterlaluan, Bufan? Kamu tahukan jika menyerang sesama murid dengan Tiser tanpa izin guru pembimbing itu dilarang?."


"..." Bufan hanya diam dan menyadarinya.


"Jadi setelah ini kalian ikut denganku. Aku akan memberikan dan mempertimbangkan hukuman untuk kalian." Zhuge berbicara dengan serius.


Mendengar itu, mereka berdua ketakutan.


"Jangan lakukan itu guru, aku sungguh minta maaf." Bufan memohon.


"Iya guru, aku juga minta maaf." Lowis memohon.


"Sekarang sudah terlambat, khususnya kamu Bufan, karena kamu sudah jelas terlihat olehku melanggar aturan akademi. Dan untuk Lowis, aku harus menunggu penjelasan secara rinci terlebih dahulu."


Mendengar itu, mereka berdua hanya bisa terpaksa setuju dengan Zhuge.


Kemudian mereka semua menatap ke arah Rouzen yang tertutup debu tebal akibat jurus Bufan.


Pada saat debu itu lama kelamaan mulai menghilang.


"Itu…Tidak mungkin." Bufan tidak percaya.


Ekspresi yang lainnya pun sama seperti Bufan.


Saat Debu itu sudah hilang sepenuhnya.


"Eh, apa ini? Apa aku sudah mati?." Rouzen sambil perlahan membuka matanya yang sebelumnya tertutup karena ketakutan.


Kemudian Rouzen melihat orang di sekitarnya, terutama Bufan. Dia melihat Bufan seperti tidak percaya bahwa dirinya baik-baik saja.


"Hahaha… ada apa dengan ekspresimu itu? Tapi aku ketakutan loh sebelumnya karena jurusmu itu. Eh tapi ternyata, jurusmu itu hanya membuatku sedikit kedinginan." Rouzen sedikit sarkas kepada Bufan.


"Kamu… apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa menggagalkan jurusku itu?." Bufan masih tidak percaya.


"Apa yang kamu bicarakan? Sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa, hanya saja jurusmu itu tidak bisa dikendalikan dengan benar olehmu, sehingga seperti inilah hasilnya."


Mendengar itu, Bufan menjadi malu.


Kemudian Zhuge memotong percakapan mereka.


"Ehm ehm." Zhuge berpura-pura batuk.


Sikap Rouzen yang sebelumnya puas dengan ekspresi Bufan, sekarang menjadi sedikit bersalah.


"Kamu tidak apa-apa Rouzen?." Zhuge bertanya serius.


"Iya guru, aku tidak apa-apa." Rouzen dengan ekspresi bersalah.


"Syukurlah. Kalau begitu kalian semua ikut bersamaku." 


Kemudian Rouzen, Hervy, Bufan dan Lowis menyetujuinya dan mengikuti Zhuge.


Di perjalanan, Hervy dan Rouzen mengobrol.


"Kamu benar-benar tidak apa-apa?." Hervy yang masih khawatir, bertanya kepada Rouzen.


"Iya, aku benar-benar tidak apa-apa kok." Rouzen menjawab.


"Terima Kasih sudah membelaku. Padahal kamu tidak seharusnya melakukan itu."

__ADS_1


"Bicara apa kamu ini. Aku sudah menganggapmu sebagai temanku, jadi aku tidak bisa diam saja kalau temanku diperlakukan tidak adil."


Mendengar itu, Hervy terharu.


"Kamu… Tapi kenapa kamu ingin sekali berteman denganku?." Hervy dengan mata yang berkaca-kaca.


Kemudian Rouzen pun menjelaskan alasannya.


"Sebenarnya kamu dan aku itu memiliki nasib yang sedikit sama. Kamu dan aku sama-sama yatim-piatu, sama-sama tidak memiliki banyak teman dan juga sama-sama membutuhkan sosok pendukung dalam hidup. Oleh karena itu aku ingin berteman denganmu dan juga membantumu belajar."


"Begitu ya, maaf aku sudah salah sangka kepadamu sebelumnya." Hervy sedikit bersalah.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok."


"Kalau begitu, apakah kamu masih ingin berteman denganku sekarang?."


"Tidak, aku tidak ingin lagi berteman denganmu, karena berkatmu aku hampir saja terluka parah."


Mendengar itu, Hervy kecewa.


"Begitu ya, baiklah aku mengerti."


Melihat ekspresi Hervy, Rouzen tersenyum.


"Tidaklah, aku hanya bercanda. Ternyata kamu juga bisa berekspresi seperti itu ya?."


Mendengar itu, Hervy lega dan menghela nafas.


"Hah… kamu ini. Aku juga tidak menyangka jika kamu memiliki sikap yang seperti itu. Aku kira kamu ini pendiam, eh ternyata kamu ini suka mempermainkan orang."


"Begitukah? Maaf maaf." 


Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.


Beberapa saat kemudian, mereka semua akhirnya sampai di ruangan Zhuge.


"Jadi, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi." Zhuge bertanya dengan serius.


Kemudian Hervy menjelaskan.


"Lowis yang memulainya terlebih dahulu guru, dia terus-menerus mengangguku. Awalnya aku tidak main tangan pada saat dia menggangguku, namun pada saat dia berkata dan menghinaku yatim-piatu, aku menjadi sangat marah, hingga akhirnya aku memukul dia dan bertengkar dengannya. Pada pertengkaran itu, aku yang memenangkannya, namun tidak disangka, dia malah mengadu kepada kakaknya. Dan kemudian seperti yang guru lihat, kakaknya itu sama-sama seperti dia, bahkan kakaknya itu tidak mendengarkan penjelasanku sama sekali, kakaknya itu malah membela adiknya walaupun adiknya salah."


"Begitukah?." 


Kemudian Hervy mengangguk.


"Itu bohong guru, dia berusaha menipumu."


Sudah kesal dengan kelakuan dan alibi Lowis, Rouzen akhirnya berbicara.


"Berhentilah mengeluarkan alibimu." Rouzen menatap Lowis dengan tajam.


Lowis yang melihat tatapan Rouzen, menjadi tidak membalas perkataan Rouzen, bahkan sekarang dia menjadi ketakutan kepada Rouzen.


Kemudian Rouzen melanjutkan.


"Apa yang dikatakan oleh Hervy benar adanya guru, aku mendengarnya sendiri."


"Terus kenapa kamu bisa bertarung melawan Bufan?." Zhuge bertanya kepada Rouzen.


"Seperti yang Hervy katakan sebelumnya, Bufan tidak peduli dengan penjelasan dari Hervy, bahkan dia hendak menyerang Hervy, walaupun mungkin dia tahu kalau yang memulai itu adalah adiknya. Oleh karena itu, aku yang tidak suka kalau temanku diperlakukan tidak adil, menjadi membantunya."


"Begitu ya." Zhuge mengerti.


Kemudian Zhuge menatap ke arah Bufan.


"Apakah yang dikatakannya benar?." Zhuge bertanya kepada Bufan.


"Itu benar guru." Bufan mengakuinya.


Pada saat percakapan semua yang ada di sini dimulai, Bufan sudah dari awal menyadari dirinya bersalah, sehingga dia tidak banyak berbicara.


Kemudian Zhuge melanjutkan.


"Karena akar permasalahannya sudah ditemukan, jadi aku akan memberikan kalian berdua hukuman. Untuk Bufan, kamu diskors 1 minggu dari akademi, sedangkan Lowis, kamu diskors 3 hari di akademi. Tapi kalian masih bisa terbebas dari hukuman itu kok. Dan itu semua tergantung kepada Rouzen dan Hervy."


Mendengar itu, Bufan dan Lowis tidak berusaha membujuk Rouzen dan Hervy untuk membebaskannya, mereka bahkan hanya menatap ke bawah seolah sudah menyadari bahwa dirinya bersalah.


Rouzen yang melihat itu akhirnya memutuskan untuk membebaskan mereka berdua dari hukuman Zhuge.


"Aku memutuskan untuk membebaskan mereka berdua." Rouzen berbicara.


Mendengar itu, semua orang yang ada disana terkejut.


"Rouzen, kenapa kamu membebaskan mereka?. Hervy terkejut.

__ADS_1


Kemudian giliran Zhuge yang bertanya.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?."


"Iya aku yakin. Aku hanyalah seorang yang berasal dari luar, jadi aku tidak berniat memperbanyak musuh di sini, bahkan aku juga ingin memiliki banyak teman disini. Dan juga aku tidak tahu sih apa mereka berdua itu serius atau tidak, tapi kalau dilihat dari ekspresi mereka berdua, sepertinya mereka berdua sudah menyadari kesalahannya." Rouzen sambil menatap kakak beradik itu.


Kemudian Zhuge pun sama menatap mereka berdua.


"Apakah itu benar?."


Mereka berdua pun mengangguk.


"Iya, kami sadar bahwa kami salah." Bufan berbicara dengan ekspresi bersalah.


Kemudian Zhuge menatap ke arah Hervy.


"Terus bagaimana keputusanmu?."


Awalnya Hervy sedikit ragu untuk membebaskan mereka, tapi akhirnya dia pun menyetujuinya.


"Eh itu… ya sudahlah, aku juga membebaskan mereka, dengan catatan mereka tidak mengulangi perbuatannya itu."


Zhuge kembali menatap Bufan dan Lowis.


"Kalian sudah dengarkan?."


Mereka berdua mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu kalian bebas hukuman kali ini, tapi kalian jangan mengulanginya lagi ya." Zhuge berbicara kepada mereka berdua.


"Baik kami mengerti. Dan terima kasih."


"Ya sudah, kalian boleh pulang sekarang."


Setelah itu, mereka berempat pun pergi meninggalkan kan ruangan Zhuge dan pulang ke rumahnya masing-masing.


Pada saat di luar ruangan Zhuge, Bufan dan Lowis meminta maaf kepada Rouzen dan Hervy.


"Terimakasih karena sudah membebaskan kami. Dan maaf juga atas perbuatan kami sebelumnya." Bufan dengan penuh kesungguhan.


"Iya." Hervy berbicara dengan terpaksa.


"Tidak masalah aku mengerti kok, kamu berbuat seperti itu karena peduli kepada adikmu. Namun kamu juga harus bersikap adil, karena walaupun dia adikmu, kalau dia berbuat salah ya harus ditetapkan bersalah, jangan malah membela nya." Rouzen berbicara.


"Iya, aku mengerti." Bufan menerima pendapat Rouzen.


"Aku juga memiliki seorang adik, dan aku juga sangat menyayanginya. Namun jika nantinya adikku berbuat salah, aku akan tetap menganggap dia bersalah, walaupun mungkin dia akan mengira bahwa aku tidak peduli kepadanya. Tapi itu semua dilakukan agar dia bisa menjadi orang yang lebih bijak dan tidak manja, karena biasanya selain ayah atau ibunya, seorang adik itu akan menjadikan kakaknya sebagai tolak ukurnya." Rouzen melanjutkan.


Mendengar itu, Bufan sangat kagum dengan Rouzen.


"Begitu ya, sungguh pemikiran yang sangat bagus. Aku tidak mengira jika perkataan seperti itu akan keluar dari murid kelas Bubuka."


Kemudian Rouzen hanya membalas perkataan Bufan dengan tersenyum.


"Dan kemampuanmu bertarung juga sangat bagus, khususnya kemampuan Talismu itu. Aku yang seorang murid kelas Jandra sedikit malu karena kemampuan Talisku kalah denganmu." Bufan sambil tersenyum malu.


"Kamu terlalu berlebihan. Setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing, jadi kamu juga pasti memiliki keunggulannya tersendiri."


Setelah itu, Bufan meminta Rouzen untuk menjadi teman adiknya.


"Begitu ya. Apakah kamu tidak keberatan jika adikku menjadi temanmu? Atau adikku belajar bersama mu?."


"Tidak, aku tidak keberatan dengan itu. Tapi apakah adikmu mau?."


Kemudian Bufan menatap Lowis.


"Apakah kamu bersedia? Karena aku berharap kamu bisa menjadi lebih baik lagi jika belajar bersama nya."


"Iya aku bersedia." Lowis setuju.


Kemudian Bufan menatap Rouzen lagi.


"Kamu sudah dengarkan?."


"Iya aku dengar. Kalau kamu setuju ya, oke-oke saja, karena kamu juga tahu kan, kalau aku ini orang yang baru di desa ini, jadi jika mendapatkan banyak kenalan, itu akan sangat membantuku." Rouzen menjawab sambil tersenyum.


"Iya." Lowis berbicara.


"Kalau begitu, mohon bantuannya." Bufan berbicara.


Setelah itu, mereka pun pulang kerumahnya masing-masing.



Di ruangan Zhuge.

__ADS_1


Zhuge ternyata diam-diam mendengarkan obrolan mereka.


"Rouzen. Sungguh anak yang menarik, bisa menjadikan lawan menjadi kawan. Dan kemampuannya juga sangat bagus, bahkan walaupun dia masih belum bisa mengendalikan Tiser, dia bisa mengalahkan seorang murid dari kelas Jandra, yang pada tingkatan itu seharusnya sudah bisa mengendalikan Tiser. Apakah dia akan menjadi seorang jenius di desa ini?." Zhuge kagum kepada Rouzen.


__ADS_2