Permintaan Terakhir Istriku

Permintaan Terakhir Istriku
Hanya Sesaat


__ADS_3

Chiko tidak bisa tenang saat dia dalam perjalanan kembali dari rumah orang tuanya, apa yang disampaikan oleh sang ayah benar-benar langsung mengenai hatinya.


Chiko tidak memperdulikan banyaknya panggilan masuk yang berasal dari Dinda. Saat ini, yang ada dalam pikiran Chiko hanya Humaira dan kedua putrinya.


Ini yang disampaikan oleh ayah Chiko...


Anakku, ingatlah jika kamu sudah menikah maka kamu bukan lagi lajang yang sendirian. Jika kamu bertingkah laku seakan-akan masih lajang maka kamu memang akan kembali menjadi lajang di hari kemudian.


Janganlah kamu menyakiti hati perempuan sang pujaan. Baik dengan ucapan maupun terlebih tindakan. Ingatlah luka hati akibat ucapan sama dalamnya dengan luka fisik akibat tindakan kekerasan. Dan jika terjadi luka-luka itu maka kamu sepanjang hidupmu tak akan termaafkan olehnya.


Jika kamu mulai bosan dan hendak meninggalkannya, ingatlah bagaimana dulu susahnya perjuanganmu untuk mendapatkannya.


Jangan banding-bandingkan dia dengan wanita lainnya karena belum tentu jika dihitung kebaikan wanita lainnya itu lebih banyak dari yang isterimu punya.


Ingatlah juga bahwa pernikahan itu tidak ada sekolahnya. Yang perlu dilakukan adalah menjalaninya. Ingatlah selalu janji pernikahan. Masa depan tak bisa diperkirakan. Mintalah Tuhan untuk selalu mendampingi kalian berdua sehingga selamat mengarungi bahtera sampai berdua pergi ke alam baka.


Chiko segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah saat dirinya sudah sampai dan memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang ada di depan rumahnya.


"Mas?" Humaira yang terkejut karena Chiko datang dan langsung memeluknya.


"Humaira, maafkan aku."


Humaira terkejut mendengar permintaan maaf yang baru saja terucap mulut Chiko.


Humaira melepas pelukannya dan menatap Chiko.


"Ada apa?"


"Maafkan aku, karena aku sudah bersikap cuek dan sedikit kasar kepada kamu akhir-akhir ini. Aku berjanji akan menciptakan maupun bahagia sebelum kita benar-benar berpisah."


Dieng !!


Humaira yang awalnya merasa bahagia setelah mendengar kata maaf terucap Chiko, seketika langsung lemas karena ternyata kebahagiaan yang dirasakan Humaira hanya sesaat.


Saat melihat kedatangan Chiko dan langsung memeluk dirinya, ditambah ucapan maaf yang sepertinya sangat tulus. Membuat Humaira mengira bahwa Chiko sudah mendapatkan hidayah dan pintu hatinya terbuka.


Humaira mengira bahwa kedatangannya yang secara tiba-tiba ini, adalah untuk mengatakan bahwa perceraian yang tidak akan pernah terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Ternyata oh ternyata...


"Mas, Aku pikir kamu datang ke sini dan langsung memelukku serta meminta maaf, karena kamu menyesali atas apa yang sudah kamu perbuat terhadap aku dan juga anak-anak."


"Ya, aku memang meminta maaf karena aku sudah banyak membuang waktu kebersamaan bersama dengan kamu dan juga anak-anak. Aku berjanji setelah ini aku akan memberikan kesan yang paling membahagiakan untuk kamu dan anak-anak."


"Tidak, aku pikir Mas datang dan mengucapkan maaf karena mas tidak ingin bercerai dengan aku."


"Haha, Tentu saja tidak. Walaupun aku akui bahwa aku masih sangat mencintai kamu dan anak-anak, tapi tidak ada yang lebih membuat aku bahagia selain bisa menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan Dinda."


Humaira langsung berbalik arah dan meninggalkan Chiko.


Ya, wanita mana yang tidak kecewa jika ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.


Humaira berpikir Chiko akan benar-benar tulus untuk memberikan kesan yang membahagiakan untuk dirinya dan anak-anak. Sayang nya itu hanya sementara.


"Oh ya, Bukankah ini sudah masuk jam pulang sekolah anak-anak? apakah kamu keberatan jika aku yang menjemput mereka?" tanya Chiko.


"Tentu saja, dan lihatlah betapa bahagianya mereka saat mengetahui bahwa sang ayah yang sudah lama tidak pernah menghabiskan akhir pekan bersama, datang untuk menjemput mereka."


Humaira melihat kepergian Ciko yang sama sekali tidak berniat untuk menghampirinya, dan melihat apakah Humaira merasa terluka atau tidak dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan, mengenai permintaan maaf karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama dengannya dan anak-anak.


Mas, selama satu bulan ini aku akan berusaha untuk mengembalikan kamu ke jalan yang benar. Semoga semesta merestui sebelum waktuku habis di kesempatan ini.


Chiko sudah berada di halaman sekolah kedua putrinya, Chiko sangat bersemangat dengan membawa dua boneka dan roti brownies kesukaan Almira dan Aisyah.


Kebetulan, TK dan Sd tempat di mana Almira dan Aisyah ke sekolah dekat. Sehingga baik Chiko atau Humaira bisa menjemput mereka sekaligus.


"Chiko..."


Chiko terkejut saat melihat Dinda tiba-tiba berada di hadapannya.


"Dinda, sedang apa kamu di sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepada kamu. Sedang apa kamu ke sini dan bukannya langsung pulang ke apartemen aku?"


"Dinda, bukankah kita sudah menghabiskan waktu selama seharian kemarin? sekarang biarkan aku untuk berada dan menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak."

__ADS_1


"Itu tidak ada dalam perjanjian kita, Bukankah kamu akan memulai persyaratan dan berkumpul bersama dengan anak-anak kamu besok? sementara sekarang masih belum terhitung masuk pada awal bulan yang baru."


"Dinda, ayolah jangan egois. Lagipula ini hanya sementara, setelah ini aku dan kamu bisa menghabiskan waktu berdua sepanjang hari. Kita bisa pergi kemanapun seperti yang selalu kamu inginkan."


"Ini tidak adil."


"Dinda, pergilah sebelum anak-anak melihat kehadiran kamu di sini."


"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu sudah mulai memperkenalkan anak-anak kepada aku? jadi ketika aku menjadi istri kamu dan menjadi Ibu sambung mereka. Mereka bisa mengenal aku dengan baik."


"Tidak, walaupun Humaira mengatakan bahwa dia memberikan hak asuh anak-anak kepada aku sepenuhnya. Tapi aku bukanlah laki-laki yang tega mengambil seluruh kebahagiaan dari wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan."


"Maksudnya?"


"Aku akan memberikan seluruh hak asuh anak-anak ke tangan Humaira, dan akan bertanggung jawab atas biaya hidup mereka sampai mereka lulus dari universitas."


Hmmm, lumayanlah jika nanti aku menikah dengan Chiko dan anak-anak tidak akan ikut dengan Chiko. Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan hati anak-anak Chiko dan menjadi Ibu yang baik.


"Baiklah aku akan pergi asal kamu janji bahwa setelah kamu menjalani persyaratan yang diajukan oleh istri kamu. Kamu tidak akan merubah keputusan kamu untuk bercerai darinya dan akan menikahi aku."


"Aku berjanji."


Dinda tersenyum kemudian memilih untuk segera pergi dari sana setelah mendengar lonceng berbunyi tanda anak-anak yang ada di sekolah akan segera keluar.


Almira dan Aisyah yang melihat bahwa Ayahnya ada di sana untuk menjemput mereka, tentu saja merasa sangat bahagia dan langsung berlari untuk memeluk ayahnya.


"Ayah, kami sangat merindukan ayah. Kenapa Ayah tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama dengan kami?" celetuk Aisyah.


"Maafkan Ayah, mulai sekarang Ayah berjanji akan menghabiskan waktu bersama dengan kalian."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2